DENPASAR, BALI EXPRESS – Mengikuti aturan PPKM Darurat dari pemerintah, salah satu pusat perbelanjaan di Denpasar, Tiara Dewata, mesti menutup sejumlah sektornya yakni departement store dan arena bermain anak. Maka sektor yang beroperasi di Tiara Dewata hanya supermarket.
“Jadi supermarketnya tetap buka, karena harus mendistribusikan produk pangan. Kami buka mulai pukul 07.00 hingga 20.00 Wita. Sementara untuk bidang usaha yang lain seperti food court dan food center teknisnya juga dilakukan sesuai dengan petunjuk SE Gubernur. Yang mana, pelayanan diterima hanya untuk take away,” ujar Manager Operasional Tiara Dewata, Novie Setyo, Minggu (4/7).
Semua kegiatan yang berlangsung di tempatnya pun tetap menerapkan protokol kesehatan 6M. Meliputi memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi keramaian, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama.
Dari pantauan di lapangan, masyarakat tampak memadati kawasan supermarket untuk membeli berbagai macam bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari. Terlihat juga banyak petugas dari Tiara Dewata seperti karyawan supermarket dan satpam turut menjaga jarak masyarakat agar tidak terjadi kerumunan.
Soal ramainya para pengunjung yang berbelanja ini, menurut Novie, merupakan salah satu jenis panic buying dari masyarakat. “Di Indonesia, kalau ada konteks yang seperti menyulitkan itu akan terjadi seperti panic buying. Padahal sudah kami jelaskan kami akan mendistribusikan pangan dan untuk masyarakat jangan khawatir. Kami sudah lakukan pemenuhan stok untuk kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan masyarakat Denpasar,” katanya.
Novie mengakui, memang tidak bisa menghindari pemikiran masyarakat yang mungkin berpikir tidak akan kebagian bahan pangan. Sehingga jumlah konsumen yang datang ke supermarket Tiara Dewata cukup banyak. “Dan memang biasanya yang diburu adalah produk-produk makanan kebutuhan pokok,” sebutnya.
Di sisi lain, menurut Ketua Aprindo Bali, Agung Agra Putra, saat dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group), panic buying bersifat sementara. Dalam hal ini, sama seperti awal pandemi pada 2020 lalu. Yang mana, panic buying tahun lalu hanya terjadi pada periode Maret yang secara kebetulan bersamaan dengan parayaan Nyepi. “Saat itu kami memang mengalami pertumbuhan yang luar biasa, tetapi setelahnya tren menurun. Saya rasa kali ini pun begitu, apalagi sekarang awal bulan,” terangnya.
Umumnya, kata dia, awal bulan menjadi periode masyarakat berbelanja untuk kebutuhan bulanan. Sehingga belum bisa dipastikan secara tepat apakah keramaian yang terjadi di supermarket atau toko-toko lainnya merupakan bentuk dari panic buying. “Jadi kami belum bisa memastikan apakah ini panic buying atau kebiasaan dari masyarakat kita untuk berbelanja bulanan,” katanya.
Sementara itu, Agung Putra memastikan, stok kebutuhan pokok selalu tersedia, artinya tidak sampai terjadi kekosongan. Namun apabila itu terjadi, kemungkinan dikarenakan jalur distribusi yang terhambat. “Tapi di sisi lain daya beli masyarakat masih turun, sehingga konsumsi juga berkurang. Jadi malah yang terjadi sekarang over supply,” tandasnya.(ika)
Editor : Nyoman Suarna