DENPASAR, BALI EXPRESS - Pilpres semakin panas menjelang Februari 2024 mendatang. Kampanye mulai ramai, baliho para caleg mulai bertebaran, begitu juga kaos-kaos, bendera, alat peraga kampanye (APK) lainnya.
Hal ini tentunya mendongkrak aktivitas ekonomi. Meski begitu, peredaran uang yang meningkat ini dikhawatirkan menyebabkan inflasi.
Menurut Akademisi dari Undiknas Prof. IB Raka, kebutuhan APK jelang pemilu akan memicu peningkatan peredaran uang. Secara teori jika peredaran uang lebih banyak, pasti akan terjadi peningkatan harga barang. “Peserta pemilu akan menarik uangnya di bank dan membelanjakannya sehingga dipastikan peredaran uang akan meningkat,” katanya belum lama ini.
Selain itu, dikatakannya, uang yang selama ini tidak tersimpan di bank, dengan momen pemilu akan digunakan untuk menyukseskan tujuannya, maka akan semakin meningkatkan potensi inflasi. Uang yang digunakan tidak hanya untuk kampanye yang terlihat di publik, namun juga kampanye hitam dan kampanye negatif juga akan semakin meningkatkan peredaran uang. “Serangan fajar, pembelian logistik pasti akan meningkatkan permintaan barang,” ucapnya
Lebih lanjut, ia menilai potensi Indonesia chaos akan meningkat. Hal ini dilihat dari konsisi perpolitikan di Indonesia yang akan memanas jelang pemilu, ditambah dengan kondisi di luar negeri dengan adanya perang di Palestina, dan masih berlangsungnya ketegangan di Ukraina..
“Kondisi ekonomi tidak bisa dipengaruhi dari faktor internal saja, juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, rupiah juga akan sedikit terganggu sekarang. Tentu ini berbahaya juga karena banyak barang – barang konsumsi yang bahan baku dari impor, tentu membuat harga meningkat. Sehingga banyak kebutuhan yang berasal dari impor yang akan berdampak pada inflasi,” jelasnya.
Sementara perang yang terjadi di timur tengah, namun perang antara Rusia dan Ukraina masih terjadi yang notabene pemasok gandum. Meskipun Indonesia tidak mengimpor dari Rusia maupun Ukraina tapi Eropa yang mengalami hambatan sehingga membeli di negara lain yang notabene mengganggu supply ke Indonesia. “Itu yang menyebabkan harga terigu meningkat,” katanya.
Namun, ia melihat, kondisi pemilu tahun ini lebih kondusif. Meski demikian kontestasi politik yang akan diikuti 3 pasangan calon ini juga perlu diperhatikan dampak penggunaan sumber dayanya untuk meraih simpatisan. “Jika 5 tahun lalu hanya 2 kontestan, tahun ini 3 kontestan, tentu akan berdampak kepada sumber daya yang ada sehingga semakin meningkatkan permintaan,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menuturkan, menghadapi masa kampanye dan pemilihan umum (pemilu), pihaknya berupaya untuk mempertahankan stabilitas harga di komoditas pangan volatile foods menjelang akhir tahun dan awal-awal tahun 2024.
“Untuk komoditasnya, kita harus berhati – hati kepada komoditas volatile food yang secara historis sering muncul menekan harga pada akhir tahun seperti cabai rawit, cabai merah dan beras yang akhir-akhir ini tinggi harganya,” katanya.
Sementara puncak el nino diperkirakan mulai mereda November seiring perkiraan mulai munculnya curah hujan. Bila musim kemarau panjang, maka akan mempengaruhi musim tanam dan panen raya tahun berikut yang biasanya pada Maret-April.
Ia menilai, pola pemilu berbeda dengan momen hari raya. Justru menurutnya demand yang meningkat tinggi umumnya terjadi pada saat hari raya dan akhir tahun. “Jika momen pemilu, tampaknya tidak naik tinggi. Saya harus lihat dulu pola demand pemilu di bali pada periode sebelumnya,” katanya.
Sementara itu, Akademisi dari Universitas Udayana Prof. Wayan Ramantha mengatakan, untuk memprediksi kemungkinan inflasi di masa pemilu, ada dua hal yaitu APK (Alat Peraga Kampanye) seperti pakaian, banner, baliho yang memiliki ketersediaan terbatas dibandingkan potensi permintaan. Namun perusahaan yang memproduksi APK sudah sangat banyak sehingga kenaikan harga akan tipis, sehingga komoditas yang berkaitan langsung dengan pemilu, tipis kemungkinan harga naik terus menerus sehingga inflasi dari sisi komoditas pemilu, tipis.
Sedangkan inflasi cukup banyak dipengaruhi kebutuhan konsumsi, kebutuhan primer yang disebabkan karena masyarakat ingin berjaga-jaga jiak dalam pesta demokrasi terjadi kekacauan, yang pada akhirnya masyarakat ingin aman. Sehingga masyarakat belanja lebih tinggi dari hari normal sehingga hal ini mendorong inflasi.
“Kalau masyarakat memperkirakan ketidakamanan, maka pesta demokrasi akan menyebabkan mereka berbelanja melebihi kuatitas kebutuhannya, namun kondisi yang terjadi saat ini, tidak terjadi chaos, keributan sehingga dengan demikian kesimpulan kebutuhan primer, APK kelihatannya dari dua sisi itu tipis kemungkinan terjadi inflasi,” paparnya.
Selain itu, semua kontestan berjanji dan berorientasi pesta demokrasi akan berjalan kondusif. Meskipun ada 3 calon menurutnya dampaknya tidak terlalu signifikan, kecuali terjadi persaingan terlalu sengit.
“Barangkali yang ada, jika kemungkinan terjadi dua kali putaran dengan jarak putaran yang dekat, maka dampaknya juga tidak terlalu tinggi. Itu juga tidak akan mendorong permintaan yang signifikan. Kecuali pemilu dilaksanakan pada saat hari raya keagamaan, maka inflasi yang terjadi bisa saja disumbang oleh hari besar keagamaan tersebut bukan pemilu,” tandasnya.(*)
Editor : I Dewa Gede Rastana