Dosen Manajemen Ekonomi, IAHN Mpu Kuturan, Putu Agus Gandi Griastana, SE, MM menyebut, dinamika ini terasa hingga ke daerah, terkhusus daerah Buleleng, Bali, yang memiliki karakter ekonomi unik berbasis pariwisata, UMKM, pertanian agrowisata dan sektor kreatif.
Sepanjang 2025, beberapa instrumen investasi menunjukkan performa positif dan menarik minat masyarakat, meskipun tidak terlepas dari beberapa gejolak ekonomi yang terjadi sepanjang 2025.
“Instrumen investasi yang tren saat ini adalah investasi Emas. Emas kembali menjadi primadona. Ketidakpastian global, fluktuasi nilai tukar, serta kekhawatiran geopolitik mendorong investor memilih emas sebagai aset lindung nilai,” ungkapnya.
Ditambah emas merupakan instrumen safe haven yang dipercaya menjadi instrumen paling aman di tengah ketidakstabilan ekonomi. Kenaikan harga emas tidak hanya dirasakan di kota besar, tetapi juga oleh masyarakat daerah yang mulai memanfaatkan emas digital maupun emas fisik sebagai tabungan jangka menengah.
Kedua, pasar saham Indonesia menunjukkan pemulihan yang cukup solid, terutama pada sektor perbankan, energi terbarukan, dan konsumsi. Saham-saham berfundamental kuat menjadi pilihan utama investor ritel yang semakin matang.
Tren “investasi ikut influencer” mulai berkurang, digantikan dengan pendekatan berbasis analisis dan rekomendasi resmi. Ketiga, reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang mengalami peningkatan signifikan dari sisi jumlah investor.
Instrumen ini dipilih karena menawarkan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil, cocok bagi masyarakat yang baru memulai investasi atau ingin menjaga likuiditas.
“Sementara itu, aset kripto pada tahun 2025 bergerak fluktuatif. Meskipun masih diminati generasi muda, pola investasinya menjadi lebih selektif,” ungkapnya.
Masyarakat mulai menyadari bahwa kripto bukan jalan pintas menuju kekayaan, melainkan instrumen berisiko tinggi yang membutuhkan pemahaman mendalam.
Generasi muda yang terjun pada investasi kripto mulai teredukasi dengan baik akibat masifnya informasi investasi serta minat belajar yang tinggi dari generasi muda mengisyaratkan bahwa peningkatan literasi keuangan dapat dilihat melalui prilaku konservatif saat memilih intrumen investasi.
Tahun 2025 juga ditandai dengan meningkatnya literasi dan inklusi keuangan digital. Akses aplikasi investasi semakin luas, edukasi dari OJK dan lembaga keuangan makin intensif, serta maraknya konten edukatif di media sosial turut membentuk perilaku investor yang lebih kritis.
Di sisi lain, muncul fenomena investasi bodong berbasis digital yang menyasar masyarakat daerah. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa peningkatan minat investasi harus diiringi dengan kewaspadaan dan pemahaman risiko.
Gandi menyebut, bagi masyarakat Buleleng, 2025 menjadi tahun transisi dari menabung konvensional menuju investasi produktif, baik di sektor keuangan maupun sektor riil seperti usaha pariwisata kecil, pertanian modern, dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Memasuki 2026, strategi investasi ideal bagi masyarakat Buleleng perlu mempertimbangkan kondisi lokal dan tren nasional. Beberapa pilihan yang relevan seperti Investasi berbasis sektor riil lokal, seperti usaha homestay, agrowisata, dan produk UMKM khas Buleleng. Model patungan atau crowdfunding lokal dapat menjadi alternatif menarik.
“Emas dan reksa dana konservatif tetap relevan sebagai penopang stabilitas portofolio, terutama bagi keluarga dan investor pemula,” sebutnya.
Selain itu, saham sektor berkelanjutan, seperti energi hijau dan pariwisata berwawasan lingkungan, sejalan dengan arah pembangunan Bali yang berbasis keberlanjutan.
Investasi pendidikan dan keterampilan, meskipun tidak berbentuk finansial langsung, namun menjadi aset jangka panjang paling berharga dan sesuai dengan pengembangan kualitas SDM dan pengembangan potensi lokal.
Ia menambahkan, Apabila diilustasikan seorang pemuda Buleleng berusia 25 tahun pada 2026. Ia bekerja di sektor pariwisata sekaligus mengelola usaha kecil secara daring. Setiap bulan, pendapatannya dibagi secara sederhana sebagian untuk kebutuhan hidup, sebagian untuk tabungan darurat, dan sisanya dialokasikan ke investasi.
Melalui aplikasi digital, ia rutin membeli reksa dana pasar uang dan emas digital. Di saat yang sama, ia menyisihkan dana untuk membeli saham perusahaan pariwisata berkelanjutan. Tidak berhenti di situ, ia juga ikut menanamkan modal kecil pada usaha kopi lokal yang dikelola secara profesional.
“Bagi generasi muda, investasi bukan lagi sekadar “mencari untung cepat”, melainkan bagian dari gaya hidup finansial sehat yang terukur. Mereka sadar bahwa konsistensi, disiplin, dan pengetahuan jauh lebih penting daripada spekulasi,” paparnya.
Tahun 2025 telah memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya literasi, kehati-hatian, dan diversifikasi investasi. Menyongsong 2026, masyarakat Buleleng memiliki peluang besar untuk mengembangkan investasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berdampak positif bagi ekonomi lokal. (dik)
Editor : I Putu Mardika