BALI EXPRESS - Pemilik usaha Tenun Ikat Sari Arta, Nyoman Sedana mengatakan, menjelang hari raya Galungan, permintaan terhadap kain tenun Endek Mastuli melonjak.
Meski demikian, pihaknya tidak bisa memenuhi permintaan karena para penenun tidak mau menenun.
Dijelaskan Nyoman Sedana, ada semacam keyakinan di Bali Utara, khususnya di Desa Kalianget bahwa saat jelang Galungan penenun pantang menenun. Sehingga proses produksi kamen Endek Mastuli tersendat.
Alasannya, hasil kerja mereka tidak akan direstui para leluhur sehingga kain Endek Mastuli tidak laku.
“Secara logika, menjelang Galungan penenun sudah mulai disibukkan dengan persiapan membuat sesaji. Namun secara niskala, para penenun percaya bahwa hasil kerjanya tidak akan direstui oleh para leluhur,” ungkapnya.
Kata Sedana, kalaupun menenun menjelang Galungan sebenarnya tidak masalah. Namun karena mungkin sudah dari dulu dipercayai seperti itu, para penenun tidak mau mengambil kerjaan.
Untuk menyiasati hal itu, Sudana meminta para penenun membuat stok jauh hari sebelum Galungan.
Sebagai solusi, agar memenuhi kebutuhan pasar biasanya dilakukan penimbunan produk di gudang. Sehingga, pengrajin tetap menenun meskipun tidak ada yang memesan.
Jadi produk yang sudah jadi disimpan dulu kemudian dipasarkan ketika sedang ramai peminat.
Sedana berharap agar usaha yang dijalani sekarang bisa dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, bahkan dikembangkan menjadi perusahaan yang memiliki aturan jelas.
Ia juga berpesan kepada anak muda agar tidak merasa malu bekerja sebagai penenun dan dicap kuno.
Baca Juga: Nekat! Bocah 14 Tahun di Klungkung Pakai Uang Curian Beli 23 Ekor Anjing dan iPhone 11
“Memang butuh regenerasi dari kalangan anak muda sehingga produksinya bisa terus berjalan,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna