BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar masih melestarikan Tradisi Ngerebeg Api Lodtunduh. Tradisi yang juga populer disebut Siat Api ini bukan sekadar menjadi bagian dari prosesi, tetapi memiliki makna simbolis sebagai sarana menetralisir energi negatif dan memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat.
Kelihan Desa Adat Lodtunduh, Ketut Sumardita, menjelaskan bahwa istilah ngerebeg berasal dari kata gerebeg yang berarti upacara besar. Dalam perkembangannya, kata tersebut mendapat penambahan ng- dalam bahasa Bali sehingga menjadi ngerebeg. Secara umum, ngerebeg dimaknai sebagai tradisi untuk menolak bala atau berbagai malapetaka yang diyakini dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
“Ngerebeg Api Lodtunduh merupakan warisan yang terus kami laksanakan. Tradisi ini menjadi bagian dari usaha masyarakat memohon keselamatan, keamanan dan keseimbangan desa,” jelas Ketut Sumardita.
Tradisi tersebut dilaksanakan masyarakat Hindu Desa Adat Lodtunduh yang terdiri dari lima banjar, yakni Banjar Abiansemal, Banjar Abiansemal Kaja Kauh, Banjar Kertawangsa, Banjar Kelingkung dan Banjar Tengah.
Pelaksanaannya terbuka bagi seluruh masyarakat. Namun, dalam praktiknya, anak-anak dan remaja laki-laki menjadi kelompok yang paling banyak terlibat dalam prosesi saling melempar api takep. Perempuan juga diperbolehkan mengikuti tradisi, sementara orang tua ikut mengawasi jalannya kegiatan.
Baca Juga: Tari Baris Jongko di Belantih, Sarat Perlindungan Secara Niskala
Api takep menjadi bagian yang paling menarik perhatian. Sabut kelapa yang telah disiapkan kemudian dibakar dan digunakan dalam prosesi saling melempar. Meski terlihat seperti permainan, kegiatan tersebut tetap berada dalam bingkai tradisi keagamaan. Masyarakat melaksanakannya dengan penuh semangat dan kegembiraan tanpa menimbulkan rasa dendam atau permusuhan.
“Yang dilakukan bukan untuk saling menyakiti. Ada semangat kebersamaan di dalamnya. Setelah prosesi selesai, masyarakat tetap bersama-sama dan hubungan antarwarga semakin erat,” kata Sumardita.
Ngerebeg Api Lodtunduh dilaksanakan pada hari Kajeng Kliwon Uwudan atau Kajeng Kliwon Enyitan, pada peralihan akhir sasih kelima menuju awal sasih keenam dalam kalender Caka. Prosesi dimulai saat sandikala atau menjelang malam dan berakhir sesuai situasi di lapangan.
Dalam setahun terdapat tiga rangkaian yang berkaitan dengan hari tersebut, tetapi prosesi saling melempar api hanya dilaksanakan pada dua waktu. Pada rangkaian ketiga, kegiatan tersebut tidak dilakukan karena prosesi masegeh agung berlangsung pada siang hari.
Sebelum masyarakat terlibat dalam prosesi siat api, rangkaian upacara diawali dari Pura Puseh Desa Adat Lodtunduh. Masyarakat menghaturkan sesajen sekaligus melaksanakan upacara panedunan Ida Sesuhunan. Prosesi ini menjadi bentuk permohonan izin dan restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta Ida Sesuhunan sebelum seluruh rangkaian dilaksanakan.
Selanjutnya, Ida Sesuhunan diarak mengelilingi wilayah desa dengan iringan gamelan. Iring-iringan bergerak menuju Pura Prajapati untuk melaksanakan mecaru. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Pura Batan Bingin dan kembali dilakukan upacara mecaru. Dari sana, iring-iringan bergerak menuju Catus Pata atau Perempatan Agung Desa Adat Lodtunduh.
Di Catus Pata kembali dilaksanakan mecaru dengan sarana ayam brumbun dan berbagai perlengkapan upacara lainnya. Setelah persembahyangan, masyarakat nunas tirta atau mengambil air suci untuk dibawa ke rumah masing-masing. Tirta tersebut kemudian digunakan dalam pelaksanaan masegeh di depan pekarangan rumah.
Baca Juga: Dewi Yuali, Istri Kapolri Suyudi Ario Seto yang Ternyata Satu Angkatan di Akpol
Dalam rangkaian masegeh tersebut juga digunakan api takep. Api yang telah dipersiapkan kemudian menjadi bagian penting dalam prosesi Ngerebeg Api Lodtunduh ketika iring-iringan mulai bergerak menuju batas-batas wilayah desa adat.
Setelah dari Catus Pata, perjalanan bergerak menuju perbatasan Timur Desa Adat Lodtunduh. Di setiap titik batas desa terdapat pelinggih sebagai tempat menghaturkan tetabuhan arak berem. Rangkaian kemudian bergerak menuju perbatasan Utara, Barat Laut, Selatan dan Barat Daya sebelum kembali menuju wilayah desa.
Pada saat itulah prosesi saling melempar api takep berlangsung di depan iring-iringan Ida Sesuhunan. Posisi tersebut memiliki makna sebagai pembuka jalan sekaligus simbol penetralisir berbagai energi negatif yang dipercaya berada di lingkungan desa.
Baca Juga: Pir Kukus untuk Batuk? Ini Tradisi dan Fakta yang Perlu Diketahui
Kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ini berkaitan pula dengan keberadaan Ratu Gede Mas Mecaling. Dalam kepercayaan masyarakat Desa Adat Lodtunduh, Ratu Gede Mas Mecaling bersama para pengikutnya dipercaya memberikan peringatan ketika memasuki sasih keenem. Karena itu, masyarakat kemudian melaksanakan rangkaian ritual sebagai bentuk permohonan perlindungan dan keseimbangan.
Kelihan Desa Adat Lodtunduh, Ketut Sumardita memaparkan Tradisi tersebut juga memiliki sejarah yang panjang. Berdasarkan sumber sejarah yang tercantum dalam kajian tradisi, pada sekitar 1861 hingga 1874 Masehi wilayah Lodtunduh pernah dilanda wabah penyakit seperti cacar dan kolera.
“Kondisi tersebut dikenal sebagai gering agung. Pada masa itu, Pasek Gde Padang yang menjadi penghulu kusarata di Lodtunduh memohon petunjuk kepada Ida Pedanda di Griya Mas,” sebutnya.
Baca Juga: Densus 88 Tangkap Dua Terduga Teroris di Klaten, Rumah Kontrakan Digeledah
Masyarakat kemudian diarahkan membuat api unggun dari sabut kelapa dan kayu di batas-batas desa. Api dijaga agar tetap menyala hingga pagi. Para pemuda bertugas menjaga api tersebut. Dalam perkembangannya, bara api yang dijaga kemudian menjadi bagian dari aktivitas mereka untuk mengusir rasa jenuh sekaligus tetap terjaga sepanjang malam.
Setelah ritual dilaksanakan selama satu bulan tujuh hari, jumlah warga yang terserang wabah disebut berangsur berkurang hingga wabah berakhir. Sejak saat itu, ritual tersebut terus dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurut Sumardita, keberadaan tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan. Ngerebeg Api juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dari lima banjar dalam satu kegiatan bersama.
“Semua masyarakat memiliki ruang untuk terlibat. Anak-anak dan remaja bisa ikut, orang tua mengawasi. Di sana ada proses belajar tentang adat, kebersamaan dan tanggung jawab,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika