BALIEXPRESS.ID – Di tengah kekhawatiran semakin menjauhnya generasi muda dari seni tradisi, sekelompok seniman dari Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng justru membuktikan hal sebaliknya.
Melalui Sanggar Seni Werdhi Suara Banjar Dinas Unusan, Joged Bumbung khas Buleleng hadir dengan wajah segar tanpa meninggalkan akar budayanya.
Penampilan mereka sebagai Duta Kabupaten Buleleng pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 tidak sekadar menjadi bagian dari agenda tahunan kesenian.
Baca Juga: Krisis Guru dan Puluhan Sekolah Rusak, Jembrana Usulkan Sekolah Rakyat di Melaya
Lebih dari itu, penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi dapat terus hidup melalui proses pembaruan yang dilakukan secara hati-hati.
Penata Tabuh Sanggar Seni Werdhi Suara, Gede Nikolas Candra Wiadi, mengungkapkan persiapan menuju panggung PKB dimulai sejak April lalu setelah pihaknya ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk kembali menelusuri jejak Joged Bumbung Buleleng yang berkembang sekitar tahun 1960-an.
Baca Juga: Asyk! Angkutan Siswa Gratis Siap Beroperasi di Tabanan, Jangkauan Layanan Diperluas
Penggalian dilakukan bersama para seniman sepuh dan tokoh yang masih memahami karakter asli kesenian tersebut.
Hasilnya, berbagai unsur khas gaya Denbukit kembali dihadirkan, mulai dari gending hingga pola gerak yang dikenal lincah, komunikatif, dan sarat nuansa kegembiraan.
Baca Juga: Wamen ATR/Waka BPN dalam Raker Bersama DPR RI: Kawasan Hutan Harus Terintegrasi dengan Tata Ruang
“Yang ingin kami tampilkan bukan hanya pertunjukan, tetapi juga identitas Joged Bumbung Buleleng yang pernah berkembang kuat pada masanya,” ujar Nikolas, belum lama ini.
Upaya menghidupkan kembali bentuk lama itu tidak lantas membuat pertunjukan terjebak pada romantisme masa lalu.
Sanggar Seni Werdhi Suara justru mencoba menjembatani tradisi dengan selera generasi sekarang.
Salah satu yang menjadi perhatian penonton adalah hadirnya alat musik genggong dan mandolin kuno dalam komposisi tabuh.
Sentuhan tersebut memberi warna baru sekaligus menghadirkan suasana yang berbeda dari pertunjukan Joged Bumbung pada umumnya.
Menurut Nikolas, kreativitas merupakan kebutuhan agar seni tradisi tetap dekat dengan generasi muda.
Namun, inovasi yang dilakukan tidak boleh menghilangkan ruh dan identitas yang menjadi ciri khasnya.
“Berkembang itu penting, tetapi jangan sampai kehilangan akar. Justru dengan memahami tradisi, generasi muda bisa lebih leluasa berkreasi,” katanya.
Semangat itu juga tercermin dari para anggota sekaa yang sebagian besar merupakan pelajar, mahasiswa, dan pekerja.
Kesibukan mereka tidak menjadi penghalang untuk berkesenian. Sejak April, latihan rutin digelar setiap akhir pekan agar seluruh anggota tetap dapat berpartisipasi tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kehadiran generasi muda dalam proses kreatif tersebut menjadi modal penting bagi keberlangsungan Joged Bumbung di masa mendatang.
Regenerasi tidak hanya berbicara tentang meneruskan warisan, tetapi juga tentang kemampuan memberi makna baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. (*)
Editor : I Made Mertawan