Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mitos Lelipi Poleng: Ular Suci yang Menjaga Kesucian Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali

I Putu Mardika • Rabu, 13 September 2023 | 20:07 WIB
Mitos Lelipi Poleng: Ular Suci yang Menjaga Kesucian Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali
Mitos Lelipi Poleng: Ular Suci yang Menjaga Kesucian Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali

TABANAN, BALI EXPRESS - Pura Tanah Lot di Tabanan, Bali, selain terkenal dengan keris dan air suci, juga menjadi rumah bagi makhluk unik, yaitu ular suci yang dikenal sebagai lelipi duwe. Ular-ular ini mendiami gua di sebelah utara pantai Tanah Lot dan memiliki warna hitam-putih yang khas, sehingga sering disebut sebagai lelipi poleng.

Lelipi Poleng adalah bagian dari kelompok ular laut Banded Sea Krait dan memiliki tingkat keganasan yang mengesankan. Mereka dapat menjadi tiga kali lipat lebih mematikan dibandingkan dengan kobra, mampu menghabisi musuhnya hanya dalam satu serangan.

Meskipun agresif, lelipi Poleng tidak akan menyerang tanpa provokasi.

Oleh karena itu, para wisatawan yang mengunjungi Tanah Lot dan ingin berinteraksi dengan lelipi Poleng harus diawasi oleh pawang ular agar tindakan mereka tidak salah.

Ular suci ini memiliki tubuh panjang dengan warna hitam-putih yang khas, terkadang dengan corak abu-putih, dan ekor pipih.

Menurut legenda, ular-ular ini adalah inkarnasi selendang Danghyang Nirartha yang dikutuk menjadi ular poleng.

“Berdasarkan legenda, ular tersebut adalah bekas selendang Danghyang Nirartha yang dikutuk menjadi ular poleng dan bertugas untuk menjaga alam dan kesucian Pura Tanah Lot,” Pemangku Pura Tanah Lot, Jro Mangku Darma

Tugas mereka adalah menjaga alam dan kesucian Pura Tanah Lot. Ketika lelipi poleng menjalar atau membentang di tangga candi bentar, itu merupakan isyarat bahwa jeroan Pura (area suci) telah ditutup, dan siapa pun dilarang memasukinya, termasuk Jro Mangku, pemangku Pura Tanah Lot.

Jro Mangku disarankan untuk berada di luar jeroan Pura saat ini. Ini adalah cara lelipi poleng untuk menjaga kesucian Pura Tanah Lot dan memberikan peringatan kepada masyarakat.

Tradisi ini masih dihormati dan diikuti oleh pengempon Pura Tanah Lot, yang percaya bahwa ini adalah cara untuk menjaga kesucian pura.

Lelipi Poleng sebenarnya lebih mematikan daripada kobra, namun, mereka tetap diam dan tidak menyerang ketika disentuh oleh pengunjung.

Yang menarik, siapa pun yang menyentuh lelipi Poleng sambil berdoa dapat mengharapkan keinginannya terkabul, mulai dari rezeki lancar, memiliki anak, hingga kehidupan yang makmur.

Salah satu keunikan lainnya adalah tidak pernah ditemukan telur ular suci di gua tempat mereka tinggal, dan belum jelas di mana mereka berkembang biak.

Ular suci ini kembali ke laut saat air laut pasang dan kembali ke gua saat air laut surut, sebuah fenomena alam yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

“Ular suci kembali ke laut disaat air laut pasang dan akan kembali ke gua disaat air laut surut, fenomena tersebut memang normal dilakukan oleh ular suci,” kata Jro Mangku Darma.

Dengan keberadaan lelipi Poleng yang penuh misteri, Pura Tanah Lot di Tabanan, Bali, menjadi tempat yang sarat dengan mitos dan keunikan alam yang menakjubkan.

Sejarah dan Keajaiban Pura Tanah Lot di Tabanan, Bali

Pura Tanah Lot, yang terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, adalah salah satu pura Dang Kahyangan yang memiliki ikatan sejarah erat dengan tokoh suci Dang Hyang Nirartha. Pura ini menawarkan pemandangan eksotis yang tak terbantahkan, berdiri megah di atas sebuah batu karang besar yang menjulang di tengah laut. Saat air laut pasang, para pemedek kadang hanya bisa bersembahyang di pelinggih pengayatan yang terletak di atas batu karang tersebut.

Keindahan alam ini telah menjadikan Pura Tanah Lot terkenal di manca negara, bahkan menjadi ikon wisata Pulau Dewata, terutama karena keindahan matahari terbenamnya di sore hari.

Namun, di balik keindahannya, Pura Tanah Lot memiliki sejarah panjang yang kaya. Lontar Dwijendra Tattwa mencatat bahwa pura ini terkait dengan perjalanan rohaniwan Maha Rsi Dang Hyang Nirartha saat perjalanan dari Jawa ke Bali pada sekitar Tahun 1489 Masehi.

Pada saat itu, ia istirahat sejenak di Pura Tanah Lot. Beliau mengajarkan pengetahuan keagamaan kepada masyarakat setempat agar lebih memahami ajaran agama. Namun, usahanya awalnya ditolak karena kesalahpahaman dan persaingan antara sang rohaniwan dan tokoh lokal yang merasa terganggu oleh kehadiran Danghyang Niratha.

Tetapi, Danghyang Nirartha memutuskan untuk menunjukkan kekuatannya dengan memindahkan batu besar ke arah pantai sebagai tanda kedigjayaannya. Ini membantu memperkuat kepercayaan masyarakat Bali terhadap ajaran agama Hindu, yang saat itu masih tercampur dengan ajaran Animisme.

Pemangku Pura Tanah Lot, Jro Mangku Darma, menjelaskan bahwa batu besar di tepi pantai itu kemudian dijadikan tempat bersemedi dan penerimaan masyarakat yang ingin berguru. Sejak saat itu, Pura Tanah Lot telah menjadi tempat peribadatan yang sangat penting dan mengukuhkan ajaran Hindu di Bali.

Setiap 210 hari atau enam bulan sekali, Pura Tanah Lot menggelar pujawali pada hari Buda Wage Langkir, yang berlangsung selama tiga hari. Sebelum memasuki pura utama, pemedek harus bersembahyang di Beji Kaler, sebuah mata air suci yang berada di bawah Pura Tanah Lot, untuk membersihkan jiwa dan pikiran mereka sebelum melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot.

Selama pujawali di Pura Tanah Lot, masyarakat Hindu dari seluruh Bali datang untuk bersembahyang dan memohon keselamatan serta kesejahteraan. Selain itu, di area pura ini juga terdapat Goa Air Suci, yang konon bisa mengalirkan air suci dari tengah laut. Pengunjung bisa meminum atau membasuh wajah dengan air suci ini yang dipercaya memiliki manfaat penyembuhan.

Tidak hanya itu, Pura Tanah Lot juga memiliki peninggalan berharga dari Danghyang Nirartha, yaitu sebilah keris yang mampu menyembuhkan penyakit tanaman. Keris ini disimpan di Pura Tanah Lot dan menjadi bagian dari upacara keagamaan yang diadakan setiap enam bulan sekali. Hal ini telah membawa kesejahteraan kepada penduduk desa Beraban, dengan hasil panen yang melimpah dan kehidupan masyarakat petani menjadi lebih baik.

Dengan sejarah yang kaya dan keajaiban alamnya, Pura Tanah Lot di Tabanan, Bali, adalah tempat yang penuh makna dan daya tarik yang luar biasa.

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pura #tanah lot #tabanan