Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketahui Kontrak Berjangka Crypto

Wiwin Meliana • Senin, 21 April 2025 | 19:02 WIB

aset crypto seperti Bitcoin dan Ethereum telah menjadi pusat perhatian investor global
aset crypto seperti Bitcoin dan Ethereum telah menjadi pusat perhatian investor global

BALIEXPRESS.ID-Dalam beberapa tahun terakhir, aset crypto seperti Bitcoin dan Ethereum telah menjadi pusat perhatian investor global. Seiring dengan pertumbuhan pesat pasar crypto, muncul berbagai instrumen keuangan turunan (derivatif) yang memungkinkan investor untuk melakukan spekulasi atau lindung nilai (hedging). Salah satu instrumen tersebut adalah kontrak berjangka (futures contract).

Kontrak berjangka crypto telah menjadi alat penting bagi trader profesional dan ritel yang ingin mendapatkan keuntungan dari volatilitas harga aset digital tanpa harus memiliki aset dasarnya. Namun, di balik potensi keuntungannya, terdapat risiko besar yang perlu dipahami dengan baik.

Baca Juga: Ratusan Siswa SMP di Buleleng Tak Bisa Baca, KPAD Bali: Harus Ada Assessment Lebih Dalam

Bitcoin di dalam kontrak berjangka terlisting sebagai btc usdt perp, demikian cryptocurrency yang lainnya. Membedakannya cukup dengan nama pasangan currency yang ditambahkan kata Perp. Contoh lainnya yaitu eth usdt perp, itu berarti Ethereum atau ETH diperdagangkan dengan cara kontrak berjangka.

Apa itu Kontrak Berjangka Crypto?

Melansir dari laman Pintu Academy, Kontrak berjangka crypto adalah perjanjian antara dua pihak untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu pada harga yang telah disepakati, pada waktu tertentu di masa depan. Berbeda dengan perdagangan crypto spot (langsung membeli dan menjual aset), kontrak ini hanya memperdagangkan nilai dari aset tersebut, bukan aset fisiknya.

Contoh sederhananya: jika seorang trader percaya bahwa harga Bitcoin akan naik dalam sebulan ke depan, ia bisa membuka posisi beli (long) pada kontrak berjangka Bitcoin. Jika harga benar-benar naik, ia mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual kontrak tersebut.

Jenis-Jenis Kontrak Berjangka Crypto

Terdapat beberapa jenis kontrak berjangka dalam pasar crypto, di antaranya:

  1. Kontrak Berjangka Tradisional

Kontrak jenis ini memiliki tanggal kadaluarsa tertentu. Di akhir masa kontrak, posisi akan ditutup otomatis dan keuntungan/rugi direalisasikan. Contoh: CME (Chicago Mercantile Exchange) menawarkan kontrak berjangka Bitcoin dengan tanggal kedaluwarsa.

Baca Juga: Tak Pakai Kamen, Aksi Sejumlah Pria Berseragam Dinas di Pura Besakih Jadi Sorotan

  1. Kontrak Berjangka Abadi (Perpetual Futures)

Jenis ini tidak memiliki tanggal kadaluarsa. Posisi dapat ditahan selama yang diinginkan, selama margin masih mencukupi. Perpetual futures populer di kalangan trader karena fleksibilitasnya. Kontrak ini memungkinkan spekulan untuk membeli atau menjual aset dasar (seperti Bitcoin, Ethereum, atau aset lainnya) tanpa benar-benar memiliki aset tersebut secara fisik. Keuntungan atau kerugian ditentukan oleh pergerakan harga aset dasar dan posisi trader (long atau short). Trader bisa mendapatkan keuntungan baik ketika pasar sedang bullish ataupun bearish. Apalagi, adanya leverage pada perpetual trading juga menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan spot trading. Kendati begitu, potensi keuntungan tersebut juga sebanding dengan risiko yang lebih tinggi.

  1. Kontrak dengan Leverage

Banyak bursa memungkinkan trader menggunakan leverage, yakni meminjam dana untuk meningkatkan eksposur posisi. Leverage bisa mencapai 10x hingga 125x, tergantung kebijakan platform. Namun, semakin tinggi leverage, semakin tinggi pula risiko likuidasi. Misalnya, jika seorang trader menggunakan leverage 10:1, maka dengan modal sebesar Rp10 juta, ia bisa mengontrol posisi senilai Rp100 juta. Ini tentu membuka peluang keuntungan yang jauh lebih besar, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian secara proporsional.

Baca Juga: KABAR DUKA! Ricky Siahaan Gitaris Band Seringai Tutup Usia Saat Tur di Jepang

Di banyak negara, penggunaan leverage dalam perdagangan diatur secara ketat. Regulator seperti SEC (Amerika Serikat), FCA (Inggris), ASIC (Australia), dan OJK (Indonesia) menetapkan batasan leverage untuk melindungi investor ritel dari risiko berlebihan. Penting juga bagi broker untuk memberikan edukasi yang memadai kepada klien mereka terkait penggunaan leverage, termasuk risiko yang melekat.

Cara Kerja Kontrak Berjangka Crypto

Untuk memahami cara kerja kontrak berjangka crypto, kita bisa melihat alurnya secara umum:

  1. Membuka Posisi

Trader memilih jenis kontrak (misal: perpetual BTC/USDT), menentukan arah posisi (long atau short), dan menetapkan jumlah margin serta leverage yang ingin digunakan.

  1. Margin dan Leverage

Margin adalah jaminan yang harus disetor untuk membuka posisi. Jika menggunakan leverage 10x, maka untuk membuka posisi senilai $10.000, cukup menyetor margin $1.000.

  1. Mark Price dan Likuidasi

Platform menggunakan harga acuan (mark price) untuk menghindari manipulasi harga. Jika harga bergerak melawan posisi trader dan margin tidak cukup untuk menahan kerugian, maka posisi akan dilikuidasi, dan trader bisa kehilangan seluruh marginnya.

  1. Funding Rate

Dalam kontrak perpetual, ada sistem pendanaan berkala (funding). Trader yang memegang posisi membayar atau menerima biaya setiap 8 jam sekali, tergantung keseimbangan antara posisi long dan short. Tujuannya untuk menjaga harga kontrak tetap mendekati harga spot.

Keuntungan Kontrak Berjangka Crypto

1. Potensi Keuntungan Lebih Besar

Karena menggunakan leverage, trader dapat memperoleh keuntungan besar dari pergerakan harga yang kecil.

2. Fleksibilitas Posisi

Trader bisa membuka posisi long (jika memprediksi harga naik) atau short (jika memprediksi harga turun), memungkinkan keuntungan di kedua arah pasar.

3. Likuiditas Tinggi

Banyak platform crypto menyediakan pasar berjangka dengan volume besar dan order book yang dalam, memungkinkan eksekusi transaksi dengan cepat dan harga kompetitif.

4. Alat Lindung Nilai (Hedging)

Investor jangka panjang bisa menggunakan kontrak berjangka untuk melindungi nilai portofolio mereka dari volatilitas jangka pendek.

Risiko Kontrak Berjangka Crypto

1. Risiko Likuidasi

Dengan leverage tinggi, sedikit saja pergerakan harga yang berlawanan bisa menyebabkan posisi dilikuidasi. Trader bisa kehilangan seluruh dana marginnya dalam hitungan detik.

2. Volatilitas Ekstrem

Pasar crypto terkenal sangat fluktuatif. Pergerakan harga yang tidak terduga bisa menyebabkan kerugian besar, terutama bagi yang tidak menggunakan manajemen risiko yang tepat.

3. Overtrading

Karena kemudahan membuka posisi dan adanya leverage, banyak trader tergoda untuk membuka terlalu banyak posisi atau menggandakan posisi yang kalah (martingale), yang justru memperbesar risiko kerugian.

Baca Juga: Tinggi Kasus Narkoba, Desa Sidetapa Bersatu Perangi Narkoba, Ini yang Dilakukan

4. Kompleksitas Mekanisme

Konsep seperti funding rate, margin maintenance, dan likuidasi bisa membingungkan bagi pemula. Tanpa pemahaman yang matang, trader bisa membuat keputusan yang buruk.

5. Risiko Platform dan Regulasi

Tidak semua platform berjangka crypto diawasi oleh otoritas keuangan. Risiko seperti manipulasi pasar, gangguan sistem, atau bahkan kebangkrutan platform tetap ada.

Tips dan Strategi Aman dalam Trading Futures Crypto

  1. Mulai dengan Leverage Rendah: Gunakan leverage kecil (1x–5x) saat belajar agar risiko tetap terkendali.
  2. Gunakan Stop Loss dan Take Profit: Selalu tetapkan batas kerugian dan target keuntungan untuk menghindari emosi mengambil alih.
  3. Pahami Mekanisme Platform: Baca panduan resmi, pelajari cara kerja funding rate, margin call, dan likuidasi.
  4. Gunakan Akun Demo: Sebelum menggunakan uang asli, cobalah trading di akun simulasi untuk memahami dinamika pasar.
  5. Kelola Risiko dan Ukuran Posisi: Jangan mempertaruhkan lebih dari 1-2% dari total modal pada satu posisi.

Kontrak berjangka crypto adalah instrumen yang kuat namun kompleks. Dengan potensi keuntungan tinggi melalui leverage dan fleksibilitas posisi, banyak trader tergoda untuk menggunakannya. Namun, risiko kerugiannya juga besar, terutama bagi pemula yang belum memahami sepenuhnya cara kerjanya.

Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.

Editor : Wiwin Meliana
#crypto #bitcoin