Diklat ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan calon-calon sulinggih yang memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman mendalam sebelum memasuki tahapan aguron-guron hingga proses diksa. Program tersebut diharapkan mampu melahirkan sulinggih yang tidak hanya matang secara spiritual, tetapi juga memiliki kompetensi yang memadai dalam melayani umat.
Suasana pembukaan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Sejumlah tokoh agama, pemangku kepentingan, serta pengurus organisasi Warga Pande hadir untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan pendidikan yang dinilai penting bagi masa depan kesulinggihan di lingkungan Warga Pande.
Baca Juga: PWI Bali Perkuat Profesionalisme Wartawan, UKW dan Penataan Anggota Jadi Prioritas
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ida Sri Mpu Pande dari Griya Laplapan selaku Dharma Upapati, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Ketua PHDI Provinsi Bali, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ketua PHDI Kabupaten Gianyar, jajaran Pengurus MSWP Provinsi Bali/Pusat, Sabha dan Pasikian, pengurus MSWP kabupaten/kota se-Bali, panitia pelaksana, serta para peserta diklat.
Sebanyak 49 peserta mengikuti program pendidikan ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Bali maupun luar Bali yang memiliki komitmen untuk menempuh jalan kesulinggihan sebagai bentuk pengabdian kepada agama, umat, dan masyarakat.
Pembukaan diklat dilakukan secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali melalui prosesi simbolis menghunus keris. Prosesi tersebut memiliki makna mendalam sebagai simbol pembukaan wawasan, ketajaman berpikir, serta kesiapan peserta dalam menempuh perjalanan spiritual menuju kehidupan kesulinggihan.
Momen simbolis tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta dan undangan. Keris yang dihunus bukan sekadar simbol budaya, tetapi juga melambangkan keberanian dalam menapaki jalan dharma serta kesiapan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.
Ketua Bidang Agama MSWP Provinsi Bali/Pusat, Prof. Dr. I Made Surada, M.A., menjelaskan bahwa diklat ini dirancang sebagai fondasi awal bagi para calon sulinggih sebelum memasuki proses pembinaan yang lebih mendalam melalui tahapan aguron-guron.
Menurutnya, seorang calon sulinggih tidak cukup hanya memiliki semangat pengabdian, tetapi juga harus dibekali dengan pengetahuan keagamaan yang kuat, keterampilan praktik keagamaan, serta pemahaman terhadap nilai-nilai kesucian yang menjadi dasar kehidupan kesulinggihan.
“Melalui diklat ini diharapkan para calon sulinggih memiliki landasan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang memadai sehingga siap menjalani tahapan pembinaan berikutnya sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai kesulinggihan Warga Pande,” ujarnya.
Program pendidikan tersebut akan berlangsung selama 35 kali pertemuan. Kegiatan pembelajaran dijadwalkan setiap hari Sabtu dan Minggu sehingga memungkinkan peserta mengikuti proses pendidikan secara berkelanjutan dan terstruktur.
Materi yang diberikan mencakup pembelajaran teori dan praktik. Peserta akan mendapatkan berbagai pengetahuan dasar yang diperlukan dalam kehidupan kesulinggihan, mulai dari aspek tattwa, susila, upacara, hingga keterampilan praktik yang menjadi bagian penting dalam tugas dan pengabdian seorang sulinggih.
Semangat belajar yang ditunjukkan peserta mencerminkan kesungguhan mereka dalam mempersiapkan diri menempuh perjalanan spiritual yang tidak ringan. "Pendidikan ini menjadi tahap awal untuk membangun karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai calon pemimpin spiritual di tengah masyarakat, " imbuh Prof. Surada.