BANGLI, BALI EXPRESS- Arta Yasa sebenarnya tidak memiliki pengalaman dalam berdagang.
Dia memutuskan beralih profesi menjadi pedagang setelah istrinya lolos menjadi guru PNS di Kabupaten Bangli, Bali, yang merupakan kampung halamannya.
Pria dengan nama lengkap I Putu Alit Arta Yasa ini sebelumnya bekerja sebagai sopir taksi Golden Bird di Kota Denpasar, Bali.
Kembali ke kampung halaman di Kelurahan Kubu, Bangli adalah sebuah keharusan agar istrinya bisa lebih dekat dengan tempat kerjanya yang saat itu mendapat tugas di sebuah SD di Desa Ulian, Kecamatan Kintamani.
Dengan mempertimbangkan bahwa satu-satunya pekerjaan yang dapat ditekuni di kampungnya adalah berjualan, Arta Yasa memutuskan untuk membuka warung kecil-kecilan.
Saat memulai usaha warung sekitar tahun 2012, ia menggunakan modal yang minim.
Seingat dia, modal awal untuk membuka warung sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari itu sekitar Rp15 juta.
Uang tersebut sekaligus digunakan untuk biaya renovasi bangunan yang akan dijadikan warung.
Dengan tekad yang kuat, Arta Yasa terus berusaha agar warung yang dirintis tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
"Saya punya tekad, pokoknya warung saya setiap tahun harus berkembang," katanya ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) pada Sabtu, 6 April 2024.
Gayung bersambut. Tepat tahun 2015, ia mendengar program pemerintah berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan oleh BRI.
Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk mengajukan pinjaman sebesar Rp25 juta di Kantor BRI Cabang Bangli.
Sebelum menggunakan modal dari KUR, pria berusia 48 tahun ini mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya karena hanya bisa menambah stok barang dagangan dengan menggunakan hasil penjualan yang terbilang masih kecil, belum lagi harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan yang lain. “Bisa berkembang, tapi agak lambat,” kata Arta Yasa.
Setelah mendapat suntikan modal dari KUR, Arta Yasa bisa menambah barang dagangan dalam jumlah banyak, termasuk segera membeli Pertamini yang menjadi idamannya sejak beberapa tahun. Alasannya, ia melihat peluang untuk menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran.
Kelurahan Kubu terletak jauh dari SPBU menyulitkan masyarakat mengakses BBM.
Selain itu, lokasi warung Arta Yasa yang berada di pinggir jalan utama antara Kota Bangli dan Kecamatan Kintamani membuatnya yakin bahwa bisnis BBM eceran ini mampu meningkatkan omzet warungnya.
"Ternyata benar, waktu itu saya mengandalkan penjualan bensin," tegasnya.
Berselang 2 tahun, pria berkacamata ini kembali ingin menambah modal usaha. Ia pun mengajukan pinjaman KUR di BRI sebesar Rp25 juta.
"KUR kedua ini saya gunakan untuk menambah barang dagangan lagi, seperti alat-alat tulis dan alat-alat listrik," ungkapnya.
Hingga saat ini, bapak dua anak ini sudah memanfaatkan pinjaman KUR BRI sebanyak tiga kali.
Semuanya digunakan untuk mengembangkan usahanya. Tidak hanya menambah barang dagangan, Arta Yasa yang mengaku sangat terbantu dengan suku bunga ringan KUR ini, secara perlahan mampu merenovasi warungnya menjadi toko modern.
"KUR yang ketiga sebesar Rp50 juta. Dengan bantuan KUR, saya bisa menambah modal usaha dan merenovasi warung menjadi seperti ini, jadi toko modern," kata pria 48 tahun ini.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan bahwa program KUR bertujuan untuk meningkatkan dan memperluas akses pembiayaan kepada usaha produktif, meningkatkan kapasitas daya saing UMKM.
Program KUR juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Tahun ini, BRI mendapatkan kuota penyaluran KUR mencapai Rp165 triliun.
Berdasarkan Januari-Februari 2024, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp27,2 triliun kepada 561.000 debitur.
“Jika dihitung, penyaluran tersebut sekitar 16,5 persen dari total jatah KUR yang disalurkan BRI tahun ini,” kata Supari.
Melihat realisasi KUR pada awal tahun 2024, BRI optimis target penyaluran KUR tahun ini bisa mencapai target melalui penerapan strategi bisnis yang berkelanjutan. (*)
Editor : Nyoman Suarna