BALIEXPRESS.ID- Di sebuah gang kecil di Denpasar, aroma jempiring, gaharu, dan cendana menyambut setiap tamu yang memasuki Toko Dupa Masehi. Di ruang berukuran tak lebih dari 2,5 x 4 meter—dulunya sebuah garase—I Made Dwipa Adnyana menyambut dengan udeng dan kamben, ditemani pakaian navy bertuliskan logo brand Masehi. Di rak-rak kecilnya, puluhan merek dupa tampak berjejer, mewakili belasan pengrajin lokal yang kini menjadi mitra bisnisnya.
Baca Juga: Venetian Dreams, Grand Masquerade Karma Kandara di Atas Tebing
Namun perjalanan itu tidak lahir dalam semalam. Pria kelahiran 1984 ini memulai usahanya pada 2010, saat ia masih bekerja sebagai banker sekaligus kepala keluarga dengan istri yang kala itu masih menjadi guru TK dan dua anak yang masih sekolah. Ia mencari barang yang “tidak basi” untuk dijual, dan pilihannya jatuh pada dupa.
“Tahun 2010 itu kan masih kerja... terus istri juga masih ngajar. Ya, apa sih yang bisa kita jual dan tidak basi gitu. Ya, dupa ya kita nyari ke pengrajin-pengrajin, cara jualnya kita tawarkan ke temen-temen,” kisahnya.
Baca Juga: Brakkk! Pengendara Vario Tewas setelah Tabrak Truk Tronton Parkir di Pinggir Jalan
Awalnya, Dwipa memulai dengan mendatangkan dupa mentah dari Malang dan mengolahnya sendiri. “Dulu saya pernah gini buat sendiri... saya nyelup-nyelup aja,” katanya.
Tapi modaI kecil, harga parfum yang naik mengikuti dolar, dan sistem pembayaran cash dari pemasok membuatnya kewalahan. Ia akhirnya beralih menjadi reseller.
Ketika usahanya mulai bertumbuh, ia menyulap garase rumah menjadi toko kecil. Dari sana ia mulai melayani pembelian door to door, mengantar pesanan ke rumah-rumah, vila, bahkan hotel. “Lebih baik di rumah saja... tingkatkan door to door saja,” ucapnya mengenang masa-masa awal itu.
Baca Juga: Ajus Linggih Pimpin Pansus Pendirian Perumda Kerta Bhawana Sanjiwani
Pada 2020, saat terjadi merger di tempat kerja lamanya, Dwipa mengambil keputusan besar: pensiun dini. “Ada program pensiun dini... saya ambil keputusan untuk pensiun dan fokus untuk mengerahkan usaha,” katanya.
Keputusan itu tidak mudah, tetapi ilmu marketing dan pelayanan nasabah yang ia pelajari di dunia perbankan menjadi bekal penting.
“Dulu saya brand manager... di sana saya belajar ilmu marketing. Sekarang saya punya pelanggan dupa, saya anggap nasabah saya,” tuturnya.
Usaha yang digeluti penuh ketekunan ini bahkan sempat mengalami cobaan. Dua pegawainya dulu memilih keluar dan meniru model bisnisnya. “Pegawai mungkin sudah melihat peluang dia... mungkin dia jualan dupa sekarang. Namanya bisnis, kita enggak bisa melarang,” katanya, tetap santai.
Sekarang ia tidak lagi bekerja sendirian. Istri dan kedua anaknya—yang kini sudah SMA dan kuliah semester 7—membantu mengantar pesanan. “Istri saya biasanya sama anak nganter,” ucapnya.
Sambil menatap ke luar pintu kaca toko, Dwipa mengaku mimpinya tak muluk-muluk. Ia juga mengaku belum memiliki rencana untuk menjajaki pangsa internasional, seperti mengeksplor dupa-dupanya ke negara-negara tetangga.
Harapannya, cukup memperbanyak kerja sama dengan para pengrajin di Bali. Sederhana saja, hal ini karena ia ingin semakin menjadi “rumah” bagi konsumennya.
“Inovasinya saya harapkan sih saya bisa memenuhi semua permintaan dupa-dupa dari yang konsumen minta. Ya, kalau sekarang kan sulitnya saya untuk mengenal pengrajin lokal untuk contoh suatu produk yang dibutuhkan oleh konsumen,” katanya.
“Terkadang ada lagi produk yang memang di mana tempat produksinya kita belum tahu itu sih. Sebenarnya kita untuk menjajaki itu kan otomatis kita harus melakukan pengembangan lagi untuk pengenalan ke pengerajin-pengerajin. Ya, nambah ginilah, nambah relasi lagi gitu,” imbuh dia.
Baca Juga: BRI Dukung PRABU Expo 2025, Dorong Transformasi Teknologi bagi UMKM Naik Kelas
Dengan segala jatuh bangun itu, Toko Dupa Masehi kini menjadi salah satu rujukan hotel dan vila di kawasan Canggu, Berawa, Kerobokan. Usaha yang dulu bermula dari garase kecil kini mengisi kebutuhan aroma spiritual dan lifestyle di Bali.
Dalam balutan pakaian tradisional yang ia kenakan saat diwawancarai, Dwipa tampak seperti simbol perjalanan khas UMKM Bali: hangat, gigih, dan tak pernah berhenti belajar.
Editor : Wiwin Meliana