Lika-Liku Pengrajin Paso Perangsada, Ada Sejak 1900-an, Jeding digunakan Panca Yadnya

I Putu Mardika • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 18:43 WIB
Kerajinan Paso di  Banjar Perangsada, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar (ist)
Kerajinan Paso di Banjar Perangsada, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar (ist)

BALIEXPRESS.ID-Gianyar tidak hanya dikenal dengan seni lukis, ukiran, dan berbagai kerajinan seninya. Di Banjar Perangsada, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, ada satu kerajinan tradisional yang sampai sekarang masih dipertahankan masyarakat. Namanya Paso Perangsada. Bentuknya sederhana, berbahan tanah liat, tetapi di balik proses pembuatannya tersimpan pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi.

Kerajinan Paso Perangsada diperkirakan sudah ada sejak tahun 1900-an. Artinya, para pengrajin yang masih bertahan saat ini sudah memasuki generasi keempat yang menerima pengetahuan pembuatan paso dari para tetua sebelumnya. Kerajinan ini pada awalnya lahir dari kebutuhan masyarakat terhadap perlengkapan upacara adat dan kebutuhan rumah tangga.

Pengrajin Paso dari Banjar Perangsada, Made Mardika Yasa, mengatakan keberadaan kerajinan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan masyarakat setempat. Dahulu, tanah merah cukup mudah ditemukan di sekitar wilayah Perangsada sehingga dimanfaatkan sebagai bahan utama untuk membuat berbagai perlengkapan dari gerabah.

“Dari dulu tanah merah di sini memang banyak. Para tetua kemudian memanfaatkannya untuk membuat paso sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jadi, awalnya memang lebih banyak untuk keperluan adat dan rumah tangga,” ujar Made Mardika Yasa.

Baca Juga: Grab Perkuat Inklusivitas Lewat Edukasi Bahasa Isyarat di Seluruh Ekosistem, Distribusi 1.000 Rompi

Paso sendiri bukan hanya satu jenis. Di Banjar Perangsada terdapat beberapa bentuk yang memiliki fungsi berbeda. Salah satunya adalah jeding, yang digunakan dalam berbagai pelaksanaan Panca Yadnya, meliputi Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Jeding juga memiliki ukuran berbeda, mulai dari jeding cenik, jeding nyalah atau ukuran sedang, hingga jeding gede.

Ada pula pane yang digunakan untuk kebutuhan upacara adat. Jenis ini juga dibedakan berdasarkan ukurannya, yakni pane cenik, pane nyalah, dan pane gede. Sementara pulu tidak hanya digunakan dalam kegiatan adat, tetapi juga menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga, misalnya untuk menyimpan beras dan air.

Selain itu, masih terdapat sejumlah produk lainnya seperti keren yang digunakan sebagai tungku untuk memasak, penglak-lakan sebagai wadah membuat jajan Bali berupa laklak, serta cobek yang secara tradisional digunakan untuk ngasab cendana atau menggosok kayu cendana sebagai bahan obat tradisional. Para pengrajin juga membuat pot bunga untuk kebutuhan tanaman hias.

Menariknya, sebagian besar pengrajin paso di Banjar Perangsada merupakan perempuan. Mereka umumnya sudah mengenal keterampilan tersebut sejak masih kecil. Pengetahuan tidak diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan dengan melihat orang tua atau para tetua bekerja.

“Belajarnya dari kecil. Anak-anak dulu melihat orang tua membuat paso, kemudian mencoba sendiri. Lama-lama tahu bagaimana cara memilih tanah, mengolahnya, membentuk, sampai membakarnya,” tutur Made Mardika.

Cara belajar seperti ini membuat keterampilan membuat paso menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pengetahuan bukan hanya mengenai bagaimana membentuk tanah, tetapi juga mencakup istilah, alat, teknik, hingga pengetahuan tentang waktu yang tepat untuk melakukan proses pembakaran.

Proses pembuatan paso memang cukup panjang. Semuanya dimulai dengan mencari tanah merah sebagai bahan utama. Tanah kemudian dijemur dan diaduk secara berkala agar kering secara merata. Tahap ini disebut ngebur.

Setelah itu tanah ditumbuk atau ngincuk menggunakan tongkat kayu panjang yang disebut lu. Tujuannya untuk menghaluskan tanah sehingga tidak lagi memiliki tekstur kasar. Tanah yang sudah halus kemudian disaring melalui proses nyidi.

Tanah hasil penyaringan selanjutnya diberi air dan diadon hingga menyatu. Proses ini dikenal dengan istilah ngulam. Setelah adonan dianggap cukup, tanah kemudian disekam atau masilan. Pada tahap ini tanah dibiarkan selama sehari dan tidak boleh terkena sinar matahari.

Baca Juga: Peringati WCD, Pemkab Badung Gelar Aksi Bersih Lingkungan di Kawasan Mangrove

Tahap yang paling menarik adalah ngenyun, yakni membentuk tanah menjadi paso. Pengrajin menggunakan alat pemutar yang disebut lilid. Mereka juga menggunakan pangliman, semacam kain atau saput tangan, untuk membantu meratakan permukaan tanah.

Pembentukan tidak dilakukan sekaligus. Tanah dibentuk secara bertahap sampai mendapatkan tinggi dan bentuk yang diinginkan. Setelah selesai, paso dibiarkan agar kandungan airnya berkurang. Tahap ini disebut ngisisang.

Setelah cukup kering, bagian bawah paso dikerik melalui proses ngiidan. Permukaannya kemudian digosok menggunakan batu halus atau bulihang. Paso selanjutnya kembali dijemur melalui proses nyemuh sebelum masuk ke tahap pembakaran.

Proses pembakaran dikenal dengan istilah mabah. Paso-paso yang sudah siap dikumpulkan dalam tungku tradisional yang disebut gerombong. Pembakaran dapat berlangsung selama beberapa jam dan setelah itu paso masih harus dibiarkan hingga sekitar satu hari sebelum diangkat.

Baca Juga: Ramah Tamah HANTARU 2026, Wamen Ossy: Momentum Transformasi Layanan yang Memberi Kepastian

Ada pengetahuan tersendiri mengenai waktu pembakaran. Masyarakat biasanya memilih waktu subuh atau sekitar sore hari. Menurut pengetahuan tradisional para pengrajin, kondisi angin turut memengaruhi proses pembakaran karena asap diharapkan dapat bergerak dengan baik.

Bahan bakar yang digunakan juga memanfaatkan material yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti somi atau sisa tanaman padi dan tuktud, yakni bekas atap rumah kuno yang terbuat dari ambengan atau ilalang.

Setelah pembakaran, masih ada tahap ngajah. Paso digosok menggunakan daun agar bagian dalamnya menjadi lebih halus dan berwarna hijau. Setelah itu paso dapat diasapi atau diungkeb sehingga menghasilkan warna hitam yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Daun yang digunakan dalam proses tersebut antara lain daun turi, singkong, pepaya, keladi, galing-galing, dadap, hingga daun kayu manis. Penggunaan bahan-bahan alami ini menunjukkan bahwa dalam proses pembuatan paso terdapat pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan sumber daya lingkungan.

Dahulu, pemasaran paso juga dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Pada sekitar tahun 1970 hingga 2000-an, para pengrajin membawa paso dengan cara ditegen atau dipikul untuk dijual ke berbagai daerah. Bahkan, transaksi tidak selalu menggunakan uang.

“Dulu orang membawa paso sambil ditegen. Kalau sudah sampai di tempat tujuan, kadang ditukar dengan ketela, beras, atau kebutuhan pokok lainnya. Jadi sistemnya barter,” kata Made Mardika

Baca Juga: Momentum HANTARU 2026, Kementerian ATR/BPN Dekatkan Layanan Pertanahan kepada Masyarakat

Seiring perkembangan zaman, sistem perdagangan berubah. Paso kini dipasarkan menggunakan uang dan menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Banjar Perangsada. Meski begitu, perubahan sistem ekonomi tersebut tidak serta-merta menghilangkan cara tradisional dalam pembuatannya.

Bagi masyarakat setempat, Paso Perangsada memiliki dua sisi penting. Di satu sisi, paso merupakan perlengkapan yang digunakan dalam kebutuhan keagamaan dan rumah tangga. Di sisi lain, kerajinan tersebut menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Yang kami jaga bukan hanya hasil kerajinannya. Cara membuatnya, istilah-istilahnya, alatnya, dan pengetahuan dari orang tua juga harus tetap diwariskan,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Banjar Perangsada Paso gianyar panca yadnya tanah liat