BALI EXPRESS - Upacara Hindu di Bali biasanya tak lepas dari daging babi. Tidak hanya saat hari raya seperti Galungan dan Kuningan, piodalan di beberapa pura juga menggunakan daging babi sebagai sarana.
Salah satunya adalah banten sate gayas yang digunakan saat upacara besar di pura, biasanya terbuat dari daging babi.
Namun ada sejumlah pura di Bali yang tidak boleh (pantang) dihaturkan daging babi, di antaranya:
Baca Juga: Situs KPU Diretas, Hacker Jual Data Pemilih yang Dibobol Seharga Rp 1,2 Miliar
1. Pura Mekah, Desa Pohgading Denpasar
Pura Mekah, yang berada di Banjar Binoh, Desa Pakraman Pohgading, Denpasar Utara, pantang haturkan daging babi saat piodalan.
Dosen IHDN Denpasar yang pernah meneliti Pura Mekah, Dr. Pande Wayan Renawati, S.H, M.Si menerangkan, sesajen yang dihaturkan saat piodalan tidak boleh menggunakan daging babi.
Sebab, ada palinggih yang berfungsi sebagai tempat memuja roh leluhur yang beragama Islam di Probolinggo dan berkaitan dengan pura sekarang.
Rewawati menambahkan, pura tersebut memiliki makna keselamatan dan ketenteraman. Bahkan, setiap piodalan di pura tersebut, rasa kebersamaan maupun kegotongroyongan selalu ditonjolkan.
Pura Mekah dipelihara dan dilestarikan keturunan warga Arya Kepakisan.
- Pura Dalem Tungkub, Mengwi, Badung
Di Pura Dalem Tungkub, ketika piodalan, pamedek tidak boleh mempersembahkan banten berisi daging babi. Bahkan, tidak boleh memakan nasi dengan lauk babi. Kalau berani akan ada risikonya.
Pura Dalem Tungkub terletak di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Mengwi, Badung. Tepatnya di Gang Rajawali.
Saat piodalan yang jatuh pada Purnama Sasih Kapat ini, kata Pemangku Pura Dalem Tungkub Jro MangkuI Putu Wardana, 51, tidak boleh mengaturkan segehan dengan jeroan babi karena Ida Batara Dalem Tungkub nyukla.
Tidak hanya untuk persembahan, makan daging babi juga tak boleh di area pura.
- Pura Pucak Payogan, Ubud, Gianyar
Pura Pucak Payogan, terletak di Ubud, Gianyar. Lokasi Pura Pucak Payogan ini memang sedikit masuk ke dalam desa. Namun jika akan menuju Desa Taro, Tegallalang dari arah Denpasar akan melewati pura tersebut.
Jika mencari dari Pusat Kota Denpasar hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit.
Pura ini merupakan tempat beryoga Rsi Markandya karena terletak di tengah hutan lebat.
Pura Pucak Payogan merupakan bagian dari kisah perjalanan Rsi Markandya menuju Desa Taro dari Pura Campuhan Ubud.
Bendesa Adat Lungsiakan, Desa Kedewatan, Ubud, Gianyar, I Nyoman Jaya menerangkan, jika nangkil ke pura tersebut tidak boleh membawa banten yang berisi daging babi.
- Pura Kembar Madura, Sanur, Denpasar
Pura Kembar Madura terletak di sebuah gang, Jalan Batur Sari, Sanur, Denpasar, Bali. Tepatnya di Gang III yang hanya bisa dilalui sepeda motor.
Pura Kembar Madura atau yang dikenal dengan sebutan "Medura" oleh masyarakat Bali, terletak di wilayah Banjar Medura, Desa Pakraman Intaran, Desa Sanur Kauh, Denpasar.
Jro Mangku Segara menjelaskan, saat piodalan di Pura Kembar Madura atau hari-hari suci Hindu lainnya, pantang mempersembahkan banten berisi daging babi, ikan kokak, dan ikan ucul.
Tak hanya untuk persembahan, para pemangku di sana juga tidak mengonsumsi daging babi dan ikan tersebut.
5. Pura Petapan Subak Bukal, Cempaga, Bangli
Pura Petapan Subak Bukal di Lingkungan LC Uma Bukal, Kelurahan Cempaga, Kecamatan Bangli, termasuk salah satu pura yang unik. Sebab, saat piodalan di Pura Petapan Subak Bukal pantang menghaturkan daging babi.
Menurut Ida Pandita Mpu Dharma Jnana Putra, tokoh spiritual dari Pasraman Lingga Hyang Waringin di Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, nama Pura Petapan Subak Bukal diambil dari nama wilayah Petapan, yang merupakan batas timur laut desa niskala.
Piodalan di Pura Petapan Subak Bukal dilaksanakan 6 bulan sekali (210 hari sistem penanggalan Bali) saat Sugihan Bali pada Sukra Kliwon Sungsang atau lima hari menjelang Galungan.
Menurut Pangempon Pura Petapan Subak Bukal, Ida Bagus Raka Mudarma, ada beberapa pantangan di pura ini. Salah satunya, pantang menggunakan sarana daging babi saat piodalan di Pura Petapan Subak Bukal. Sarana yang boleh digunakan adalah ayam dan telor.
Tidak jelas, kenapa ada pantangan seperti ini.
Namun, berdasarkan cerita yang diwarisi secara turun-temurun dari para tetua, hal ini diyakini berkaitan dengan Ida Batara yang berstana di Pura Petapan Subak Bukal.
Menurut Raka Mudarma, di Pura Petapan Subak Bukal berstana Pendeta pengayah Ida Batari Pemayun, yang didampingi para bidadari dan dijaga para jin serta wong samar.
6. Pura Lempuyang Luhur, Karangasem
Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur memiliki keunikan tersendiri seperti kemurnian alamnya, terutama kawasan hutan cocok menjadi paru-paru Pulau Dewata.
Yang disungsung (di puja) oleh umat Hindu di pura tersebut diyakinkan adalah Ida Batara Empu Agenijaya dan Empu Manik Geni.
Sementara palinggih yang ada di antaranya palinggih bebaturan linggih Batara Empu Agenijaya sareng Empu Manikgeni, Gedong Tumpang Siki (satu), dua dan tiga, Manjangan Saluang, Sanggar Agung, Bale Pawedaan, serta Bale Pesandekan.
Bagi umat Hindu maupun Para wisatawan yang hendak Tangkil (datang sembahyang) ke Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur, hal yang layak dipersiapkan adalah ketahanan fisik, dan tentu saja hati yang tulus suci.
Selain itu juga ada beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar, di antaranya tak boleh berkata kasar saat perjalanan, cuntaka, wanita haid, menyusui, anak yang belum tanggal gigi susu. Namun yang tak kalah penting adalah tidak boleh membawa atau makan daging babi di kawasan itu.
- Pura Langgar, Bunutin, Bangli
Di Desa Adat Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, terdapat pura unik sebagai simbol moderasi beragama. Namanya Pura Penataran Agung Dalem Jawa atau Pura Langgar.
Langgar atau musala merupakan tempat ibadah agama Islam. Tetapi, Langgar yang ada di Desa Adat Bunutin, justru berada di dalam areal Pura Langgar.
Pengempon Pura Penataran Agung Dalem Jawa atau Pura Langgar, Ida Dewa Gede Oka Nurjaya mengatakan pura ini sebenarnya bukanlah tempat ibadah umat muslim, melainkan tempat ibadah umat Hindu.
Karena banyaknya umat muslim yang datang ke pura untuk bersembahyang, para pengempon pura menyediakan tempat persembahyangan bagi umat muslim yaitu di Bale Pengraosan dan di natah pura.
Umat muslim yang datang ke Pura Langgar tidak diperbolehkan memasuki gedong suci.
Gedong suci atau yang sering disebut bangunan Langgar sama seperti pada bangunan di Mekkah, Arab Saudi.
Orang-orang yang berdoa hanya boleh di sekeliling bangunan. Mereka yang boleh memasuki Langgar atau Gedong tersebut hanya pamangku atau orang suci saja.
Dikatakannya, Pura Langgar ini pantang mempersembahkan daging babi. Namun sarana tersebut dapat diganti dengan daging ayam maupun itik.
Pura Langgar tidak hanya menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu di wilayah setempat, tetapi banyak umat muslim yang datang untuk berziarah.
Editor : Nyoman Suarna