NEGARA, BALI EXPRESS - Dirumahkan dari tempat bekerja lantaran pandemi Covid-19, tak membuat empat pemuda atau empat sekawan dari Desa Asahduren, Kecamatan Pekutatan patah arang. Namun sebaliknya, Putu Mega Nada, Putu Ananda, Putu Ari dan Putu Mahendra sukses menjadi pedagang sate babi.
Sebelumnya, keempat pemuda ini bekerja di sejumlah restoran di kawasan wisata Ubud, Gianyar. Namun mereka dirumahkan sejak empat bulan oleh perusahaannya masing-masing karena pandemi Covid-19.
Tidak ingin berlama-lama berpangku tangan, pada usianya yang masih di kisaran 20 tahun, mereka mencoba bangkit mengais rezeki di tengah pandemi Covid-19 dengan membuka usaha berjualan sate babi. Kini usaha yang dirintis sejak dua bulan ini menjadi inspirasi bagi pemuda lainnya, khususnya muda-mudi di Kecamatan Pekutatan.
Dalam berusaha mereka juga memilih lokasi yang dinilainya strategis yakni di pinggir jalan raya Pekutatan – Pupuan, tepatnya di depan LPD Asahduren. Demikian juga dalam promosi, mereka pun melakukannya melalui jejaring media sosial (Medsos). Tidak hanya itu, mereka juga melayani pesanan dan siap mengantar sampai di tujuan (COD) tanpa dikenakan ongkir (ongkos kirim), khusus di seputaran desa terdekat dengan Desa Asahduren.
Kegigihan mereka dalam berusaha mendapat empati dan simpati dari Ketut Sadwi Darnawan. Bahkan anggota dewan dari Desa Asahduren ini juga memberikan bantuan modal.
"Saya lihat semuanya tekun bekerja. Mereka tanpa malu dan gengsi mau berusaha berjualan sate babi, padahal masih muda-muda," ujar Sadwi ditemui beberapa waktu lalu.
Keempat pemuda itu, kata Sadwi, diketahui menganggur (dirumahkan) setelah datang ke rumahnya dan mengadu bahwa mereka ingin bekerja. Mereka menganggur sejak akhir Februari. Politikus dari Partai Gerindra ini mengaku sempat bingung memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuk mereka di tengah pandemi Covid-19.
"Saya tahu mereka anak-anak muda yang ulet. Kalau saja tidak ada wabah virus korona, mungkin mereka masih tetap bekerja di Gianyar,” ungkapnya.
Melihat latar belakang tempat mereka bekerja, terbersit ide untuk membuka usaha kuliner. "Kami sempat berembug, akhirnya sepakat menjual sate babi. Usaha yang mereka tekuni sekarang menjadi binaan saya,” ujarnya.
Kenapa menjual sate babi? Menurut Sadwi, karena bahan dasarnya mudah didapat. Dia berharap apa yang dilakukan empat pemuda ini menjadi inspirasi pemuda lainnya.
Sementara itu, Putu Mega Nada mengatakan, dia bersama ketiga temannya membuka usaha sate babi dilatarbelakangi kejenuhan tinggal di rumah pasca dirumahkan. “Dua minggu diam di rumah bosan. Cerita sama teman-teman, terus buka usaha ini (jual sate). Kalau modal dibantu Pak Tut (Ketut Sadwi),” ungkapnya.
Dalam mempromosikan usahanya, Putu Mega mengatakan, lebih banyak melalui medsos dan pesanan siap diantar karena lebih kepada pelayanan, kendati juga ada pembeli yang datang langsung.
Dengan modal awal kisaran Rp 400 ribu, kini usaha mereka maju pesat. Bahkan dalam sehari mereka mampu menghabiskan empat sampai lima kilogram daging babi sebagai bahan dasar sate.
Editor : Nyoman Suarna