BALIEXPRESS.ID-Pemujaan terhadap Ratu Gede Siwa di Pura Negara Gambur Anglayang, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, menjadi salah satu dresta yang terus dijaga masyarakat hingga kini. Tradisi tersebut merupakan wujud keyakinan umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui simbol palinggih sebagai media bhakti sekaligus pusat aktivitas religius masyarakat adat.
Penyarikan Pura Negara Gambur Anglayang, Nyoman Laken, menjelaskan bahwa pemujaan Ratu Gede Siwa berawal dari pengalaman spiritual para leluhur yang kemudian diwujudkan dengan mendirikan palinggih sebagai ungkapan rasa syukur. Seiring perjalanan waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi warisan yang diteruskan dari generasi ke generasi.
"Secara historis, pemujaan Ratu Gede Siwa berakar dari tradisi kaul leluhur yang memperoleh pengalaman religius. Dari sanalah dibangun palinggih sebagai bentuk rasa syukur, lalu berkembang menjadi keyakinan kolektif masyarakat yang terus diwariskan hingga sekarang," ujar Nyoman Laken.
Menurutnya, keberadaan Ratu Gede Siwa tidak hanya dipahami sebagai simbol pemujaan, tetapi juga simbol ajaran Siwa yang menjadi sumber keseimbangan alam semesta.
Baca Juga: Brownies Ketan Sidoarjo : Berawal dari Dapur Rumah, Kini Tembus Pasar Global
Selain memiliki makna teologis, pemujaan Ratu Gede Siwa juga memperkuat hubungan sosial masyarakat. Tradisi ngayah yang melibatkan seluruh krama desa menjadi bukti bahwa ritual keagamaan sekaligus menjadi ruang mempererat persaudaraan, gotong royong, dan menjaga identitas budaya desa adat.
"Melalui tradisi ngayah, seluruh masyarakat terlibat bersama. Pemujaan ini bukan hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperkokoh solidaritas sosial dan menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur," katanya.
Pelaksanaan pemujaan Ratu Gede Siwa berlangsung dalam dua bentuk, yakni piodalan alit dan piodalan agung yang disesuaikan dengan pertemuan Budha Wage Klau dan kalender sasih.
Padudusan Agung dilaksanakan ketika Budha Wage Klau bertepatan dengan Purnama Sasih Kalima.
Jika bertepatan dengan Tilem Sasih Kapitu pinanggal ganjil, upacara dilengkapi dengan menghaturkan pekelem godel ke segara.
Baca Juga: Peran Panca Suara dalam Upacara Yadnya, Simbol Satyam, Siwam dan Sundaram
Sementara itu, apabila Budha Wage Klau tidak bertepatan dengan purnama maupun tilem, piodalan hanya dilaksanakan sebagai pangeling.
“Sedangkan ketika Budha Wage Klau bertepatan dengan tilem tanpa sasih, upacara dilengkapi dengan prosesi munggah suci,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika