Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Nyenuk Saat Karya Ngenteg Linggih Bentuk Wujud Terima Kasih

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 26 Oktober 2022 | 22:02 WIB
NYENUK : Upacara Nyenuk yang digelar di areal Pura Agung Mpu Kuturan usai Ngenteg Linggih,  Selasa (25/10). I Putu Mardika/Bali Express.
NYENUK : Upacara Nyenuk yang digelar di areal Pura Agung Mpu Kuturan usai Ngenteg Linggih, Selasa (25/10). I Putu Mardika/Bali Express.
BULELENG, BALI EXPRESS- Upacara Ngenteg Linggih tingkatan utama senantiasa diakhiri dengan upacara Nyenuk. Ritual ini kerap dimaknai sebagai momen mengucapkan terima kasih kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena upacara berjalan lancar.

Nyenuk biasanya dilaksanakan saat penglebar atau panyineb (penutup) dalam upacara Ngenteg Linggih. Umumnya dilaksanakan di areal pura maupun merajan yang baru saja diupacarai. Seperti terlihat di Pura Agung Mpu Kuturan, Selasa (25/10) siang.

Photo
Photo
Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa.Putu Mardika/Bali Express.

Acara Ngenteg Linggih disineb dengan ritual Nyenuk. Mereka yang terlibat dalam Nyenuk menggunakan pakaian seragam secara berkelompok. Ada yang menggunakan seragam serba merah, seragam kuning, seragam hitam, seragam putih dan poleng.

Kaum pria yang ikut upacara itu membawa tegen-tegenan. Seperti kelapa, tebu, buah buahan, umbi-umbian. Sedangkan kaum wanita membawa beras, gula, bunga dan sesajen lainnya.

Tak hanya itu, suasana semakin semarak dengan iring-iringan tetabuhan juga nyanyian khas untuk upacara Nyenuk.

Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa mengatakan ritual Nyenuk sangat erat dengan pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih. Menurutnya, upacara Ngenteg Linggih adalah upacara yadnya atau karya yang ditujukan untuk mengukuhkan kembali kedudukan atau linggih niyasa tempat suci sebagai pemujaan Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, baik berupa padmasana, sanggah pemerajan ataupun pura setelah selesai dibangun.

Maksud dan tujuan upacara Ngenteg Linggih adalah untuk menyucikan dan mensakralkan sthana Hyang Widhi dan manifestasinya, sehingga bangunan itu memenuhi syarat sebagai niyasa (simbol) objek konsentrasi pemujaan.

“Upacara Ngenteg Linggih mempunyai makna upacara menyucikan dan mensakralkan niyasa tempat memuja Sang Hyang Widhi. Pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih dilakukan setelah selesai pembuatan bangunan dalam bentuk padmasana, sanggah pamerajan dan pura,” ungkap sulinggih dari Griya Taman Sari Asrama, Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu, Buleleng ini.

Dalam upacara Ngenteg Linggih ada berbagai rujukan naskah kuno maupun Lontar Wraspati Kalpa, termasuk utama. Dalam Lontar Gama Dewa, Prasasti Mpu Kuturan Kuno, Widi Tattwa, Dewa Tattwa. Namun uraian yang sangat mendalam tentang upacara Ngenteg Linggih  tertuang dalam lontar Gama Dewa.

Kutipannya yaitu : Yan kita ngelaraken ring aji saraswati kadiniki, Yening Ida kelawan Dane ngemargiang sastrane kadi niki, tan pendah kadi mami ten matiosan kadi pemargi imanusa. Jika dikaitkan dengan prosesi Nyenuk atau nyenukin dimaknai dengan menjenguk.

“Menjenguk artinya melihat. Dalam konteks ritual Ngenteg Linggih, Nyenukin itu diartikan ada orang yang hendak melihat upacara Ngenteg Linggih. Dimana mereka yang nyenukin itu disapa oleh penari Topeng Dalem Sidakarya,” paparnya.

Pakaian yang berwarna-warni saat acara upacara sebagai simbolisasi dari Dewata Nawa Sanga. Semisal dari bala ancangan bhatara Iswara, warna merah simbol bala ancangan Brahma, warna kuning bala ancangan Mahadewa, hitam bala ancangan Bhatara Wisnu.

“Nyenuk ini ditujukan sebagai rasa penghormatan dan terimakasih karena telah usai acara besar diselenggarakan. Sehingga mereka yang Nyenuk itu membawa pala bungkah pala gantung, sebagai sesajen, persembahan,” paparnya.

Sebagai salah satu sarana pelengkap yadnya, Topeng Sidakarya juga sering dipentaskan saat Nyenuk. Hal ini karena ritual Nyenuk dan Topeng Sidakarya sama-sama dilaksanakan pada akhir upacara.

Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa mengatakan, memang ada dialog yang disampaikan oleh penari Topeng Sidakarya saat ritual Nyenuk.  Dialog tersebut memposisikan di mana penari topeng sebagai sang yajamana atau yang menggelar acara yadnya.

Ciri khas dari ritual ini adalah ada yang berperan sebagai tamu datang beriringan dengan busana yang digunakan berwarna merah, hitam, kuning, putih, dan lain-lain, serta membawa aneka sesajen.

Setelah para tamu tersebut tiba di tempat upacara, maka mereka akan disambut. Biasanya yang berperan menyambut tamu tersebut Topeng Sidakarya dengan menggunakan kekundangan Sidakarya.

Menurutnya, segala hasil bumi yang dimiliki oleh umat dan dibawa saat Nyenuk dapat dipersembahkan sebagai bentuk yadnya apabila dilandasi dengan rasa bhakti.

“Inilah simbol kearifan lokal, dimana misalnya ada salah satu warga di lingkungan masyarakat terdekat melakukan kegiatan yadnya, maka masyarakat sekitar tempat yang melakukan yadnya akan datang membantu, baik dari segi tenaga dan material, seperti membawa hasil bumi yang dihasilkan ke tempat orang yang memiliki upacara,” pungkasnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #ngenteg linggih #bali #balinese #Sang Yajamana #yadnya #adat #hindu #Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa #pura #Topeng Sidakarya #Nyenuk #budaya #tradisi