TABANAN, BALI EXPRESS - Lengis tandusan memang sudah terkenal rasa dan memiliki aroma yang khas. Proses pembuatannya yang membutuhkan waktu lama, membuat minyak ini cukup mahal harganya di pasaran.
Seperti salah satu produsen lengis tandusan I Wayan Wiadnyana di Banjar Pekilen, Desa Selan Bawak, Marga, Tabanan ini. Ia engaku proses pembuatannya tidak sembarangan, terutama memilih bahan baku utama yakni kelapa yang sudah tua. Untuk bahan bakunya, ia membeli dari petani kelapa di sekitar tempat tinggalnya. Dalam pengerjaanya, Wayan Wiadnyana dibantu istri beserta ibu nya.
"Pertama pilih kelapa yang terbaik, dikupas lalu diparut. Hasil parutan kemudian dicampur dengan air biasa, lalu peras sampai keluar santan. Disini, air jangan terlalu banyak atau sedikit dan disesuaikan dengan jumlah parutan yang dihasilkan," ungkap ayah satu anak ini, Selasa (12/5).
Proses selanjutnya, santan yang diperoleh kemudian direbus sampai minyaknya keluar. Dan proses ini, memakan waktu kurang lebih selama 7 jam. Setelah minyak keluar, didinginkan beberapa jam lalu minyak dipisahkan dengan telengis nya.
"Belum sampai disitu, minyak yang sudah dipisahkan tersebut, lalu digoreng lagi upaya tidak tengik. Kurang lebih prosesnya 1 jam," bebernya.
Mengingat proses yang lama dan jumlah yang dihasilkan tidak begitu banyak, sudah jelas berpengaruh ke harga. Kata Wiadnyana, satu botol ia hargai Rp 25 ribu dengan isi 600 ml. "Lengis tandusan ini lebih pas jika dipakai untuk menumis apalagi dipakai untuk sambal bejek," sebutnya.
Hanya saja, aku Wiadnyana, kendala yang ia temui yakni menjaga kualitas, mengingat lengis yang ia produksi benar-benar memakai bahan alami tanpa pengawet. Dan juga soal pangsa pasar, di mana sasarannya adalah ekonomi menengah. Soal jumlah produksi, ia bisa menghasilkan 60-100 botol per bulan.
"Saya pemasarannya biasa pakai media sosial. Kalau di tempat langsung di pasar di daerah Tabanan dan Denpasar agak susah, karena pembeli suka harga murah tanpa kualitas," tandanya.
Editor : I Putu Suyatra