Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pengendalian Inflasi Mengacu 4K, Badung Optimalisasi CAS

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 22 Maret 2021 | 13:26 WIB
Pengendalian Inflasi Mengacu 4K, Badung Optimalisasi CAS
Pengendalian Inflasi Mengacu 4K, Badung Optimalisasi CAS

DENPASAR, BALI EXPRESS — Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kab. Badung, A.A. Ngurah Bayu Kumara Putra menyampaikan, pengendalian inflasi pada masa Covid-19 masih dilakukan terbatas dengan mengacu pada upaya 4K. 


4K meliputi ketersediaan produksi, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Hal tersebut disampaikan dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Badung di Ruang Rapat Kriya Gosana Sekretariat Daerah Kabupaten  Badung, akhir pekan kemarin.


HLM diawali dengan laporan terkait evaluasi kegiatan pengendalian inflasi triwulan I 2021 dan upaya menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga, menjelang hari raya Galungan dan Kuningan. 


Rapat dipimpin Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa dan Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Rizki Ernadi Wimanda, dan diikuti seluruh anggota TPID Badung.


Disebutkannya, ketersediaan pasokan dan stabilitas harga barang terjaga di triwulan I 2021. Walaupun beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, seperti cabai rawit dan daging babi. 


Produksi cabai terkendala oleh musim, luas lahan, biaya produksi, dan perawatan. Pada tahun 2020, 


Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Badung telah mengembangkan program Matanabe (masyarakat tanam cabe) dan Sibertani (siswa belajar bertani). 


“Dalam upaya menjaga ketersediaan dan stabilitas harga menjelang Galungan-Kuningan, perlu diantisipasi beberapa komoditas bahan pokok terkait hari raya,” katanya.


Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung, Ni Putu Minarni S, turut hadir sebagai narasumber paparan terkait inflasi Kota Denpasar yang menjadi acuan Kabupaten Badung serta komoditas penyumbang inflasi. 


Komoditas daging babi, cabai merah dan cabai rawit merupakan tiga komoditas utama yang mengalami inflasi di bulan Februari 2021. Kendati demikian, Februari 2021 Kota Denpasar secara umum mengalami deflasi sebesar -0,20 persen (month to month - mtm) dan inflasi 0,16 persen (year on year - yoy). 


Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda, mengapresiasi kehadiran Wakil Bupati Badung selaku pemimpin rapat tersebut. Hal ini sesuai dengan arahan Kementerian Koordinator Perekonomian selaku Ketua Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP). 


Kehadiran Bupati/Wakil Bupati dalam rapat TPID sebagai wujud komitmen Kepala Daerah atas pelaksanaan program pengendalian inflasi di daerah. Serta akan mendapat penilaian yang tinggi pada aspek proses dalam penilaian TPID Award.


Dalam kesempatan tersebut, Rizki memaparkan terkait perekonomian dan inflasi Provinsi Bali, perkembangan harga pangan strategis Kabupaten Badung, komoditas yang perlu diwaspadai menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan serta rekomendasi kebijakan pengendalian inflasi yang dapat dijajaki oleh TPID Kabupaten Badung. 


Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan IV 2020 tumbuh -12,21 persen (yoy), sedikit membaik dibanding triwulan III 2020 yang mencapai -12,32 persen (yoy). 


Dari sisi perkembangan harga, Provinsi Bali mengalami deflasi -0,15 persen (mtm) pada Februari 2021. “Walau begitu, beberapa komoditas pangan justru mencatat kenaikan harga, diantaranya cabai rawit, cabai merah, daging babi, sawi hijau dan bayam. 


"Dalam rangka antisipasi Hari Raya Galungan dan Kuningan yang akan jatuh pada April mendatang, komoditas yang perlu diperhatikan yaitu cabai merah, cabai rawit dan canang sari, karena secara historis selama 3 tahun pada Galungan dan Kuningan ketiga komoditas tersebut sering mengalami kenaikan harga,” ungkapnya.


Pihaknya mengingatkan, komoditas cabai rawit yang masih belum menunjukkan penurunan harga hingga saat ini perlu diwaspadai. Lantaran pasokan belum optimal akibat curah hujan yang tinggi, serta peningkatan permintaan menjelang hari raya. 


Berangkat dari kondisi tersebut, Bank Indonesia merekomendasikan sejumlah kebijakan untuk pengendalian inflasi ke depan. Pertama, pelaksanaan program pengendalian inflasi sesuai kewenangan OPD dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19. 


Kedua, TPID menjamin kecukupan pasokan, kestabilan harga dan kelancaran distribusi menjelang hari raya Galungan dan Kuningan. 


Ketiga, optimalisasi penggunaan CAS (Controlled Atmosphere Storage). Keempat, mendorong kerjasama antar daerah, dan kelima mendorong pembentukan BUMD pangan. 


Rizki menjelaskan, CAS merupakan sistem yang mengkombinasikan teknologi pendingin dengan teknologi pengkondisian udara sebagai alat penyimpan produk komoditi hortikultura dalam jangka waktu yang lebih panjang dari metode konvensional.


“Mesin CAS dapat mengawetkan berbagai komoditas seperti cabai dan bawang merah. Berdasarkan informasi dari Perumda Pasar selaku pengelola CAS di Kabupaten Badung, daya tahan cabai yang disimpan dalam CAS dapat bertahan hingga dua minggu dan bawang merah dapat bertahan hingga tiga bulan,” terangnya.


Sementara itu, Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa mengapresiasi komitmen dan kinerja seluruh anggota TPID Kabupaten Badung dan prestasi yang sudah diraih pada saat TPID Award 2020 yang lalu. 


Suiasa memberikan beberapa arahan yang perlu ditindaklanjuti oleh OPD terkait anggota TPID Kabupaten Badung. Dia menyebutkan, perlunya dorongan program Matanabe menjadi Watanabe melalui APBDES untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat dan pengoptimalan CAS serta sosialisasi ke petani terkait pemanfaatan CAS. 


“Selain itu, perlunya membangun komunikasi untuk Komite Advokasi Daerah (KAD) dengan wilayah di Bali maupun di luar Bali. Perlu dilakukan pasar murah bekerjasama dengan Bulog sebelum Hari Raya Galungan dan Kuningan,” katanya.(ika)



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#badung