BALIEXPRESS.ID - Sejak akhir Desember 2024 hingga saat ini, petani garam di wilayah Amed, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali, memilih untuk belum memproduksi bahan baku.
Hal tersebut harus menjadi pilihan petani karena oleh faktor cuaca yang tidak mendukung untuk memproduksi garam.
Perbekel Purwakerti I Nengah Suanda dikonfirmasi pada Senin (16/6/2025) mengakui hal tersebut.
Selama enam bulan ini, petani memilih untuk tidak memproduksi garam, mengingat hujan kerap turun di wilayah itu.
"Garam belum bisa produksi karena masih hujan terus," terang Suanda.
Meskipun tidak memproduksi dalam kurun waktu yang cukup lama, tetapi disebutkan bahwa stok yang tersedia untuk dijual ke pasaran masih aman.
Itu bisa diatur lantaran di sana telah terdapat rumah kaca untuk mengolah garam.
Lebih jauh, Suanda mengatakan, produksi garam biasanya dilaksanakan selama kurang lebih empat bulan dalam satu tahun, yaitu pada Agustus-November.
"Biasanya bisa memproduksi 20-30 ton ketika musim produksi," lanjutnya.
Nantinya garam tersebut akan dijual ke sejumlah tempat. Dari hasil produksi itu, bisa terjual 20 ton rata-rata dalam satu tahun.
"Untuk penjualan biasanya 20 ton per tahun," tandasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan