DENPASAR, BALI EXPRESS – Bali, dengan pesona pariwisatanya yang mendunia, telah menjadi tempat yang penuh potensi bagi berbagai jenis bisnis. Salah satu usaha yang semakin berkembang di pulau ini adalah budidaya Kodok Lembu.
Dalam dua tahun terakhir, peternak hewan amphibi yang lumrah disebut Bullfrog ini di Bali mengalami pertumbuhan yang pesat, terutama karena permintaan yang terus meningkat dari industri kuliner lokal terutama restoran.
Seperti penuturan peternak Kodok Lembu, Wayan Suryawan yang berlokasi di Jalan Tunjung Sari, Padangsambian Kaja, Denpasar Barat. Ia menuturkan potensi pasar Kodok Lembu ini begitu terbuka lebar di Bali.
“Saya baru mulai bisnis ini dua tahun lalu. Mulai dari belajar cari bibit, pembesaran dari kecebong jadi percil, dan terakhir belajar pemijahan,” ujar Suryawan.
Hanya saja, pasokan Kodok Lembu di Bali masih belum mencukupi permintaan pasar lokal. Sesuai dengan pengalamannya, restoran rata-rata memerlukan sekitar 600 kg Kodok Lembu per bulan. Namun, pasokan saat ini masih jauh di bawah angka ini.
“Yang dikonsumsi itu daging, kulit, dan ususnya untuk yang ukuran besar,” imbuhnya.
Sebagai peternak, Suryawan tentu mendapat tantangan. Menurutnya, para peternak Kodok Lembu di Bali salah satu kendala utamanya adalah pasokan bibit yang tidak stabil.
“Proses pengadaan bibit saat ini tidak dapat diprediksi, dan hasil penetasan telur seringkali tidak sesuai dengan harapan,” tegasnya.
Selain itu, tingkat kelangsungan hidup kodok kecil (kecebong) hingga mencapai tahap siap jual juga menimbulkan tantangan. “Dari 10 ribu telur, hanya sekitar 5-6 ribu yang berhasil mencapai tahap ini,” serunya.
“Sementara proses panen dimulai dari telur hingga mencapai tahap siap jual memerlukan waktu sekitar 4-5 bulan,” sambungnya sembari mengatakan untuk omset yang mampu ia raup sejauh ini mencapai Rp15 juta setiap bulannya.
Untuk harganya itu kata Suryawan berbeda-beda tergantung size meliputi Rp45 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram. Terkait lahan, ia menuturkan di lokasi yang ia beri nama Rumah Kodok Amertha saat ini memiliki luas 1 are. Meskipun memiliki lahan yang terbatas, ia berhasil mengoptimalkan ruang yang dimiliki.
“Dalam satu are, saya biasanya menghasilkan sekitar 400 kg kodok setiap bulannya,” jelasnya.
Selain bibit, tantangan lainnya dalam budidaya Kodok Lembu ini adalah penyakit, terutama kaki merah. Namun, hingga saat ini, kasus penyakit ini belum meluas di Bali.
“Kalau sekarang paling katarak saja. Tapi penyakit ini bisa dikendalikan melalui manajemen kolam yang baik dan pemantauan intensitas cahaya,” imbuhnya.
Dia pun berharap, pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan, memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan industri ini terutama subsidi untuk modal dan pakan. “Kalau untuk pakannya sama seperti ikan yaitu pakai pellet. Kadang juga diberi serangga untuk selingan saja,” tandas Suryawan. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana