Koperasi saat ini, sudah harus mengadaptasi perkembangan teknologi digital dalam melayani masyarakat. Keuangan mikro, perlu diperhatikan serius sehingga dapat berinovasi dan mencapai tujuan yang diharapkan, yakni mensejahterakan anggota, mampu bertahan, bersaing, dan berkembang di era digitalisasi ini.
Menurut CEO Djoin, I Wayan Indra Adhi Suputra, kehadiran-kehadiran startup untuk mendukung koperasi modern sangat diperlukan. Hingga saat ini, kata dia, terdapat 42 koperasi yang sudah bersinergi dengan Djoin. Menurutnya, koperasi yang sudah bergabung ini tidak hanya dari Bali saja, akan tetapi juga dari beberapa daerah lainnya, yakni dari NTB dan NTT.
“Djoin ini merangkul dan berkembang bersama koperasi. Kami tidak hanya dari bidang teknologi saja, akan tetapi juga dari SDM, pemodalan, hingga pangsa pasar,” ujarnya saat diwawancara usai acara re-branding Djoin di Denpasar, Rabu (20/7).
Menurutnya, koperasi yang sudah bergabung ini sudah berjalan dengan baik dan memanfaatkan teknologi. “Mayoritas koperasi yang bergabung dari Bali. Berikutnya, juga sudah ada permintaan untuk bergabung dari Lampung, Yogyakarta, dan Semarang sudah ada yang mau gabung dengan kami,” katanya.
Pandemi covid-19 membuat akselerasi transformasi digital berjalan 10 kali lebih cepat dari yang direncanakan, hal ini juga didukung dengan data transaksi ekonomi digital meningkat 25 persen selama pandemi, serta perkembangan start-up yang sebagian besar didorong oleh inovasi anak muda Indonesia.
Koperasi yang sejatinya merupakan soko guru ekonomi bangsa sudah seharusnya berkembang menjadi koperasi modern agar dapat mendorong pertumbuhan UMKM demi menunjang pemulihan ekonomi Indonesia.
Dengan bergabung ke Djoin, pihaknya berharap koperasi yang sudah bergabung mampu menafaatkan teknologi, dan juga solusi dari Djoin. “Jadi mereka bisa meningkatkan produktivitas, transparansi, dan koperasi bisa mendapatkan akses market yang lebih besar. Karena seperti kita ketahui, orang yang mengetahui koperasi hanya generasi baby boom atau yang senior, tapi yang muda ini belum banyak yang tahu. Nah disitulah keberadaan Djoin ini, generasi milenial ini bisa menjadi anggota koperasi,” tuturnya.
Komisaris Utama Djoin, Edi Permadi menuturkan, Djoin merupakan momentum untuk memulai memahami ekonomi Pancasila. Yakni mengembangkan ekonomi Pancasila dalam era modernisasi ini. Khususnya sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Pihaknya membeberkan keunggulan koperasi dengan koorperation (perusahaan), yakni koperasi dititikberatkan dengan keputusan anggota. Satu anggota satu suara dalam menentukan arah kebijakan koperasi, sehingga menjadi kekuatan untuk tumbuh dan berkembang bersama. “Koperasi akan berpikir global namun tetap berperilaku kita culture yang sangat kental di Bali ini. Djoin ini juga sejalan dengan presidensi G20 dalam upaya peningkatan ekonomi, demokrasi, dan digitalisasi ekonomi kerakyatan,” katanya.
Sementara itu, Ketua STMIK Primakara, I Made Artana mengatakan, Djoin diharapkan dapat menjadi pematik semangat startup di Bali. Mengingat saat ini, Bali masih mengandalkan ekonomi dari satu sektor saja, yakni pariwisata. “Ke depan harus mampu melahirkan industri keratif ekonomi digital di Bali, karena ekonomi digital ini menjadi salah satu pilah penopang ekonomi digital di Bali. Kita bermain di ranah inaternasoinal, karena digital. Salah satu bukti, yakni adanya komunitas digital nomad di Canggu, yakni bekerja dari Bali sambil berlibur. Kita harap ke depan semakin banyak ekonomi kreatif digital tumbuh,” harapnya.
Menteri Koperasi dan UMKM RI, Teten Madsuki yang hadir secara virtual pun mengapresiasi pergerakan koperasi modern ini. Menteri Teten mengatakan, Djoin ini mengubah mindset koperasi. Tidak hanya menjadi lokal bisnis, tapi modern melalaui sentuhan digital, sehingga mampu meningkatkan kualitas layanan, dan transparansi.
“Saya menyambut baik dan mengapresiasi hadirnya Djoin yang turut serta berkontribusi dalam memajukan koperasi di Indonesia, tidak hanya melalui sentuhan digital melainkan sisi holistik juga. Hadirnya Djoin saya harapkan mampu memberikan nuansa baru dalam mengakselerasi pertumbuhan koperasi modern di Tanah Air,” komentarnya.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bali, Wayan Koster melalui Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Wayan Ekadina juga menyampaikan apresiasi. “Dari nama Djoin, terkandung harapan yang luar biasa. Semoga dengan transformasi ini, mampu memberikan semangat dan energi baru, berkolaborasi bersama melalui sejumlah “solusi sakti” membangun ekosistem digital. Pada akhirnya diharapkan mampu berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat,” katanya. Editor : I Dewa Gede Rastana