Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menu Simpel, Dipanggil Kakiang dan Niang Bila Ngopi di Kedai Kakiang

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 5 November 2022 | 14:54 WIB
SEDERHANA : Suasana kedai Kopi Kakiang 40 di Kelurahan Banyuasri, Buleleng. Dian suryantini/Bali Express
SEDERHANA : Suasana kedai Kopi Kakiang 40 di Kelurahan Banyuasri, Buleleng. Dian suryantini/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS - Bangunan tua bekas rumah dinas di Jalan Sedap Malam Nomor 20, Kelurahan Banyuasri, Buleleng, terlihat sedikit menonjol. Yang ikonik adalah warna warni biji kopi terlukis di tembok bangunan. Ya ini tak lepas dari rumah tersebut yang telah disulap menjadi kedai kopi sederhana bernama Kopi Kakiang 40.

Berbeda dengan tempat penjualan kopi lainnya, kedai ini benar-benar natural. Tidak saja bangunannya yang dibiarkan sederhana, menunya pun cukup simpel dan sederhana. Hanya kopi, teh dan roti bakar. “Tapi bukan pengopi. Kalau disini basicnya Arabika sama Robusta. Tidak dibuat dengan macam-macam. Cuma dicampur susu saja kalau mau kopi susu,” kata owner Kopi Kakiang 40, Ida Bagus Made Mahadi Kemenuh, saat ditemui Jumat (4/11) sore.

“Disini saya grider sendiri dengan karakter gilingan sendiri,” sambungnya. Penyajian kopi di kedai ini juga disuguhkan dengan cara manual. Hanya dengan sistem saring tanpa menggunakan mesin kopi.

Memang, sekilas tidak ada yang membedakan penyajian dari warung kopi biasa. Tetapi yang membedakan adalah pemilihan biji kopi yang disesuaikan dengan selera pelanggan. “Jadi kopinya tanpa kalibrasi atau bagaimana-bagaimana. Kalau di coffee shop itu sudah pakai mesin espresso. Jadi ya sederhana saja, tempat yang sederhana, menu yang sederhana, sehingga yang kesini itu seperti rumah temen saja. Koneksi antara satu dan lainnya terjalin,” terangnya.

Konsep sederhana ini dibuat agar seluruh kalangan dapat menikmati kopi. Setidaknya ingin bersantai meski usia sudah matang. Dengan kondisi dan suasana bangunan yang tua, pelanggan yang datang dapat menikmati kopi sambil mengingat kenangan. “Ini masalah segmen, tidak mengintimidasi. Misalnya yang usia 40 ke atas kalau lihat etalase coffee shop yang istimewa, itu merasa malu datang ke sana. Jadinya konsep tempat ini terbuka untuk siapa saja,” kata dia.

Keunikan lain yang paling menonjol adalah panggilan kepada pelanggan. Berbeda dari kedai kopi lainnya yang memanggil pelanggan dengan sapaan kakak, di tempat ini pelanggan disapa dengan panggilan Kakiang dan Niang. Terdengar menggelitik, namun dibalik panggilan itu ada kesan menghormati pelanggan karena Kakiang dan Niang adalah panggilan halus untuk kakek dan nenek.

“Kalau di tempat lain manggilnya kakak kan sudah biasa. Ini unik aja. Karena gak ada yang pakai. Memang seperti manggil kakek dan nenek. Tapi kakiang-niang itu bahasa yang paling halus, kesannya seperti menghormati. Jadi secara tidak langsung namanya juga kami kenal. Kalau mereka rutin kesini jadinya akrab dan kami ingat namanya si pelanggan itu,” ungkap pria yang akrab disapa Gus Adi ini.

Terkait nama Kopi Kakiang 40, terinspirasi dari pengalaman Gus Adi yang diperkenalkan mengenai kopi oleh sang kakek. Kenangan terkait hal itu diabadikan Gus Adi lewat nama kedai. Sementara angka 40 yang bertengger di belakang nama adalah usia Gus Adi saat memulai bisnis kedai kopi tersebut.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Menu Simpel #Dipanggil Kakiang dan Niang #Ngopi di Kedai Kakiang