Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Banten Byakala Galungan, Penyucian Diri Menjelang Kemenangan Dharma  

I Putu Mardika • Jumat, 5 Juni 2026 | 14:33 WIB
Penjor Galungan sebagai simbol kemenangan dharma atas adharma (ist)
Penjor Galungan sebagai simbol kemenangan dharma atas adharma (ist)

BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Galungan tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan), tetapi juga menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan penyucian diri melalui berbagai rangkaian upacara. 

Salah satu ritual yang memiliki kedudukan penting dalam rangkaian tersebut adalah Banten Byakala Galungan, sebuah upacara penyucian yang dilaksanakan pada hari Panampahan Galungan untuk menetralisasi pengaruh negatif yang diyakini muncul menjelang perayaan suci tersebut.

Dosen Upakara IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, menjelaskan bahwa pelaksanaan Byakala Galungan memiliki dasar yang kuat dalam berbagai lontar dan susastra Hindu Bali, seperti Tutur Sundarigama, Prakempa Bumi Jayakasunu, Usana Bali, dan Siwa Tatwa Purana.

Menurutnya, ritual ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi mengandung makna teologis dan filosofis yang mendalam tentang perjuangan manusia mengendalikan sifat-sifat negatif dalam dirinya.

“Byakala Galungan merupakan sarana penyucian diri yang bertujuan mengembalikan keseimbangan antara bhuwana alit dan bhuwana agung. Melalui ritual ini, umat Hindu diajak untuk meningkatkan kesadaran spiritual sekaligus mengendalikan berbagai kecenderungan negatif yang dapat menghalangi jalan Dharma,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam lontar Siwa Tatwa Purana disebutkan mengenai munculnya Kala Tiga Galungan, yaitu tiga kekuatan bhuta kala yang turun pada Wuku Dungulan. Ketiganya merupakan manifestasi kekuatan kosmis yang menguji keteguhan manusia dalam menjalankan ajaran Dharma.

Baca Juga: Badung Raih Terbaik I Nasional Regional Jawa–Bali, Bupati Adi Arnawa : Ini Bukti Kerja Kolaborasi Seluruh Pihak

Dalam lontar tersebut disebutkan “Tri dadya tunggal: Buddha, Kliwon, Dungulan. Dadyan ing Dewa 3, Bhuta 3, nga Sang Kala Teluning Dungulan.”

Yang berarti bahwa tiga unsur suci itu menyatu menjadi tiga dewa dan tiga bhuta yang dikenal sebagai Kala Tiga Dungulan.

Menurut Murniti, keberadaan Kala Tiga bukan untuk ditakuti, melainkan dipahami sebagai simbol ujian kehidupan yang senantiasa dihadapi manusia. “Bhuta Kala dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai berbagai sifat negatif seperti kemarahan, keserakahan, iri hati, kebencian, dan keinginan yang tidak terkendali. Jika manusia tidak mampu mengendalikan dirinya, maka sifat-sifat itulah yang akan menguasai kehidupan,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa berdasarkan Lontar Tutur Sundarigama, turunnya Kala Tiga dimulai pada hari Minggu Pahing Wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Panyekeban. Dalam lontar tersebut disebutkan:“Radite Pahing, turun Sanghyang Kala Tiga mandadi Bhuta Galungan.”

Artinya, pada hari Minggu Pahing turun Sanghyang Kala Tiga menjadi Bhuta Galungan.

Murniti menerangkan bahwa pada hari Panyekeban, umat Hindu diingatkan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Secara simbolis masyarakat melakukan kegiatan nyekeb atau mematangkan buah-buahan yang akan digunakan sebagai sarana upacara. Namun secara spiritual, hari tersebut mengajarkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai godaan yang dapat mengganggu ketenangan batin.

“Panyekeban sesungguhnya mengandung pesan agar manusia selalu menjaga kemurnian pikiran dan tidak mudah terpengaruh oleh konflik, pertengkaran, ataupun perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Dharma,” jelasnya.

Tahapan berikutnya adalah Panyajaan yang jatuh pada hari Senin Pon Wuku Dungulan. Pada hari ini diyakini turun Sang Bhuta Kala Dungulan. Menurut Murniti, kata Dungulan memiliki makna penaklukan atau penguasaan. Godaan yang muncul biasanya berupa kecenderungan untuk menekan, memaksa, atau merampas hak orang lain.

“Pada saat yang sama masyarakat sibuk membuat berbagai jenis jajan untuk sarana upacara. Aktivitas tersebut bukan hanya persiapan ritual, tetapi juga simbol pengendalian diri dan usaha manusia untuk menundukkan sifat-sifat negatif dalam dirinya,” katanya.

Sementara itu, puncak ujian spiritual terjadi pada hari Panampahan Galungan, Selasa Wage Wuku Dungulan, ketika turun Sang Bhuta Kala Amangkurat. Dalam pengertian simbolis, Amangkurat berarti menguasai dunia atau mengendalikan kehidupan manusia.

Baca Juga: Bawaslu Buleleng Temukan Sejumlah Data Pemilih Perlu Perbaikan

Dr. Murniti menjelaskan bahwa pada tahap ini manusia diuji melalui berbagai kecenderungan untuk melanggar norma agama, etika, dan hukum. Karena itu, umat Hindu melakukan berbagai ritual penyucian sebagai bentuk pengendalian diri sekaligus permohonan perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Makna Panampahan bukan semata-mata memotong hewan untuk keperluan upacara. Yang lebih penting adalah menaklukkan dan menyucikan kekuatan negatif yang ada dalam diri manusia sehingga kembali kepada hakikat kesuciannya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa konsep tersebut sejalan dengan ajaran Bhagavad Gita yang menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai jalan menuju kebijaksanaan.

Dalam Bhagavad Gita III.43 disebutkan:“Evam buddheh param buddhva samstabhyatmanam atmana, jahi satrum maha-baho kama-rupam durasadam.”

Yang berarti:“Setelah mengetahui bahwa diri sejati lebih tinggi daripada kecerdasan, maka teguhkanlah dirimu dengan kekuatan rohani dan kalahkanlah musuh berupa nafsu keinginan yang sangat sulit ditaklukkan.”

Menurut Murniti, sloka tersebut sangat relevan dengan makna Byakala Galungan karena menegaskan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah kekuatan di luar dirinya, melainkan hawa nafsu dan sifat-sifat negatif yang bersemayam dalam batin.

Dalam praktiknya, penyucian diri dilakukan melalui pelaksanaan upacara Byakala yang dilengkapi berbagai sarana upakara seperti sasayut sapulara, sasayut gering melaradan, sidi, kekeb, serta berbagai unsur pabersihan. Setiap komponen memiliki simbolisme tersendiri yang berkaitan dengan pembersihan lahir dan batin.

Murniti menjelaskan bahwa penggunaan kekeb dalam upacara Byakala melambangkan perlindungan diri dari pengaruh buruk. Sementara sidi atau ayakan bermakna keberhasilan, yang mencerminkan harapan agar manusia mampu mencapai kehidupan yang harmonis dan sejahtera.

“Makna simbolik ini menunjukkan bahwa upacara Hindu tidak pernah sekadar ritual formal. Setiap sarana mengandung ajaran filosofis yang mengarahkan manusia untuk hidup lebih baik dan lebih bijaksana,” ujarnya.

Pelaksanaan Byakala Galungan juga berkaitan erat dengan konsep keseimbangan kosmis antara bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri manusia). Oleh karena itu, ritual ini biasanya dilengkapi dengan upacara Bhuta Yajña berupa segehan atau caru yang dihaturkan di halaman sanggah, pekarangan rumah, dan pintu masuk rumah.

Dalam Tutur Sundarigama disebutkan:“Hana caru ring sakuwu-kuwu kunang sega warna tiga sinasah tandingannya manut hurip...”

Baca Juga: Penarukan Jadi Pilot Project Digitalisasi Bansos di Buleleng, 94 KPM Berhasil Terdaftar

Yang menjelaskan bahwa setiap rumah tangga dianjurkan melaksanakan caru dengan nasi tiga warna sebagai persembahan kepada Sang Bhuta Galungan.

Menurut Dr. Murniti, tujuan utama persembahan tersebut bukan untuk memuja kekuatan negatif, melainkan mengharmoniskan energi alam sehingga tercipta ketenteraman dan keseimbangan.

“Konsepnya adalah penyelarasan. Semua unsur kehidupan harus ditempatkan secara harmonis agar tidak menimbulkan kekacauan dalam kehidupan manusia maupun alam semesta,” jelasnya.

Di tengah perkembangan zaman modern, Murniti menilai bahwa makna Byakala Galungan tetap relevan. Ia melihat tantangan manusia saat ini tidak lagi hanya berupa ancaman fisik, melainkan juga tekanan psikologis, konflik sosial, konsumerisme, dan berbagai bentuk krisis moral.

“Kala Tiga pada masa kini bisa hadir dalam bentuk keserakahan, egoisme, hoaks, ujaran kebencian, hingga hilangnya kendali diri akibat perkembangan teknologi dan media sosial. Karena itu nilai-nilai yang terkandung dalam Byakala Galungan justru semakin penting untuk dipahami,” katanya.

Baca Juga: Pipa PAM Tirta Sanjiwani Pecah di Tebongkang, Pedagang Terdampak Diberi Ganti Rugi

Ia berharap umat Hindu tidak hanya melaksanakan ritual secara seremonial, tetapi juga mampu menghayati nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, Galungan benar-benar menjadi momentum kemenangan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

“Galungan bukan hanya kemenangan simbolik. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika manusia mampu menaklukkan sifat-sifat buruk dalam dirinya, menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta menghadirkan kedamaian bagi sesama dan lingkungan,” pungkas Wayan Murniti. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Beyakala #penjor #hindu bali #bhuta kala #galungan