GIANYAR, BALI EXPRESS - Pandemi Covid-19 membuat produksi baju barong khas Bali di Banjar Beng Kaja Kauh, Desa Beng, Kecamatan/Kabupaten Gianyar, menurun. Sebelum pandemi, produksi baju barong bisa mencapai 500 pcs per hari. Namun kini produksi hanya 50 pcs per hari.
Salah satu produsen baju barong khas Bali, I Wayan Prawata, 31, alamat Banjar Beng Kaje Kauh, Desa Beng, Kecamatan/Kabupaten Gianyar, mengungkapkan bahwa jumlah produksi baju barong khas Bali yang ia buat menurun drastis di masa pandemi Covid-19. Hal itu terjadi karena memang permintaan menurun yang menyebabkan penghasilannya pun terjun bebas. "Kalau dulu sampai 500 pcs perhari, sekarang cuma 50 pcs. Ya karena pembelian menurun," ujarnya Senin (24/5).
Produksi baju barong khas Bali tersebut selanjutnya dibawa ke sejumlah toko oleh-oleh yang ada di Bali termasuk pasar-pasar seni. "Ada juga yang dipakai untuk stok," imbuhnya.
Prawata menambahkan jika umumnya motif yang ia buat adalah baju dengan gambar barong. Namun ia juga memproduksi baju dengan gambar sesuai dengan pesanan pelanggannya. Untuk harga pun bervariasi tergantung ukuran, mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 25.000. "Kalau harga mulai dari ukuran S itu harganga Rp 21.000, size M Rp 22.000, size L Rp 23.000 dan size XL Rp 24.000. Ada juga size XXL Rp 25.000, dan untuk baju barong anak stelan harganya mencapai Rp 20.000, tergantung size. Dulu motifnya barong full, sekarang wajahnya saja," paparnya.
Ia pun menuturkan jika proses pembuatan baju barong tersebut cukup rumit. Dimana untuk menyelesaikan satu baju, membutuhkan waktu hingga 4 hari. Mulai dari memotong bahan, menjarit, kemudian menggambar. "Apalagi kalau cuaca mendung dan hujan maka waktunya lebih lama, karena pengeringannya lama. Kalau bahan baku kita beli di toko," sambungnya.
Untuk memproduksi baju barong khas Bali tersebut ia pun dibantu belasan pekerja sesuai dengan keahlian masing-masing. Mulai dari mengerjakan pemotongan bahan, menjarit, pembebet, pekerja yang mewantek kain dan yang menggambar barong. "Barang ada saja yang reject, seperti bolong lainnya, ada juga kena noda, sehingga kita bisa rubah warna bajunya. Itu juga buat karya kita susah dijiplak atau ditiru," bebernya.
Atas kondisi pandemi Covid-19, pria yang sudah 10 tahun memproduksi baju barong khas Bali meneruskan usaha ayahnya itu pun berharap agar pemerintah bisa segera membuka pariwisata. "Semoga pandemi ini bisa segera berakhir, sehingga pemerintah bisa buka pariwisata dan ekonomi bisa seperti dulu lagi," tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna