BALIEXPRESS.ID-Ada suasana berbeda di Desa Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, saat memasuki wuku Dungulan. Di tengah rangkaian Hari Raya Galungan menuju Kuningan, masyarakat setempat memiliki tradisi sakral yang masih dipertahankan hingga sekarang. Tradisi tersebut dikenal dengan nama mabedag-bedagan.
Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan kesenian yang bisa dinikmati sebagai hiburan. Di balik gerak tari, tokoh-tokoh yang tampil, serta iringan gamelan gong, terdapat rangkaian makna yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, keharmonisan, persatuan, dan kemakmuran.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tradisi mabedag-bedagan pertama kali dilaksanakan di Desa Manukaya Let. Begitu pula siapa yang menjadi pelopor awalnya. Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dan lebih banyak dikenal melalui cerita serta praktik yang diteruskan dari generasi ke generasi.
Tokoh Adat Desa Manukaya Let, Dewa Gede Mangku Wenten, mengatakan masyarakat tetap menjalankan tradisi tersebut bukan karena adanya paksaan. Warga melaksanakannya karena memiliki keyakinan dan kepercayaan terhadap warisan leluhur.
“Tidak ada paksaan kepada masyarakat untuk melaksanakan tradisi ini. Karena kepercayaan dan keyakinan, masyarakat melaksanakannya dengan suka cita dan penuh kegembiraan,” ujar Dewa Gede Mangku Wenten.
Baca Juga: Panduan Bali Guling Terbaik di Bali: Kuta, Seminyak & Uluwatu – Cara Pesan via GrabFood
Tradisi mabedag-bedagan biasanya dilaksanakan pada wuku Dungulan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul di salah satu pura untuk mengawali prosesi. Selanjutnya, warga mengiringi Ida Bhatara Mas berkeliling wilayah desa.
Perjalanan tersebut tidak sekadar berkeliling. Ida Bhatara Mas diiringi menuju sejumlah tempat suci yang ada di lingkungan desa. Masyarakat ikut serta dalam prosesi dengan suasana penuh kebersamaan.
Setelah mengelilingi desa, rombongan kemudian kembali menuju pura. Di tempat inilah pementasan mabedag-bedagan dilaksanakan. Perangkat gamelan gong disiapkan untuk mengiringi jalannya pementasan.
Yang menarik, pertunjukan ini melibatkan cukup banyak warga dengan peran yang berbeda-beda. Sedikitnya diperlukan 20 orang pemuda untuk mundut Ida Bhatara Mas. Kemudian enam orang bertugas menarikan Jauh.
Ada pula seorang yang berperan sebagai kaki-kaki, yakni tokoh kakek, seorang sebagai dadong-dadong atau nenek, seorang sebagai bedag-bedagan, seorang sebagai balian atau dukun yang didampingi dua orang parekan atau pengikut, serta seorang lainnya yang mementaskan gandrung.
Pementasan kemudian berlangsung secara berurutan. Dimulai dari tarian Ida Bhatara Mas, dilanjutkan kaki-kakian, dadong-dadongan, balian, gandrung, bedag-bedagan, dan terakhir Jauh.
Masing-masing bagian memiliki peran dalam membangun alur cerita bedag-bedagan. Karena itu, masyarakat tidak melihat pementasan ini hanya sebagai pertunjukan biasa. Ada unsur sakral yang membuat seluruh rangkaiannya tetap ditempatkan dalam konteks adat dan keagamaan.
Salah satu bagian yang menjadi inti cerita adalah bedag-bedagan. Dalam kisah tersebut, Ida Sesuhunan Ratu Mas digambarkan menjelma menjadi seekor sapi.
Sapi dalam cerita tersebut bukan sekadar binatang. Sapi merupakan tunggangan Dewa Siwa dan dimaknai sebagai simbol pertiwi, yang berkaitan dengan kemakmuran dan kehidupan. Dalam pementasan, sapi tersebut dikisahkan dipelihara oleh seorang kaki atau kakek.
Dari kisah tersebut kemudian muncul pesan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Pesan itu dirangkum dalam ungkapan “Braya Atut Sampi Idup.”
Secara sederhana, ungkapan tersebut mengajarkan bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik apabila masyarakat mampu hidup rukun dan bersatu. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada saatnya membantu, ada saatnya saling memaafkan, dan ada saatnya bersama-sama membangun sesuatu yang baik.
Dewa Gede Mangku Wenten mengatakan nilai tersebut menjadi salah satu pesan penting yang ingin diwariskan melalui mabedag-bedagan.
Baca Juga: Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang
“Dalam Braya Atut Sampi Idup, kita diajak untuk selalu bersatu, saling asah, saling asih, saling asuh, segilik, seguluk, sabahyantaka. Dengan begitu, kehidupan bisa menjadi damai dan makmur,” katanya.
Pesan tersebut terasa semakin penting karena tradisi ini melibatkan berbagai kelompok usia. Anak muda memiliki ruang untuk terlibat dalam prosesi, sementara masyarakat yang lebih tua tetap berperan dalam menjaga tata cara dan nilai yang diwariskan leluhur.
Dengan cara seperti itu, pengetahuan mengenai tradisi tidak berhenti pada satu generasi. Anak-anak muda tidak hanya mendengar cerita tentang tradisi, tetapi ikut melihat dan terlibat langsung dalam pelaksanaannya.
Suasana pementasan juga menjadi semakin menarik karena masyarakat yang mengikuti prosesi biasanya mengenakan ikat kepala khas, seperti udeng ilut atau dastar plintir. Ikatan kain berada di bagian belakang kepala sehingga memberikan ciri tersendiri dalam pelaksanaan tradisi.
Meski terlihat meriah, masyarakat tetap memahami bahwa mabedag-bedagan merupakan tradisi sakral. Karena itu, tidak semua bagian dapat diperlakukan seperti pertunjukan kesenian biasa.
Baca Juga: Wujudkan Masyarakat Sehat dan Bahagia, Pemkab Badung Gelar Gebyar GENTA 2026
Bagi masyarakat Desa Manukaya Let, unsur sakral menjadi bagian yang harus tetap dijaga. Apalagi desa ini juga memiliki daya tarik wisata yang sudah dikenal luas, salah satunya Pura Tirta Empul.
Potensi tersebut sebenarnya dapat membuka peluang bagi tradisi lokal untuk dikenal lebih luas. Namun, pengembangan sebagai daya tarik budaya perlu dilakukan dengan hati-hati. Jangan sampai keinginan memperkenalkan tradisi kepada wisatawan justru menghilangkan nilai sakral yang selama ini menjadi dasar pelaksanaannya.
Dewa Gede Mangku Wenten berpandangan, apabila tradisi ini nantinya dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan budaya atau wisata, harus ada aturan yang jelas. Misalnya berkaitan dengan siapa yang boleh mengambil gambar, melakukan dokumentasi, maupun menyaksikan secara langsung.
“Kesakralan tradisi sangat penting dijaga. Kalau ada dokumentasi atau orang yang ingin menyaksikan secara langsung, tentu perlu diatur agar tetap kusyuk proses pelaksanaannya,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika