Sambel Bohay adalah salah satu UMKM di Kabupaten Bangli yang telah memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk. Tak heran, salah satu produk yang dihasilkan, yakni bumbu rujak buah tidak hanya beredar di Bali. Seperti apa?
APRIANI, pemilik usaha Sambel Bohay saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, Jalan Nusantara, Banjar Gunaksa, Kelurahan Cempaga, Bangli, Selasa (14/2) siang, sempat menunjukkan dua ruangan yang tidak terlalu luas.
Satu ruangan khusus untuk membuat bumbu rujak buah dan produk lainnya, tapi hari itu kebetulan sedang libur. Satu ruangan lagi tempat menyimpan produk-produk yang sudah siap dijual.
Dalam menjalankan usahanya, ia mengajak seorang karyawan. Satu orang saja sudah cukup. Sebab Apriani turun langsung meracik produk Sambel Bohay dan dibantu suaminya. “Pulang sekolah baru saya bikin. Biar sama-sama jalan,” kata Apriani mulai membuka cerita soal Sambel Bohay. Selain sebagai pelaku UMKM, Apriani adalah guru di SMKN 4 Bangli.
Perempuan dengan nama lengkap Ni Nengah Yudi Apriani ini mengatakan, Bohay di sini artinya Bali, ordinary, higienis, autentik dan yummy. Produk unggulannya adalah bumbu rujak buah. Selain itu ada bumbu masak khas Bali, seperti bumbu genep, bumbu suna cekuh, sambel lalapan dan plecing.
Bumbu rujak ini yang sudah dipasarkan ke mana-mana, kalau bumbu masak masih sebatas di Kota Bangli. “Semua produk saya tanpa bahan pengawet. Kalau bumbu masak hanya bertahan paling beberapa hari, tapi bumbu rujak bisa bertahan sampai 3 bulan kalau ditaruh di kulkas. Jadi bumbu rujak ini yang dipasarkan sampai keluar Bangli karena lebih tahan lama,” bebernya.
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berusia 38 ini menceritakan, usahanya itu mulai dirintis awal 2017. Bermula ketika suaminya, I Wayan Oka Sudarma yang saat itu bekerja di kapal pesiar memutuskan berhenti dan memilih menetap di Bali. Otomatis, Apriani berpikir bahwa pendapatan keluarga akan berkurang.
Sebagai seorang guru yang kala itu berstatus tenaga kontrak, Apriani mencari cara agar bisa menambah penghasilan, tapi tidak mengabaikan tugasnya sebagai tenaga pendidik. “Jadi saya memutuskan jual bumbu rujak buah,” lanjutnya.
Ia mantap menjalankan usaha itu karena memang hobi memasak. Sebelum akhirnya menjadi ladang penghasilan, ia sudah sering membuat bumbu itu untuk orang-orang terdekatnya. Ternyata dibilang enak. Di samping itu, persaingan, khususnya di Bangli juga tidak ada. “Ya sudah, saya mulai menjual bumbu rujak. Kemudian berkembang jual bumbu masak dapur,” ungkapnya.
Saat awal merintis, pemasarannya masih dengan cara tradisional. Ia memasarkan sendiri ke para pedagang buah di Pasar Kidul, Bangli. Satu botol kemasan 250 mililiter (ml) dijual dengan harga Rp 12 ribu dan kemasan lebih kecil 80 ml seharga Rp 5 ribu. Lama-kelamaan bumbu rujak buah itu semakin dikenal. Ia pun semakin semangat melebarkan pemasaran termasuk melengkapi semua izin yang diperlukan, dan kini sudah berlabel halal.
Pemasaran tak hanya dengan cara konvensional, tapi juga memanfaatkan platform digital yang tengah berkembang, seperti Facebook, Instagram, Tiktok hingga marketplace. Alhasil, bumbu rujak buah dengan bahan gula merah, cabai, garam, terasi dan asam jawa itu bisa tersebar di beberapa wilayah di Bali, termasuk keluar daerah, bahkan sampai ke luar negeri.
Dalam sebulan, rata-rata memproduksi 2000 botol dengan omzet sekitar Rp 30 juta. “Kalau di Bangli itu sudah sampai ke pelosok desa. Di Gianyar ada di Ubud, Payangan dan Tegallalang. Kemudian di Klungkung sampai di Kota Klungkung, Kecamatan Dawan, dan nyebrang ke Nusa Penida. Ada yang lewat distributor, ada pesan secara online,” beber guru Bahasa Inggris itu.
Untuk ke luar Bali, sudah biasa melayani pesanan dari Surabaya, Jakarta, Kalimantan, dan Papua. Ia juga menegaskan bahwa produk tersebut sudah tembus luar negeri. Konsumennya adalah para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali yang bekerja di kapal pesiar. Mereka yang bekerja di luar negeri itu biasanya nitip ke teman-temannya yang kebetulan pulang ke Bali.
Apriani kembali menegaskan, produknya itu bisa menyasar daerah-daerah yang tidak ia duga sebelumnya, tidak terlepas dari digital marketing. Apriani merasakan betul manfaat pemasaran lewat dunia maya itu, meski tidak langsung pesan via online, minimal mereka tahu dulu barang yang dipasarkan. Mereka juga bisa mengintip testimoni dari orang-orang yang telah merasakan sensasi bumbu rujak buatannya. Biasanya, mereka yang sudah pernah membeli akan testimoni di kolom komentar. “Pemasaran online itu benar-benar berpengaruh,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Bangli Luh Ketut Wardani mengatakan sudah banyak pelaku UMKM di Bangli memasarkan produk secara online. Sehingga produknya tidak hanya beredar di Bangli. “Kami memang mendorong, produk-produk yang memang bisa dipasarkan lewat online agar dipasarkan seperti itu. Dan sekarang sudah banyak UMKM kita memanfaatkan itu,” terang Wardani ditemui belum lama ini. (wan)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya