Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Daftar Rerahinan bagi Umat Hindu Bali di Bulan Juni 2026, Mulai dari Anggarkasih Julungwangi hingga Galungan dan Kuningan

I Putu Mardika • Kamis, 11 Juni 2026 | 20:04 WIB
Suasana di Pura Besakih, Karangasem
Suasana di Pura Besakih, Karangasem

BALIEXPRESS.ID-Bulan Juni 2026 menjadi salah satu periode yang paling sakral bagi umat Hindu di Bali. Sepanjang bulan ini berlangsung berbagai rerahinan penting yang berpuncak pada Hari Raya Galungan dan Kuningan. Rangkaian hari suci tersebut tidak hanya menjadi momentum persembahyangan, tetapi juga sarana penyucian diri, penguatan spiritual, dan pengingat akan kemenangan dharma melawan adharma.

Rangkaian rerahinan dimulai pada 2 Juni 2026 dengan Anggar Kasih Julungwangi atau yang dikenal pula sebagai Anggar Kasih Penguduhan. Hari ini menjadi awal persiapan menyambut Galungan melalui kegiatan pembersihan tempat-tempat suci, seperti pura keluarga, merajan, paibon, maupun pura umum. Pembersihan ini memiliki makna penyucian lingkungan sekaligus persiapan batin umat untuk menyambut hari-hari suci berikutnya.

Memasuki 11 Juni 2026, umat Hindu memperingati Sugihan Jawa yang juga disebut Parerebon. Dalam keyakinan masyarakat Bali, hari ini merupakan momentum turunnya para Dewa dan Bhatara ke dunia. Oleh karena itu umat menghaturkan pengeresikan dan canang raka di merajan atau paibon sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan.

Sehari kemudian, 12 Juni 2026, berlangsung Sugihan Bali yang berfokus pada penyucian manusia secara lahir dan batin. Pada hari ini umat memohon kerahayuan serta pembersihan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Bertepatan dengan itu juga dilaksanakan Kajeng Keliwon Uwudan, yang diyakini memiliki kekuatan spiritual untuk memohon perlindungan dan keseimbangan hidup.

Tahapan menjelang Galungan semakin intens pada 14 Juni 2026 dengan datangnya Hari Penyekeban yang bertepatan dengan Tilem. Penyekeban memiliki makna pengendalian diri. Umat diingatkan untuk lebih waspada terhadap berbagai godaan serta berusaha mengendalikan hawa nafsu dan pikiran negatif. Penyekeban menjadi simbol kemenangan manusia atas dirinya sendiri sebelum merayakan kemenangan dharma secara lebih luas pada Hari Raya Galungan.

Pada 15 Juni 2026, umat melaksanakan Penyajaan Galungan. Hari ini ditandai dengan persiapan berbagai sarana upacara yang akan digunakan saat Galungan. Selain menyiapkan banten dan sesajen, umat juga diajak untuk tetap mawas diri terhadap berbagai pengaruh negatif yang dalam tradisi Bali disebut sebagai pengaruh Sang Bhuta Dunggulan.

Baca Juga: Aryantha Sebut Penyertaan Modal Pemkab Badung Harus Bermanfaat Untuk Masyarakat

Selanjutnya pada 16 Juni 2026, umat Hindu merayakan Penampahan Galungan. Hari ini menjadi salah satu momen paling sibuk dalam rangkaian Galungan. Selain mempersiapkan berbagai kebutuhan upacara, masyarakat juga memasang penjor lengkap dengan hiasannya di depan rumah masing-masing. Penjor merupakan simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan rasa syukur kepada Tuhan atas segala anugerah kehidupan.

Pada sore hari menjelang malam, dilakukan pula upacara mabiakala di halaman rumah sebagai sarana menetralisasi pengaruh negatif yang diyakini muncul menjelang Galungan. Upacara ini bertujuan memohon keselamatan dan keharmonisan bagi seluruh anggota keluarga.

Puncak dari seluruh rangkaian tersebut jatuh pada 17 Juni 2026, yakni Hari Raya Galungan. Hari raya ini memperingati kemenangan dharma atau kebenaran melawan adharma atau keburukan. Umat Hindu melaksanakan persembahyangan di merajan, pura desa, hingga pura-pura kahyangan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala rahmat dan perlindungan yang diberikan.

Suasana Galungan ditandai dengan deretan penjor yang menghiasi jalan-jalan di seluruh Bali. Selain memperindah lingkungan, penjor juga menjadi simbol persembahan kepada Bhatara Mahadewa yang berstana di Gunung Agung.

Sehari setelah Galungan, yakni 18 Juni 2026, umat memperingati Manis Galungan. Pada hari ini dilaksanakan upacara nganyarin atau persembahan lanjutan di merajan dan sanggah kemulan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Hyang Kawitan. Banyak keluarga juga memanfaatkan hari ini untuk bersilaturahmi dan mengunjungi sanak saudara.

Rangkaian Galungan berlanjut pada 20 Juni 2026 dengan Pemaridan Guru, yang dipercaya sebagai waktu kembalinya para Dewa ke Sunyaloka setelah memberikan berkah kesejahteraan dan umur panjang kepada umat manusia. Pada hari ini umat menghaturkan rasa syukur sekaligus memohon kerahayuan dalam kehidupan.

Kemudian pada 21 Juni 2026 berlangsung Ulihan, yang menandai kembalinya para Bhatara ke kahyangan masing-masing. Umat menghaturkan canang raka dan berbagai persembahan sebagai tanda penghormatan atas anugerah yang telah diterima selama rangkaian Galungan.

Selanjutnya, 22 Juni 2026 diperingati sebagai Pemacekan Agung. Hari ini diisi dengan persembahyangan memohon keselamatan dan kesejahteraan. Pada waktu sandikala atau menjelang malam, umat juga menghaturkan segehan di halaman rumah sebagai simbol mengembalikan unsur-unsur negatif ke tempat asalnya sehingga kehidupan kembali harmonis.

Menjelang Kuningan, umat memperingati Buda Paing Kuningan pada 24 Juni 2026, yang dikenal sebagai hari pemujaan kepada Bhatara Wisnu sebagai pemelihara alam semesta.

Baca Juga: Surya Adnyani Mahayastra Hijaukan Gianyar, Serahkan 8.700 Bibit untuk Desa Peserta Lomba Telajakan

Persiapan menuju Kuningan dilanjutkan dengan Penampahan Kuningan pada 26 Juni 2026. Berbagai sarana upacara dipersiapkan untuk menyambut puncak hari suci tersebut.

Pada 27 Juni 2026, yang juga bertepatan dengan Kajeng Keliwon Enyitan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Hari raya ini dipercaya sebagai momentum para Dewa dan leluhur kembali ke alam suci setelah memberikan berkah kepada umat manusia. Persembahyangan Kuningan dilakukan hingga pukul 12.00 siang atau yang dikenal dengan istilah tajeg surya. Setelah waktu tersebut diyakini para Dewa kembali ke Suralaya.

Rangkaian rerahinan sepanjang Juni kemudian ditutup dengan Purnama pada 29 Juni 2026, yang menjadi momentum umat Hindu menghaturkan bhakti dan persembahan sebagai simbol penerangan, kesucian, dan penyempurnaan spiritual.

Rangkaian rerahinan sepanjang bulan Juni ini menunjukkan betapa kaya dan mendalamnya nilai-nilai spiritual dalam tradisi Hindu Bali. Setiap tahapan memiliki makna yang saling berkaitan, mulai dari penyucian lingkungan, penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, perayaan kemenangan dharma, hingga penghormatan kepada para Dewa dan leluhur.

Melalui rangkaian hari-hari suci tersebut, umat diajak untuk terus menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan sejahtera. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Bulan Juni #bali #hari raya galungan #hindu #kuningan