Kios Bubur Manis ini tersembunyi di tengah gang perumahan. Di depan gang, tidak ada plang nama kiosnya. Namun siapa sangka, dalam sehari bisa meraih omzet hingga Rp 3 juta hanya dengan berjualan bubur.
DENPASAR, BALI EXPRESS- Lilis Susiani, 50, berjualan bubur manis di balik jendela rumahnya. Ia menggunakan satu ruangan kosong berukuran 2x3 meter. Hanya ada satu meja dan tiga kursi di luar untuk pelanggan yang memesan. Itupun dibawa pulang, tidak makan di tempat.
Usaha buburnya dinamai Buburku, sudah buka dari lima tahun lalu. Lokasinya di Jalan Tukad Yeh Aya, Gang V, Panjer, Denpasar Selatan. Banyak macam bubur manis bisa dijumpai. Mulai dari bubur mutiara, bubur sumsum, bubur candil, dan bubur ketan hitam. Mau dicampur semua? Boleh saja. Per porsi dibanderol Rp 10 ribu, atau bisa pilih ukuran kecil seharga Rp 5 ribu. “Orang bilang Bubur Madura bisa, Bubur Bali juga bisa,” katanya saat ditemui Senin (30/1).
Kendati berlokasi di dalam gang, pelanggan sejak pagi sudah datang silih berganti. Ada ojek online dengan jaket hijau. Ponselnya pun terus berdering tanda pesanan lewat aplikasi online bermunculan. Saking ramainya, tiga jam saja buburnya sudah ludes. Padahal ia menyiapkan dua panci untuk masing-masing jenis bubur.
“Saya siapkan dua panci, isinya 2-3 kilogram bubur. Dari pukul 07.00 Wita, pukul 09.30 Wita sudah habis. Kadang kalau sepi, pukul 10.00 Wita baru habis,” ungkap perempuan kelahiran Tuban, Jawa Timur ini.
Lilis bercerita awal mula berjualan bubur ini karena iseng. Waktu itu, teman-temannya main ke rumah. Ia pun menyuguhkan dengan hidangan bubur buatannya. Rasanya dibilang enak, manisnya pas. Ia pun disarankan untuk coba menjual bubur tersebut.
“Mulanya saya dan suami jualan macam-macam kue di toko. Ditutup, karena sudah makin banyak pasar yang ada warung kuenya. Terus kami lanjut ini (bubur),” kata dia.
Bermodalkan ponsel, ia mengenalkan dagangannya. Lewat aplikasi WhatsApp, Facebook, dan sejenisnya. Berselang lama, sudah cukup banyak yang tahu. Mulai anak-anak, remaja, hingga orang tua. Pelanggan-pelanggannya bahkan sampai ke ranah instansi seperti perbankan. Dipesan ratusan porsi, biasanya untuk tamu-tamu pusat. Dalam seharinya, buburnya bisa laku 250-300 porsi. Dengan harga Rp 10 ribu per porsi, paling tinggi ia bisa mengantongi Rp 3 juta per hari.
Selama lima tahun berjualan, ia juga merasakan dampak pandemi Covid-19. Bedanya, jualannya justru kian untung. “Waktu Covid-19 itu kan banyak orang yang tidak bisa keluar, kami kerjanya online, jadi online makin ramai. Kalau sekarang rata, karena orang-orang sudah banyak yang tahu, banyak yang datang,” terangnya.
Bubur manis ini asli racikan sendiri. Dibantu suami, mereka menyiapkannya mulai pukul 03.00 Wita. Ia berjualan setiap hari, kecuali Minggu. “Perbedaannya kami pakai bahan premium. Tanpa bahan pengawet, bahan pewarna. Jadi walaupun bubur sumsum, tidak pakai pewarna, semua pakai dedaunan. Kami buat tape, uli, semua tanpa pewarna. Dijamin tidak akan sakit tenggorokan,” katanya.
Tidak hanya beragam buburnya, ia juga menjual tape uli ketan. Kalau sudah hari raya seperti Galungan dan Kuningan, menurut dia, jajanan satu ini maskotnya. Bagaimana tidak, ia bisa menerima pesanan 300-300 kilogram tape uli.
Pesanan ini pun datang dari instansi untuk parsel. Usaha jajan satu ini, ia geluti 20 tahun. Tetapi kalau harian biasa, ia hanya menjual tidak lebih dari 5 kilogram. “Kalau sudah Galungan-Kuningan, kami closed order. Bubur kami tutup. Fokus ke tape uli,” cetusnya.
Disinggung mengapa tidak menyediakan tempat makan, Lilis tersenyum. Katanya, belum ada keinginan. “Karena tempat juga tidak ada. Ini kan usaha kecil-kecilan untuk sehari-hari saja,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya