Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

DPD REI Bali Catat Peningkatan Penjualan Rumah Subsidi

Nyoman Suarna • Selasa, 25 Mei 2021 | 03:12 WIB
DPD REI Bali Catat Peningkatan Penjualan Rumah Subsidi
DPD REI Bali Catat Peningkatan Penjualan Rumah Subsidi

DENPASAR, BALI EXPRESS – Setahun pasca pandemi, DPD REI Bali mencatat adanya peningkatan penjualan rumah murah subsidi atau FLPP di atas 20 persen. Peningkatan ini diperkirakan karena masyarakat mulai beradaptasi dengan new normal dan bangkitnya sektor-sektor perekonomian di luar pariwisata.


“Selama pandemi rumah subsidi merupakan yang masih realistis untuk terjual. Dari tahun 2020 ke 2021 ada kenaikan penjualan di atas 20 persen. Sekarang karena sektor lain sudah bangkit, dan rumah subsidi murah, otomatis itu terserap,” ujar Ketua DPD REI Bali, I Gede Suardita saat dihubungi Senin (24/5).


Wilayah penjualan untuk rumah subsidi di Bali diantaranya Negara, Buleleng, Tabanan, Karangasem dan Klungkung. Dari sekian kabupaten, tercatat demand tertinggi berada di wilayah Tabanan dan Buleleng. 


“Khusus di Tabanan, daerah tersebut merupakan wilayah penyangga Sarbagita. Selain Tabanan, ada Denpasar, Gianyar, Badung, itu dalam penyangganya. Dan rumah subsidi selain murah, ada beberapa fasilitas kemudahan. Seperti uang muka hanya 1 persen, bunga 5 persen, subsidi untuk uang muka dari pemerintah sebanyak Rp 4 juta,” katanya.


Menurutnya, pada tahun 2020 target awal FLPP sekitar 3.000 unit. Namun karena pandemi Covid-19, target tersebut hanya bisa terealisasi setengahnya. Maka pada 2021, target menjadi lebih tinggi sekitar 5.000 unit yang merupakan gabungan dari kekurangan target sebelumnya dan target pokok per tahun.


“Astungkara perekonomian membaik dengan digalakkannya vaksin secara masif dan Bali menjadi zona hijau. Saya optimis target terwujud sampai akhir tahun. Karena memang menurut data statistik dari BPS, kebutuhan untuk rumah di Bali itu di atas 15 ribu,” ungkapnya.


Sementara itu, dia menambahkan, saat ini developer untuk membuat rumah subsidi semakin diselektif oleh PUPera melalui aplikasi Sikumbang dan SiKasep. Yang mana, hanya developer berizin dan tergabung asosiasi, baik izin developer maupun izin proyek, yang bisa membuat rumah subsidi. 


Suardita menyebutkan, harga rumah subsidi di Bali tahun 2021 masih sama dengan harga tahun 2021 yakni sebesar Rp 168 juta. Umumnya, harga rumah subsidi naik sekitar 8 persen setiap tahun. Diduga karena pandemi, untuk tahun 2021 tidak ada kenaikan.


Lebih lanjut dia mengatakan, pembeli rumah subsidi memang untuk ditinggali dan bukan sebagai investasi masa depan. Hal ini mengacu pada persyaratan yang telah berlaku. “Jadi pembeli memang membelinya untuk rumah pertama. Karena ada persyaratannya itu,” kata dia.


Sementara peningkatan penjualan juga terjadi pada perumahan kelas menengah dan atas atau rumah komersil. Namun persentasenya, kata dia, tidak setinggi penjualan rumah subsidi. “Untuk rumah komersil dari tahun kemarin memang pada 2021 sudah ada kenaikan juga, tapi persentasenya tidak sebesar penjualan rumah subsidi. Ini karena rumah komersil segmen pasarnya masih ada,” tandasnya.(ika)

Editor : Nyoman Suarna