Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Miris! Petani Nener di Gerokgak Merugi Besar Harga hanya Rp 2 rupiah per Ekor  

I Putu Mardika • Rabu, 7 Agustus 2024 | 20:25 WIB

 

Petani Nener (anakan Bandeng) di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak Buleleng yang sedang melakukan aktifitas packing nener
Petani Nener (anakan Bandeng) di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak Buleleng yang sedang melakukan aktifitas packing nener
BALIEXPRESS.ID-Petani Nener (anakan Ikan Bandeng) di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali menjerit.

Pasalnya, harga bibit nener menyentuh di harga terendah, yakni Rp 2 per ekornya. Kondisi ini membuat petani merugi besar.

Salah seorang petani Nener asal Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Kade Sara Adnyana mengeluhkan harga Nener anjlok.

Pasalnya dengan harga itu, petani tidak dapat menutupi biaya operasional yang semakin membengkak.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kadek Sara Adnyana mengatakan anjloknya harga Nener sudah terjadi sejak Mei 2024.

Anjloknya harga ini belum diketahui secara pasti penyebabnya.

Namun, ia memprediksi jika penurunan harga nener ini dipengaruhi oleh lemahnya daya beli masyarakat yang mengkonsumsi ikan Bandeng.

Menurunya, lemahnya permintaan karena tingkat konsumsi yang masih lemah.

“Petani Nener menangis sekarang. Meski sebagai sentra pembibitan se Asia Tenggara sekarang tidak bisa berbuat banyak,” katanya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Menurutnya, harga Nener biasanya di kisaran Rp 25 rupiah per ekor. Namun, kalaupun anjlok biasanya masih di kisaran harga sekitar Rp 15 rupiah per ekor.

Dengan harga itu, pembudidaya nener masih bisa sedikit bernafas.

“Nah kalau harga Rp 15 rupiah per ekor biaya operasional masih nutup. Tetapi kalau sudah harga Rp 2 rupiah, kami sangat rugi. Karena biaya operasional per ekor nener itu kena Rp 5 rupiah per ekor,” keluhnya.

Disinggung terkait solusi, Sara Adnyana mengaku mempersiapkan konsep hilirisasi.

Dimana, saat harga anjlok diharapkan pembudidaya berkerjasama dengan warga, yakni memberikan secara cuma-cuma nener tersebut kepada warga setempat.

Selanjutnya sistemnya diberdayakan di laut melalui konsep Kerambah Tancap Laut.

“Ini siasat untuk mengantisipasi membengkaknya biaya operasional. Karena kalau murah harganya, telur tidak ada yang netesin (meneteskan),” imbuhnya.

Jika proses penetasan tetap dipaksakan, pihaknya akan rugi dari sisi biaya operasional. Tentu saja, hal ini ibarat makan buah simalakama.

“Kami sudah punya konsep bahwa produk bandeng dan turunannya harus dihilirasi, kami coba dengan Kerambah Tancap Laut yang sudah diujicoba,” sebutnya.

Dirinya menjelaskan, benih nener yang biasanya umur 18 an hari bisa di besarkan ke grade A dan sangat laku.

Kemudian jika dibesarkan lagi ke ukuran gelondongan (ukuran siap tebar ke tambak besar darat maupun ke Keramba Tancap Laut dan Keramba Jaring Apung biasanya antara 7-12 cm sangat diminati.

Biasanya, Ikan yang di Keramba Tancap Laut dan Keramba Jaring Apung memiliki size ukuran 10 ekor per kilogram.

Ikan di Keramba Tancap Laut dan Keramba Jaring Apung yang besar untuk konsumsi minimal 250 gram per ekor disebut Bandeng Premium dan sangat laku.

Jika bahan baku ikan bandeng Premium ini ada, juga akan bermunculan UKM pengolahan masakan berbahan ikan bandeng, pabrik-pabrik pengalengan seperti sarden dan jenis masakan lain juga akan masuk

Dengan adanya Keramba Tancap Laut dan Keramba Jaring Apung yang diisi benih ikan bandeng, secara otomatis akan menyedot hasil nener harian di Kecamatan Gerokgak.

Apalagi jika Keramba Tancap Laut dan Keramba Jaring Apung ada di banyak wilayah Indonesia. Tentu budidaya ikan bandeng sebagai salah satu komoditas ketahanan pangan, bergizi spesial, anti stunting.

Pihaknya sebagai petani Nener dan Bandeng, sangat memperhatikan mutu. Atas kondisi itu, pihaknya membutuhkan sinergi semua pihak dalam mengatasi persoalan anjloknya harga Nener.

“Harus kerja sama semua pihak dan kehadiran pemerintah untuk bisa mempercepat ke budidaya Keramba Tancap Laut ini dan juga ke Keramba Jaring Apung sebagai Solusi untuk mengantisipasi dampak anjloknya harga. Kemarin sudah bekerja sama dengan Kodim Buleleng dan sedang berlanjut sampai sekarang. Masih akan memerluas lagi,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #petani #patas #bandeng #gerokgak #jaring #keramba #laut #ikan #anjlok #nener #buleleng