Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

3 Faktor Utama yang Bisa Pulihkan Bitcoin Pada Maret 2025

Wiwin Meliana • Rabu, 19 Maret 2025 | 16:30 WIB

Bitcoin sebagai aset kripto terbesar dalam beberapa minggu ini mengalami penurunan
Bitcoin sebagai aset kripto terbesar dalam beberapa minggu ini mengalami penurunan

BALIEXPRESS.ID-Kondisi pasar yang mendapatkan tekanan jual terhadap Bitcoin dan Dogecoin membuat banyak trader dan investor resah. Bahkan banyak ahli yang melakukan analisa pergerakan Bitcoin untuk bangkit pada Maret 2025 ini.

Bitcoin sebagai aset kripto terbesar dalam beberapa minggu ini mengalami penurunan. Jika sebelumnya Bitcoin bertengger di kisaran Rp1,5 miliar, maka saat ini harga Bitcoin di seputar Rp 1,3 miliar. Namun sebelum membahas lebih jauh, kamu harus mengetahui analisis fundamentalnya terlebih dahulu.

Baca Juga: Kisah Mistis Tempat Suci Hindu Bali Pura Dalem Goa Peteng: Bukan Gua Biasa, Tempat Berstana Naga Sakral?

Apa itu Bitcoin?

BTC atau Bitcoin ialah jenis mata uang digital atau kripto yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Berbeda dari mata uang konvensional yang diterbitkan dan diatur oleh pemerintah, Bitcoin beroperasi secara terdesentralisasi melalui jaringan peer-to-peer.

Ini berarti tidak ada bank sentral atau lembaga keuangan yang memiliki kontrol penuh. Transaksi Bitcoin dicatat dalam buku besar digital yang dikenal sebagai blockchain, memberikan tingkat keamanan dan transparansi yang tinggi.

Sebagai mata uang digital, Bitcoin tidak memiliki wujud fisik seperti koin atau uang kertas, dan hanya ada dalam bentuk digital yang disimpan dalam dompet digital. Kepemilikan Bitcoin dibuktikan melalui teknik kriptografi, yang memungkinkan transaksi menjadi sangat aman dan sulit untuk dipalsukan.

Sejarah Bitcoin

Aset ini pertama kali diluncurkan kepada publik pada tahun 2009 dengan harga $0, yang berarti tidak ada nilainya sama sekali. Pencipta Bitcoin adalah sosok misterius bernama Satoshi Nakamoto, yang menggunakan nama ini ketika menerbitkan whitepaper BTC pada tahun 2008.

Dalam satu dekade, harga BTC mengalami lonjakan, penurunan, lalu mengalami kenaikan kembali. Siklus-siklus ini terjadi berulang kali hingga membawa Bitcoin ke kondisi saat ini. Banyak kejadian dalam perkembangannya yang mempengaruhi harga Bitcoin yang kita lihat sekarang.

Baca Juga: Sosialisasi Permenaker No. 1 Tahun 2025: BPJS Ketenagakerjaan Denpasar Tingkatkan Perlindungan Pekerja

Meskipun tetap memiliki sifat volatil, aset ini terus menjadi simbol inovasi dalam sektor keuangan. Namun sekarang ini banyak generasi muda yang membeli Bitcoin untuk trading atau investasi.

Fungsi Bitcoin

Mata uang digital

Bitcoin adalah mata uang digital pertama yang dikenal sebagai kripto. Hal ini berarti bahwa ia dapat digunakan untuk melakukan transaksi secara daring, seperti pembelian barang dan jasa, tanpa memerlukan perantara seperti bank atau lembaga keuangan lainnya.

Investasi

Di samping digunakan sebagai alat pembayaran, banyak individu yang melihat Bitcoin sebagai aset investasi. Karena nilainya bisa berfluktuasi secara signifikan, beberapa orang memutuskan untuk membeli aset ini dengan harapan bahwa nilainya akan terus naik. Namun, penting untuk menyadari bahwa investasi dalam BTC mengandung risiko yang tinggi.

Cara Kerja Bitcoin

Bitcoin beroperasi berdasarkan teknologi blockchain. Bayangkan blockchain sebagai buku besar digital yang terdesentralisasi yang mencatat semua transaksi Bitcoin yang telah dilakukan.

Setiap transaksi tersebut dikirim ke jaringan peer-to-peer yang terdiri dari komputer dalam jaringan Bitcoin untuk proses verifikasi. Setelah berhasil diverifikasi melalui metode kriptografi yang rumit, transaksi akan ditambahkan ke blok baru dalam blockchain.

Tiap blok baru terhubung dengan blok sebelumnya melalui kode unik, sehingga menciptakan rantai informasi transaksi yang tidak terputus dan sangat sulit untuk diubah.

3 Faktor Utama Mempercepat Pemulihan BTC

Dilansir dari Pintu Academy, Bitcoin telah jatuh di bawah $80.000 (sekitar Rp1,3 miliar), yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan para investor. Akan tetapi, sejumlah analis mata uang crypto dan ahli ekonomi meyakini bahwa terdapat beberapa faktor kunci yang bisa mendukung kenaikan harga Bitcoin dalam waktu dekat.

Bill Barhydt, CEO Abra, menyatakan bahwa tren ekonomi makro, situasi pasar crypto, serta perubahan dalam kebijakan dan regulasi bisa menjadi pendorong untuk kebangkitan harga Bitcoin.

Tren Ekonomi Makro dan Pengaruhnya terhadap Bitcoin

Bill Barhydt mencatat bahwa meskipun Bitcoin mengalami penurunan, pola saat ini mirip dengan yang terjadi pada tahun 2017. Pada waktu itu, peningkatan likuiditas fiat di seluruh dunia mendorong harga aset, termasuk cryptocurrency, untuk naik.

Baca Juga: Ramah Lingkungan dan Berdampak Sosial, Ini Komitmen Nyata BRI Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan

Dia juga menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang mungkin diterapkan jika Donald Trump terpilih kembali bisa berpotensi mempengaruhi pasar. Beberapa kebijakan ini mencakup penurunan suku bunga obligasi dan hipotek, serta intervensi untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kolaps.

Selain itu, perlambatan ekonomi di Tiongkok bisa mendorong Federal Reserve untuk lebih jauh memangkas suku bunga. Jika semua hal ini terjadi secara bersamaan, maka harga Bitcoin bisa meroket hingga mencapai $713.000 (sekitar Rp11,6 miliar) dalam enam bulan ke depan, meskipun prediksi ini masih bersifat spekulatif.

Situasi Pasar Crypto dan Perubahan Likuiditas

Saat ini, pasar crypto berada dalam keadaan yang rentan, dengan likuidasi besar-besaran yang berlangsung dalam beberapa minggu terakhir. Penurunan harga Bitcoin telah menghasilkan aksi jual yang signifikan, terutama di kalangan investor institusi.

Salah satu perusahaan yang terkena dampak adalah Strategy (dahulu MicroStrategy), yang merupakan pemilik Bitcoin terbesar di dunia. Nilai kepemilikan Bitcoin mereka merosot dari $21,2 miliar (sekitar Rp345,6 triliun) menjadi sekitar $17,3 miliar (sekitar Rp281,9 triliun) akibat penurunan harga tersebut.

Meski begitu, Bill Barhydt tetap optimis bahwa penurunan kali ini berbeda dari siklus pasar sebelumnya. Secara historis, Bitcoin sering kali pulih setelah mengalami penurunan yang besar. Dengan meningkatnya likuiditas dan pemulihan kepercayaan investor.

Kebijakan dan Regulasi yang Memaksimalkan Keuntungan

Selain aspek ekonomi dan keadaan pasar, perubahan dalam regulasi juga bisa memberikan dampak pada pergerakan Bitcoin. Beberapa perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pemerintah AS kembali mengambil langkah lebih jelas dalam hal regulasi crypto.

Sebagai contoh, pemerintahan Donald Trump pernah mengusulkan adanya cadangan Bitcoin strategis, yang memanfaatkan aset digital yang disita oleh pemerintah. Selain itu, dalam beberapa bulan terakhir, beberapa gugatan terhadap perusahaan crypto, termasuk kasus Kraken, telah dicabut oleh regulator AS.

Dengan adanya stimulus ekonomi, sejarah pemulihan Bitcoin setelah penurunan besar, serta peningkatan dalam regulasi, para analis percaya bahwa Bitcoin dapat kembali memasuki fase positif dalam waktu dekat.

Pergerakan Harga Bitcoin

Dilansir dari Pintu Market, harga Bitcoin hari ini adalah Rp 1.350.773.703 dengan volume perdagangan Bitcoin (BTC) mencapai US$31.573.256.181, yang mencerminkan penurunan sebesar -20,40% dibandingkan dengan sehari sebelumnya.

Sementara itu, Bitcoin (BTC) pernah mencapai harga tertinggi sepanjang masa sebesar US$108.786 dan terendah sebesar US$67,81. Saat ini, nilainya masih 24,89% lebih rendah dibandingkan dengan harga tertinggi tersebut dan 120.394,43% lebih tinggi dibandingkan dengan harga terendahnya.

Untuk kapitalisasi pasar Bitcoin (BTC) saat ini adalah US$1.622.914.218.610. Nilai kap pasar ini diperoleh dengan mengalikan harga token dengan jumlah token BTC yang beredar, yaitu 20 juta token yang tersedia untuk diperdagangkan saat ini.

Baca Juga: Pengendara Motor Tewas dalam Kecelakaan Tragis dengan Tronton dan Trailer, Ini Kronologinya

Sedangkan, valuasi terdelusi penuh (FDV) untuk Bitcoin (BTC) adalah US$1.622.914.218.610. Ini merupakan gambaran statistik mengenai kapitalisasi pasar maksimum, yang akan tercapai jika semua 21 juta token BTC beredar dalam satu waktu.

Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor

Editor : Wiwin Meliana
#investor #bitcoin