Mepejuit, Tradisi Memuja Bibit Padi di Pejeng Kangin

I Putu Mardika • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 20:01 WIB
Tradisi Mepejuit di Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar (ist)
Tradisi Mepejuit di Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar (ist)

BALIEXPRESS.ID-Hamparan sawah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Di tengah kehidupan agraris tersebut, masyarakat masih mempertahankan sebuah tradisi yang berkaitan erat dengan keberlangsungan tanaman padi, yakni Upacara Mepejuit.

Tradisi yang digelar setahun sekali pada Tilem Sasih Kaulu ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus permohonan masyarakat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar tanaman pertanian tumbuh subur, terhindar dari hama dan penyakit, serta memberikan hasil panen yang melimpah.

Tokoh adat setempat, Gusti Ngurah Sudana, 60, mengatakan Mepejuit memiliki makna yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan kehidupannya dari sektor pertanian.

“Mepejuit itu berkaitan dengan memuja wit atau bibit. Intinya kami memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi agar tanaman yang ditanam masyarakat bisa tumbuh dengan baik, subur, selamat dari hama, dan memberikan hasil yang baik,” ujar Gusti Ngurah Sudana.

Secara etimologis, istilah Mepejuit berkaitan dengan kata “Mepuje” dan “Wit”. “Me” dimaknai sebagai awalan atau melakukan, sementara “Puja” berarti menyembah atau memuja. Sedangkan “Wit” dimaknai sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam pemahaman lain yang berkembang di masyarakat, Mepejuit juga berkaitan dengan istilah “ngupakara wit”, yakni memberikan pelayanan, penghormatan, atau persembahan kepada tumbuh-tumbuhan.

Baca Juga: Mabedag-Bedagan Manukaya Let Digelar Saat Wuku Dungulan, Ada Pesan “Braya Atut Sampi Idup”

Karena masyarakat setempat mayoritas merupakan petani, khususnya petani padi, pelaksanaan Mepejuit kemudian lebih ditekankan pada tanaman padi. Meski demikian, makna ritualnya tidak terbatas hanya pada padi, tetapi juga berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan dan kehidupan pertanian secara keseluruhan.

“Padi menjadi perhatian utama karena sebagian besar masyarakat di sini adalah petani. Tetapi secara makna, kita juga memohon agar tanaman lainnya mendapatkan keselamatan dan tumbuh dengan baik,” jelas Sudana.

Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Pakraman Tri Eka Citta. Pelaksanaannya hanya dilakukan satu kali dalam setahun, tepatnya pada Tilem Sasih Kaulu. Waktu pelaksanaan biasanya dimulai sekitar pukul 08.00 WITA hingga seluruh rangkaian selesai.

Keunikan Mepejuit dapat dilihat dari keterlibatan masyarakat dalam membawa berbagai sarana upacara. Krama istri, mulai dari anak-anak, remaja hingga perempuan dewasa, membawa atau nyuun sokasi Pejuwit. Di dalamnya terdapat berbagai sarana persembahan, seperti tumpeng, bunga dan sampian.

Sementara kaum laki-laki, khususnya anak-anak dan remaja, membawa berokan atau kober yang dibuat dari cabang daun jaka atau pohon enau. Berokan atau kober tersebut memiliki makna simbolis sebagai kemenangan.

“Perempuan membawa Pejuwit yang berisi tumpeng, bunga dan sampian. Anak-anak dan remaja laki-laki membawa berokan atau kober dari daun jaka. Itu menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi,” katanya.

Baca Juga: Wujudkan Masyarakat Sehat dan Bahagia, Pemkab Badung Gelar Gebyar GENTA 2026

Rangkaian upacara dimulai dengan berkumpulnya masyarakat, terutama anggota krama subak, di Pura Ulun Suwi. Namun, sebelum menuju pura tersebut, terdapat rangkaian prosesi yang berkaitan dengan Pura Kahyangan Tiga.

Prosesi diawali dengan nunas icen dan mendak Ida Batara secara simbolis melalui linggih. Pemangku kemudian memimpin doa dan puja stuti. Setelah seluruh rangkaian awal selesai, masyarakat mulai memargi menuju Pura Ulun Suwi.

Dalam perjalanan, rombongan membawa berbagai piranti yadnya. Pada bagian depan terdapat sarana seperti air kelapa muda atau toya bungkak dan pasepan. Setelah itu disusul para gadis yang mengusung Pejuwit, kemudian anak-anak atau remaja laki-laki yang membawa berokan atau kober.

Rombongan juga diiringi tetangguran Gong Baleganjur sehingga suasana prosesi menjadi semakin semarak. Sementara suara genta dilakukan oleh Jero Mangku di bagian awal sebelum linggih dan Pejuwit.

Setelah prosesi di Pura Ulun Suwi, perjalanan dilanjutkan menuju Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem. Di setiap pura dilakukan rangkaian persembahyangan dan penghormatan kepada Ida Batara.

Baca Juga: Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Salah satu bagian yang menarik terdapat di Pura Dalem, yakni prosesi siat berokan. Prosesi tersebut menjadi bagian sakral dalam rangkaian Mepejuit dan dipercaya berkaitan dengan penugrahan atau berkah bagi masyarakat.

“Di Pura Dalem ada siat berokan. Itu bukan sekadar permainan atau keramaian, tetapi merupakan bagian dari rangkaian ritual yang sudah diwariskan. Setelah mendapatkan penugrahan, masyarakat kemudian kembali melanjutkan kegiatan menuju lahan pertaniannya,” ungkap Sudana.

Setelah seluruh rangkaian di pura selesai, masyarakat membawa sarana Mepejuit menuju rumah dan lahan pertanian masing-masing. Di rumah, masyarakat juga melakukan persembahyangan. Sementara di sawah, petani kembali menghaturkan persembahan sebagai bentuk syukur sekaligus memohon perlindungan terhadap tanaman.

Salah satu ciri yang dapat ditemui adalah penancapan dahan pohon enau yang telah dihias di sekitar lahan pertanian. Sarana tersebut menjadi bagian dari persembahan yang berkaitan dengan perlindungan tanaman.

Kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ini masih sangat kuat. Mereka meyakini bahwa keberadaan ritual tersebut mempunyai hubungan dengan keselamatan tanaman. Apabila Mepejuit tidak dilaksanakan, masyarakat khawatir tanaman menjadi lebih rentan terserang hama dan penyakit.

“Bagi masyarakat, ini bukan hanya tradisi yang dilakukan karena kebiasaan. Ada keyakinan bahwa ritual ini berkaitan dengan keselamatan pertanian. Karena itu tetap dilaksanakan setiap tahun,” tutur Sudana.

Pelaksanaan Mepejuit juga melibatkan kelompok-kelompok subak yang berada dalam naungan Subak Jero Kuta. Beberapa di antaranya adalah Subak Biang Tuka, Kuangta, Belimbing, Bama, Tanggu, Uma Lawas, dan Subak Pangsut.

Secara keseluruhan, jumlah anggota subak yang mengikuti tradisi tersebut mencapai kurang lebih 160 orang. Mereka mengelola lahan pertanian dengan luas sekitar 85 hektare.

“Kurang lebih ada 160 anggota subak yang ikut. Lahan pertaniannya sekitar 85 hektare. Jadi tradisi ini memang melibatkan masyarakat yang cukup banyak karena berkaitan langsung dengan pertanian,” kata Sudana.

Baca Juga: RDP Bersama Komisi II DPR RI, Kementerian ATR/BPN Paparkan Rencana Pelaksanaan Anggaran Tahun 2027

Keterlibatan krama subak dan dukungan struktur desa adat membuat Mepejuit tetap bertahan hingga kini. Tradisi tersebut menjadi gambaran bagaimana kehidupan pertanian masyarakat Bali tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi dan produksi pangan, tetapi juga terhubung dengan sistem kepercayaan, ritual, serta hubungan manusia dengan alam.

Uniknya lagi, sekitar 15 hari setelah pelaksanaan Mepejuit, terdapat rangkaian upacara Ngungaang yang dilaksanakan pada Sasih Kasanga. Rangkaian tersebut semakin memperlihatkan adanya kesinambungan antara ritual pertanian dan siklus kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat Pejeng Kangin, Mepejuit pada akhirnya bukan sekadar upacara tahunan. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat, memperkuat hubungan sosial antaranggota subak, sekaligus menjaga warisan pengetahuan agraris yang telah diwariskan oleh leluhur.

“Selama masyarakat masih bertani, kami berharap Mepejuit tetap ada. Ini warisan leluhur dan bagian dari cara masyarakat memohon keselamatan kepada Tuhan. Yang dijaga bukan hanya ritualnya, tetapi juga rasa syukur dan hubungan manusia dengan alam,” pungkas Gusti Ngurah Sudana. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
Tradisi Mepejuit Tilem Sasih Kaulu gianyar Pejeng