
BALIEXPRESS.ID – Pemerintah memastikan ekonomi Indonesia tetap kuat dan stabil meskipun dunia sedang dilanda ketidakpastian ekonomi serta meningkatnya tensi geopolitik global. Sejumlah indikator ekonomi pada awal tahun 2026 menunjukkan kinerja solid yang menjadi modal utama menghadapi tekanan global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa perekonomian nasional saat ini berada dalam fase ekspansi yang kuat, khususnya pada kuartal pertama 2026. Kondisi ini dinilai mampu menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai risiko global.
“Ekonomi Indonesia saat ini berada dalam fase ekspansi yang cukup kuat. Jika menghadapi dampak negatif dari gejolak global, tidak perlu khawatir berlebihan karena masih bisa dikelola dengan baik,” ujarnya.
Penguatan ekonomi tersebut tercermin dari sejumlah indikator penting. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur tercatat mencapai 53,8 pada Februari 2026, yang menandakan sektor industri berada di zona ekspansi dan menjadi level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di angka 125,2, jauh di atas level optimisme 100.
Peningkatan daya beli masyarakat juga terlihat menjelang Ramadan, terutama pada sektor barang konsumsi, pendidikan, dan mobilitas. Hal ini semakin memperkuat sinyal pemulihan ekonomi domestik.
“Belanja masyarakat meningkat menjelang Ramadan, menunjukkan daya beli yang mulai menguat,” jelas Purbaya.
Tak hanya itu, konsumsi masyarakat juga tercermin dari Mandiri Spending Index yang mencapai 360,7 poin pada Februari 2026. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai risiko eksternal seperti gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai kondisi fiskal Indonesia masih dalam kondisi aman di tengah ketidakpastian global. Ia mendorong pemerintah untuk terus memperkuat stabilitas fiskal melalui program prioritas, penyaluran subsidi yang tepat sasaran, serta penguatan bantuan sosial produktif bagi pelaku UMKM.
“Kita tidak perlu panik. Jika melihat asumsi makro dan postur APBN, kondisi ekonomi masih terjaga dengan baik,” tegasnya.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar keuangan Indonesia tetap tangguh di tengah volatilitas global. Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi menyebut aktivitas perdagangan saham masih berlangsung normal.
“Meski ada volatilitas, rata-rata nilai transaksi harian tetap berada di level tinggi,” ungkapnya.
OJK mencatat nilai transaksi harian pasar saham sempat mendekati Rp30 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, investor asing mencatatkan pembelian bersih sekitar Rp2,23 triliun sepanjang Maret 2026.
Dengan berbagai indikator positif tersebut, pemerintah optimistis ekonomi Indonesia memiliki daya tahan kuat untuk menghadapi gejolak global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan nasional di tahun 2026.
Editor : I Putu Suyatra