Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Pensiunan Banker Hingga Reseller 15 Pengrajin: Strategi Bisnis Dupa Masehi di Pasar yang Semakin Spesifik

Rika Riyanti • Selasa, 18 November 2025 | 14:41 WIB

I Made Dwipa Adnyana pemilik Toko Dupa Masehi
I Made Dwipa Adnyana pemilik Toko Dupa Masehi

BALIEXPRESS.ID- Pasar dupa di Bali tidak sekadar soal wangi. Ada preferensi spesifik, karakter aroma, hingga permintaan unik dari pelaku yoga dan bule ekspatriat. Di tengah dinamika itu, I Made Dwipa Adnyana memilih jalan yang lebih fleksibel: menjadi reseller.

 Baca Juga: Toko di Seraya Karangasem Dibobol, Pencuri Diduga Masuk Lewat Atap Kamar Mandi

Keputusan itu diambil setelah ia sempat memproduksi dupa sendiri. “Dulu saya pernah gini buat sendiri... mendatangkan dupa itu dari Malang... harga parfum naik mengikuti dolar... konsumen minta harga tetap... kita kewalahan,” ujar Dwipa.

 

Dari keterbatasan itu ia belajar: pasar dupa memerlukan keluwesan suplai. Kini ia bekerja sama dengan 15 pengrajin lokal di Denpasar. “Sekarang sudah 15 pengrajin ada (kerjasama),” ungkapnya.

 Baca Juga: Dari Garase 2,5 x 4 Meter ke Jaringan Hotel: Perjalanan Belasan Tahun Made Dwipa Menjadi Pemasok Dupa

Dengan menjadi reseller, ia bisa mengikuti permintaan yang sangat beragam. Pelanggan asing, terutama dari Rusia, kerap meminta jenis dupa tertentu yang identik dengan praktik spiritual mereka. “Rusia biasanya banyak pesan aroma yang spesifik, biasanya karena mereka mendalami spiritual kayak yoga,” kata Dwipa.

 

Para asisten vila sering datang membawa foto aroma tertentu. “Pak, tamu saya butuh dupa ini... harus yang live asli India... aroma ini,” tuturnya menirukan permintaan pelanggan.

 

Meski menurutnya standar dupa sama, loyalitas aroma membuat konsumen menginginkan varian tertentu. Dengan 15 pengrajin yang ia hafal satu per satu, Dwipa kerap bertindak seperti “pemetakan aroma berjalan”.

 

“Ada tamu... saya mau cari dupa ini labelnya ini. Otomatis kan kita harus kenal dia... oh untuk label ini kita cari di sini,” jelasnya.

 Baca Juga: Venetian Dreams, Grand Masquerade Karma Kandara di Atas Tebing

Toko kecilnya pun berubah menjadi simpul distribusi. Hotel dan vila menjadi pelanggan tetap—sekitar 10 lokasi. Sistem bon membuat perputaran modal sangat penting. “Kalau di hotel itu by termin sebulan... kalau pribadi langsung cash,” ujarnya.

 

Tak hanya Bali, Dwipa kini mengirim hingga 100 kilogram dupa per bulan ke Lampung. “Per bulan 100 kilo lebih... tapi enggak langsung 100 kilo,” ceritanya.

 

Semua itu ia kerjakan bersama keluarga. Model usahanya bukan sekadar jual beli dupa. Itu adalah strategi adaptasi pasar—menjawab kebutuhan aroma yang semakin spesifik, cepat berubah, dan sangat dipengaruhi selera pelanggan dari berbagai latar belakang.

Editor : Wiwin Meliana
#bank bjb #denpasar #dupa