BALIEXPRESS.ID-Anak Suputra tentu menjadi harapan semua keluarga umat Hindu. Namun, memandang anak harus dilihat sebagai guru semesta, bukan memposisikan sebagai beban. Hal inipun menarik dikaji dalam perspektif Pustaka Hindu.
Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak untuk dicintai, didengar, dihargai, serta dibimbing dengan penuh kasih sayang. Pesan tersebut disampaikan Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd, yang mengajak seluruh orang tua mengubah paradigma dalam memandang anak.
Menurutnya, anak bukanlah milik orang tua, melainkan amanah suci yang dipercayakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada setiap keluarga.
Menurut Luh Irma Susanthi, selama ini banyak orang tua yang tanpa sadar lebih sibuk menuntut anak menjadi seperti yang mereka inginkan daripada berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Padahal, setiap anak memiliki keunikan, karakter, serta jalan hidup yang berbeda-beda.
"Sudah saatnya kita mengubah cara memandang anak. Bagaimana jika anak tidak hadir untuk mewujudkan impian orang tuanya? Bagaimana jika justru kitalah yang dipilih Tuhan untuk belajar melalui kehadiran mereka? Paradigma ini mungkin terdengar sederhana, tetapi mampu mengubah cara kita mendidik, mencintai, dan memperlakukan anak setiap hari. Anak bukanlah manusia yang 'belum jadi', melainkan pribadi utuh yang sedang bertumbuh. Mereka memiliki perasaan, cara berpikir, dan kebutuhan emosional yang harus dihormati," ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap anak lahir dengan membawa potensi yang berbeda. Karena itu, tidak tepat apabila orang tua memaksakan kehendak ataupun cita-cita yang belum tentu sesuai dengan kemampuan anak. Orang tua lebih tepat berperan sebagai pendamping yang membantu anak menemukan jati dirinya, bukan sebagai pengendali seluruh masa depannya.
Baca Juga: Harga Tanah Rp30 M, Biaya Perantara Dilaporkan Rp47 M, Ahli Akuntansi Ungkap Indikasi Fraud
Menurutnya, orang tua sering kali lupa bahwa proses mendidik bukan hanya mengubah perilaku anak, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri sendiri. Ketika anak menangis, banyak bertanya, atau bahkan menolak sesuatu, sesungguhnya mereka sedang mengajarkan kesabaran, empati, dan kemampuan mendengarkan kepada orang dewasa.
"Ketika seorang anak menangis, bukan berarti ia lemah. Ketika ia banyak bertanya, bukan berarti ia membangkang. Ketika ia menolak sesuatu, belum tentu ia tidak patuh. Bisa jadi, ia sedang mengajarkan kita untuk lebih sabar, lebih peka, dan lebih mau mendengarkan. Sayangnya, orang dewasa sering kali lebih sibuk berusaha mengubah anak daripada memperbaiki dirinya sendiri," jelasnya.
Luh Irma menilai, pendidikan karakter yang paling efektif bukan berasal dari ceramah ataupun nasihat panjang, melainkan dari keteladanan yang diberikan orang tua setiap hari. Anak belajar melalui apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di lingkungan keluarga.
"Kita ingin anak berlaku jujur, tetapi mereka melihat kebohongan kecil yang kita anggap biasa. Kita mengajarkan mereka menghormati orang lain, tetapi mereka menyaksikan bagaimana kita mudah merendahkan sesama. Kita berharap mereka mampu mengendalikan emosi, sementara mereka tumbuh di tengah kemarahan dan pertengkaran orang dewasa. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan terutama dari teladan. Karena itu, setiap anak sesungguhnya adalah cermin yang memantulkan nilai-nilai yang tumbuh di dalam keluarga," katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa eksploitasi anak tidak selalu berbentuk kekerasan fisik ataupun mempekerjakan anak di usia dini. Eksploitasi juga terjadi ketika anak kehilangan hak untuk bermain, beristirahat, belajar dengan gembira, hingga kehilangan kesempatan menyampaikan pendapat karena seluruh hidupnya diarahkan demi memenuhi kepentingan orang dewasa.
"Ada anak yang dipaksa menjadi pencari nafkah, ada yang dibebani target prestasi demi gengsi keluarga, bahkan ada yang tumbuh tanpa pernah diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Bentuk-bentuk seperti inilah yang sering tidak disadari sebagai eksploitasi," ungkapnya.
Dalam ajaran Hindu, setiap kehidupan merupakan perwujudan Atman, percikan suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang hadir dalam setiap kelahiran manusia. Oleh sebab itu, anak bukanlah milik orang tua yang dapat diperlakukan sesuka hati. Orang tua hanyalah guru rupaka, yaitu pendidik pertama yang diberikan kepercayaan untuk membimbing jiwa yang sedang bertumbuh menuju kehidupan yang baik.
Nilai tersebut telah lama diajarkan dalam kitab Nitisastra, khususnya pada Sloka 3.14 yang berbunyi:
ekenaapi suvrksena, puspitena sugandhitaa, vaasitam tadvanam sarvam, suputrena kulam yatha.
"Seluruh hutan menjadi harum baunya, karena terdapat sebuah pohon yang berbunga indah dan harum semerbak. Demikian pula halnya bila dalam keluarga terdapat putra yang suputra."
Menurut Luh Irma, sloka ini mengandung makna mendalam bahwa seorang anak yang memiliki karakter baik akan menjadi kebanggaan sekaligus mengharumkan nama keluarga. Namun, keberhasilan tersebut tidak lahir begitu saja, melainkan merupakan hasil dari pola pengasuhan yang penuh kasih, kesabaran, dan keteladanan.
Ia mengingatkan bahwa apabila orang tua gagal menjalankan tanggung jawab tersebut, maka yang tumbuh bukan lagi suputra, melainkan kuputra, yaitu anak yang kehilangan arah karena kurangnya pembinaan.
Hal tersebut ditegaskan kembali dalam Nitisastra Sloka 3.15, yang berbunyi:
"Seluruh hutan terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar. Begitulah seorang anak yang kuputra menghancurkan dan memberikan aib bagi seluruh keluarga."
Menurutnya, sloka tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan anak, melainkan menjadi pengingat bagi setiap orang tua agar tidak menyia-nyiakan kesempatan mendidik anak dengan penuh cinta. Sebab, keluarga merupakan sekolah pertama yang akan membentuk karakter seseorang sepanjang hidupnya.
Lebih jauh lagi, Luh Irma mengajak masyarakat merenungkan ajaran suci Bhagavad Gītā sebagai landasan membangun keluarga yang harmonis. Ia mengutip Bhagavad Gītā 6.5 yang berbunyi:
uddhared ātmanātmānaṁ nātmānam avasādayet
ātmaiva hyātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanaḥ
Artinya: "Hendaklah seseorang mengangkat dirinya sendiri dan tidak merendahkan dirinya, sebab diri sendirilah sahabat terbaik dan sekaligus musuh bagi dirinya."
Menurutnya, sloka tersebut mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Orang tua tidak dapat berharap memiliki anak yang baik apabila tidak terlebih dahulu menjadi pribadi yang baik. Oleh karena itu, anak sesungguhnya hadir sebagai cermin yang membantu orang tua melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas hidupnya.
Baca Juga: Maestro Dongeng Bali I Made Taro Tutup Usia
"Makna yang dapat dijadikan sebagai edukasi spiritual bahwa pada hakekatnya, anak sering menjadi cermin yang membantu orang tua memperbaiki diri. Ketika orang tua mau belajar dari anak, maka niscaya keluarga akan bertumbuh dalam kasih dan kebijaksanaan," tuturnya.
Ia kemudian mengibaratkan proses tumbuh kembang anak seperti alam yang selalu menghormati setiap tahapan kehidupan. Pohon tidak pernah memaksa buahnya matang sebelum waktunya. Matahari tidak pernah meminta balasan atas cahaya yang diberikannya. Sungai juga tidak pernah memaksa setiap batu mengikuti arah yang sama. Demikian pula anak, yang memerlukan ruang untuk berkembang sesuai bakat, karakter, dan potensi yang dimilikinya.
Bagi Luh Irma, keberhasilan orang tua tidak diukur dari banyaknya prestasi ataupun penghargaan yang diraih anak. Keberhasilan sejati justru terlihat ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, berempati, mampu menghargai sesama, serta memiliki karakter yang kuat.
"Anak yang merasa dicintai akan belajar mencintai. Anak yang dihargai akan belajar menghargai. Anak yang didengar akan belajar mendengarkan. Karena itu, sudah saatnya kita mengubah pertanyaan dalam hidup. Bukan lagi, 'Apa yang bisa diberikan anak untukku?' melainkan, 'Pelajaran apa yang sedang Tuhan titipkan kepadaku melalui anak ini?'" katanya.
Menurutnya, perubahan cara pandang tersebut akan menghapus anggapan bahwa anak merupakan beban ataupun investasi keluarga. Sebaliknya, anak akan dipahami sebagai anugerah yang membentuk karakter orang tua menjadi lebih sabar, lebih bijaksana, serta lebih penuh kasih.
"Ketika cara pandang itu berubah, anak tidak lagi diposisikan sebagai beban, investasi, atau alat untuk mewujudkan mimpi orang tua. Mereka adalah anugerah yang membentuk karakter kita menjadi lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih penuh kasih. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau terus belajar, memperbaiki diri, dan hadir dengan cinta yang tulus," tegasnya.
Di penghujung refleksinya, Luh Irma Susanthi menyampaikan ucapan Selamat Hari Anak Nasional kepada seluruh anak Indonesia. Ia berharap setiap anak memperoleh haknya untuk hidup, belajar, bermain, dan bertumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, serta mendapatkan perlindungan dari segala bentuk eksploitasi.
Baginya, setiap anak yang lahir ke dunia tidak hanya membawa masa depan bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi guru kehidupan bagi orang-orang yang mencintainya. Orang tualah yang sesungguhnya belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih sabar, dan lebih bijaksana melalui kehadiran anak-anak mereka.
"Selamat Hari Anak Nasional, semoga kelak semua anak dimuka bumi mendapatkan haknya untuk sebuah nilai kehidupan."pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika