Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sembilan Tahun Bertani Alpukat, Petani di Buleleng Hasilkan Rp 30 Juta Per Pohon Setiap Panen

Dian Suryantini • Sabtu, 17 Februari 2024 | 02:04 WIB
BUDIDAYA : Made Estra dan buah alpukat yang dibudidayakan di desa Gobleg, Buleleng sejak 2015.
BUDIDAYA : Made Estra dan buah alpukat yang dibudidayakan di desa Gobleg, Buleleng sejak 2015.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Made Estra, seorang petani alpukat dari Desa Gobleg, Buleleng, Bali, telah mengubah kecintaannya pada buah asal Meksiko itu menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan.

 

Ia hidup sebagai petani desa sejak 1998. Memasuki tahun 2015, Estra memutuskan untuk beralih profesi dan fokus menekuni budi daya alpukat. Keputusan ini membawanya pada kesuksesan yang gemilang.

 

 

Dengan lebih dari setengah usianya yang telah dihabiskan dalam dunia pertanian, Estra berhasil menghasilkan omzet yang mengesankan. Saat musim panen tiba, setiap pohon alpukat miliknya mampu menghasilkan hingga Rp30 juta.

 

Berawal dari entres atau batang atas yang dia peroleh dari seorang rekan, Estra melakukan pengembangan secara berkelanjutan. Hasilnya, kebun alpukatnya kini dikenal memiliki varietas unggulan dengan kualitas ekspor.

 

 

Menurut Estra, salah satu varietas yang paling diminati oleh masyarakat adalah alpukat mentega. Dari sepuluh jenis alpukat yang ia budidayakan di lahan seluas 1,5 hektare, alpukat mentega menjadi primadona di pasaran.

 

“Buahnya yang lebih lebat dan panen terjadi saat musim langka. Ini membuatnya menjadi pilihan utama di pasaran karena minimnya persaingan,” ungkap Estra.

 

Meskipun penjualan saat ini masih dilakukan secara mandiri, Estra memiliki potensi untuk memasarkan produknya ke pasar internasional. Alpukatnya telah memenuhi standar kualitas ekspor dan dapat menjadi daya tarik bagi pasar luar negeri.

 

Namun, dalam perjalanan bisnisnya, Estra menghadapi beberapa kendala dalam proses pemeliharaan. Gulma dan serangan ulat menjadi tantangan utama yang harus dihadapinya.

 

Keterlambatan dalam membersihkan gulma dapat memperlambat pertumbuhan alpukat, sementara serangan ulat dapat merusak tanaman secara keseluruhan.

 

 

Meskipun demikian, alpukat yang dihasilkan oleh Estra memiliki kualitas unggul. Dengan kulit buah yang lembut dan tidak rata, serta warna hijau hingga ungu kecokelatan, alpukat ini sering digunakan sebagai pengganti daging pada roti lapis atau diolah menjadi hidangan penutup di beberapa wilayah di dunia.

 

Data dari FAO tahun 2019 menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil alpukat terbesar kelima di dunia, dan produsen terbesar di Asia. Catatan tersebut menegaskan bahwa alpukat bukan hanya menjadi bagian penting dari pasar lokal, tetapi juga memiliki potensi besar untuk ekspor, memperkuat peran Indonesia dalam industri alpukat secara global. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#budidaya #bali #petani #unggul #kualitas #alpukat #buleleng