BALIEXPRESS.ID-Di balik suara bersahutan yang riuh, tawa yang pecah di tengah pertunjukan, serta irama khas yang mengalun tanpa banyak alat musik, genjek menyimpan sejarah panjang tentang cara masyarakat Bali berkomunikasi melalui berkesenian.
Tradisi lisan yang tumbuh di Kabupaten Karangasem ini ternyata tidak sekadar menjadi hiburan rakyat, tetapi juga lahir dari semangat kebersamaan, menjadi ruang kritik sosial, hingga berkembang sebagai identitas budaya yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman.
Dosen Sosiologi IAHN Mpu Kuturan, Komang Agus Darmayoga Kantina, M.Sosio menjelaskan bahwa genjek sesungguhnya merupakan cermin kehidupan masyarakat Bali yang lahir secara alami dari interaksi sosial, bukan hasil ciptaan seorang seniman atau lembaga tertentu.
Berbeda dengan banyak kesenian tradisional yang memiliki pencipta maupun pakem yang jelas, asal-usul genjek justru tidak tercatat dalam dokumen tertulis. Tradisi ini tumbuh dari masyarakat, diwariskan dari mulut ke mulut, kemudian berkembang mengikuti dinamika kehidupan warga Karangasem. Karena itu, genjek terus berubah, namun tidak pernah kehilangan jati dirinya.
Menurutnya, terdapat hubungan erat antara genjek dengan tradisi megibung, budaya makan bersama yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Karangasem.
Pada masa itu, seusai makan bersama dalam satu wadah, para pengikut kerajaan biasa melontarkan gurauan, sindiran, maupun ungkapan kegembiraan secara spontan. Kalimat-kalimat itu kemudian dijawab oleh peserta lainnya dengan nada yang saling bersahutan hingga perlahan berkembang menjadi aktivitas yang dikenal sebagai megenjekan.
Baca Juga: Dompet Berisi Rp30 Juta Tertinggal di Alfamart Jembrana, Berhasil Kembali ke Pemilik
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa sejak awal genjek bukan dibangun sebagai pertunjukan, melainkan sebagai media komunikasi. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara.
Tidak ada pemain utama ataupun penonton yang hanya menjadi pendengar. Setiap orang dapat menyampaikan pengalaman, mengomentari keadaan sekitar, bahkan menyindir seseorang dengan cara yang jenaka tanpa menimbulkan pertengkaran.
Dalam perkembangannya, spontanitas itulah yang menjadi kekuatan utama genjek. Tidak seperti seni cepung yang menggunakan naskah Lontar Tutur Monyeh dan terikat pada pupuh tertentu, genjek tidak memiliki teks baku.
Para pemain bebas menciptakan lirik sesuai situasi yang sedang terjadi. Apa yang dilihat hari itu dapat langsung berubah menjadi syair, mulai dari kisah percintaan, persoalan ekonomi, kehidupan bertetangga, hingga isu politik dan pembangunan desa.
Kemampuan berimprovisasi tersebut membuat genjek menjadi media komunikasi publik yang sangat efektif jauh sebelum masyarakat mengenal media sosial. Kritik tidak disampaikan melalui kemarahan, melainkan dibungkus humor.
Nasihat tidak diberikan secara menggurui, tetapi hadir dalam bentuk candaan yang mengundang tawa. Justru karena disampaikan dengan ringan, pesan-pesan moral itu lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Ia menambahkan, selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat menganggap genjek identik dengan kebiasaan mabuk karena pertunjukannya sering diiringi minum tuak. Namun dalam pertunjukan tradisional, para pemain justru meminum tuak menggunakan satu gelas secara bergantian.
Dengan jumlah pemain yang bisa mencapai sekitar 30 orang, kesempatan untuk minum hanya sedikit. Cara tersebut bukan hanya mencegah pemain mabuk, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan dan kesetaraan.
“Yang sering mabuk justru orang-orang yang datang hanya untuk minum, bukan pemain genjek sesungguhnya,” katanya.
Transformasi genjek mulai terlihat kuat sejak dekade 1990-an. Jika sebelumnya hanya menjadi hiburan para pemuda di balai banjar atau halaman rumah dengan penerangan lampu minyak, genjek mulai memasuki ruang-ruang resmi.
Sekaa-sekaa genjek dibentuk secara lebih terorganisasi, kostum mulai digunakan, alat musik seperti kendang, rindik, suling, kecapi, reong, hingga cengceng melengkapi pertunjukan, bahkan tari joged ikut dikolaborasikan untuk memperkaya penyajian.
Perubahan tersebut tidak menghilangkan roh genjek sebagai seni rakyat. Sebaliknya, modernisasi justru memperluas ruang hidupnya. Genjek mulai tampil pada upacara adat, kegiatan pemerintahan, festival budaya, hingga menjadi hiburan di hotel dan restoran kawasan wisata Karangasem seperti Candidasa dan Amed.
Menariknya, fungsi sosial genjek tetap bertahan. Selain menghibur dalam pesta pernikahan, potong gigi, maupun perayaan keagamaan, beberapa kelompok genjek juga tampil pada acara kedukaan.
Lirik yang dibawakan disesuaikan dengan suasana untuk menghibur keluarga yang sedang berduka dan memberikan semangat kepada mereka yang ditinggalkan. Hal ini menunjukkan bahwa genjek tidak hanya hadir dalam suasana suka, tetapi juga menjadi media penguat solidaritas sosial ketika masyarakat menghadapi duka.
Di sisi lain, genjek juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa Bali. Karena seluruh lirik diciptakan secara spontan, para pemain dituntut memiliki penguasaan kosakata yang luas, kemampuan memilih diksi yang tepat, serta kecakapan memainkan irama bahasa.
Setiap pertunjukan melahirkan ungkapan-ungkapan baru yang memperkaya tradisi lisan Bali tanpa harus bergantung pada teks tertulis.
Baca Juga: Ratusan Warga Manfaatkan Call Center 110 Polres Tabanan, Didominasi Lalu Lintas
Kini, genjek telah melampaui batas Karangasem. Tradisi ini berkembang di berbagai daerah di Bali, bahkan ikut dibawa masyarakat Bali ke luar negeri sebagai bagian dari diplomasi budaya.
Pemerintah Kabupaten Karangasem juga terus memperkuat eksistensinya melalui festival dan parade genjek yang melibatkan ratusan pemain dari berbagai kecamatan.
Ia menambahkan, bahwa genjek bukan sekadar seni hiburan rakyat. Ia adalah arsip hidup masyarakat Bali yang merekam sejarah kebersamaan, kecerdasan berbahasa, ruang demokrasi rakyat, hingga cara masyarakat menyampaikan kritik tanpa menciptakan permusuhan.
“Genjek sesungguhnya sedang mengajarkan bahwa budaya dapat menjadi medium paling halus untuk merawat persaudaraan sekaligus mengingatkan masyarakat agar tetap berjalan di jalur yang benar,” pungkasnya. (dik)