BALIEXPRESS.ID-Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 kembali menjadi saksi kepiawaian para seniman Kota Denpasar. Dalam rangkaian jadwal PKB tahun ini, Sanggar Gita Bandana Praja (SGBP) kembali mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk mengisi Rekasadana (pergelaran) dalam ajang seni bergengsi tersebut.
Bertindak sebagai Duta Kota Denpasar, sanggar yang bermarkas di Jalan Gatotkaca, Banjar Belaluan Sadmerta, Denpasar ini siap mengobati kerinduan para pencinta seni budaya Bali. Mereka akan menyuguhkan pementasan yang sarat nilai historis dan estetika tinggi.
Berbeda dengan penampilan pada PKB sebelumnya yang kental dengan nuansa penyalonorangan, pada ajang PKB 2026 ini SGBP berkomitmen melestarikan warisan leluhur dengan membawakan karya-karya legendaris dari sang maestro seni Bali, mendiang I Wayan Berata. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan sekaligus ruang edukasi bagi generasi muda terhadap dedikasi luar biasa sang maestro dalam dunia karawitan dan tari Bali.
Pementasan dinamis ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa (30/6) pukul 18.00 WITA, bertempat di Kalangan Ayodya, Taman Budaya (Art Center) Denpasar.
Koordinator pementasan yang juga Ketua Sanggar, I Nyoman Djasa, mengatakan bahwa pementasan ini tidak semata-mata menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan untuk memuliakan sang maestro yang dikenal sebagai Mpu Karawitan Bali. Di tangan beliau, lahir karya-karya berupa tabuh gong kebyar dan tari Bali yang merupakan kreasi baru yang sangat visioner pada zamannya.
Sebagai guru di sekolah karawitan (dulu bernama KOKAR) dan dosen luar biasa di ISI Denpasar, Wayan Berata berhasil mencetak para komposer, pengrawit, seniman, bahkan profesor seni. Tak hanya itu, karya-karya yang diwariskannya kini menjadi acuan utama bagi para pengrawit dan komposer masa kini untuk melahirkan karya-karya baru.
Wayan Berata lahir dari keluarga seniman di Banjar Belaluan Sadmerta, Denpasar, dan mulai berkiprah sejak era Presiden Soekarno. Salah satu karya monumental sang Mpu yang diciptakan atas permintaan langsung Presiden Soekarno adalah tabuh berjudul "Gesuri" (Genta Suara Revolusi).
Nyoman Djasa mengungkapkan bahwa persiapan telah dilakukan secara intensif selama beberapa bulan terakhir. Menjadi representasi dari ibu kota provinsi membawa tanggung jawab besar untuk menampilkan performa yang maksimal dan berkarakter.
"Kami merasa terhormat kembali ditunjuk mewakili Kota Denpasar. Menampilkan karya-karya I Wayan Berata adalah tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi kami untuk menjaga keaslian taksu serta teknik tabuh maupun tari yang beliau wariskan," ucap pensiunan pegawai Pemkab Badung ini.
Untuk menyukseskan pementasan kali ini, SGBP didukung oleh sejumlah seniman dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang merupakan mantan anak didik langsung dari Wayan Berata.
"Pementasan ini juga menjadi ajang reuni bagi para pengrawit dan penari di Badung dan Denpasar, mengenang masa lalu saat Denpasar masih berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Badung," tambah Djasa.
Pementasan ini diprediksi akan menjadi salah satu magnet utama dalam rangkaian PKB pada hari Selasa. Kalangan Ayodya dipastikan dipadati penonton yang rindu akan mahakarya Wayan Berata, di antaranya tabuh Galang Kangin, tari Kupu-Kupu Tarum, dan fragmen tari Narakesuma.
Sebagai informasi, Sanggar Gita Bandana Praja didirikan pada era 1990-an dan telah mengantongi Pramanam Patram dari Listibya. Sebelumnya, sanggar ini juga pernah didaulat untuk mengisi pertunjukan kolosal "Puputan Badung" dalam rangkaian Hari Puputan Badung serta dramatari Penyalonorangan. (man)
Editor : Wiwin Meliana