Tradisi Lukat Geni diyakini sebagai warisan budaya yang bersifat sakral. Munculnya tradisi ini, konon bermula dari permainan rakyat yang telah lama dilaksanakan oleh warga Puri Satria Kawan, sehingga menjadi sebuah tradisi yang turun-temurun dilaksanakan di sana.
Pemuda sebagai pelaksana Lukat Geni yang juga disebut Perang Api ini, dibagi menjadi dua kubu dengan jumlah menyesuaikan dengan arah mata angin. Hanya saja pertarungan terjadi satu lawan satu dengan menggunakan sarana danyuh (daun kelapa keting) yang dibakar.
Sebanyak lima orang berpakaian putih di timur, sembilan orang berpakaian merah di selatan, tujuh orang berpakaian kuning di barat. Selanjutnya, di sebelah utara untuk mereka yang berpakain hitam, sedangkan di tengah terdapat delapan orang dengan pakaian mancawarna. Waktu pelaksanaannya dimulai pukul 18.30 hingga selesai.
Teknis pelaksanaannya sangat sederhana. Yaitu api dari sarana danyuh yang terbakar tersebut digunakan untuk memukul lawannya. Bahkan, sampai percikan api mengenai tubuh lawan layaknya malukat menggunakan air.
Tokoh Puri Satria Kawan, Desa Paksebali AA Gde Agung Rimawan
menyebutkan, para teruna akan maju secara bertahap masing-masing satu pasang atau dua orang. Keduanya akan saling memukul menggunakan danyuh yang sudah dibakar. Mereka dipandu oleh sekaa gong yang mengiringinya. “Tidak ada luka ataupun dendam antarsesama pelaku tradisi lukat geni ini,” sebutnya.
Mereka akan berhenti saling memukul, jika api pada prakpak (danyuh terbakar) telah padam. Setelah semua peserta telah berkesempatan satu lawan satu, kemudian dilanjutkan dengan perang api beramai- ramai oleh seluruh peserta dari seluruh sudut.
Dalam pelaksanaannya para pelaku yang bertarung tidak menggunakan baju, hanya mengenakan kain saja. “Proses akhir pelaksanaan tradisi Lukat Geni yaitu persembahyangan bersama guna mengucap rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan kelancaran dalam proses pelaksanaan tradisi,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya