Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Ni Luh Sri Wahyuningsih, Sosok di Balik Gurihnya Kripik Ayam Biru 

IGA Kusuma Yoni • Kamis, 21 Mei 2026 | 20:26 WIB
Ni Luh Sri Wahyuningsih perintis kripik ayam biru di tempat usahanya di Denpasar
Ni Luh Sri Wahyuningsih perintis kripik ayam biru di tempat usahanya di Denpasar

BALI EXPRESS. ID- Di balik gurihnya kripik ayam biru atau yang sering dikenal dengan nama kripik beton bagi pencinta kuliner di Bali, ternyata ada kisah yang sangat inspiratif.

Pasalnya sebelum dikenal sebagai camilan wajib di warung rujak ataupun di warung makan di Denpasar dan sekitar, Kripik ini hanyalah usaha rumahan dari seorang ibu rumah tangga.

Ni Luh Sri Wahyuningsih, itulah sosok ibu rumah tangga yang mulai merintis usaha pembuatan kripik ayam biru ini sejak tahun 2017 silam sebagai usaha sambilan.

"Awalnya saya membuat kripik ini untuk membantu menambah penghasilan keluarga tanpa meninggalkan kewajibannya di rumah," jelasnya.

Namun lama kelamaan, diakui Sri banyak tetangganya bertanya kenapa Sri bisa membuat kripik sambil tetap mengurus anak dan aktivitas adat lainnya.

Karena usaha Sri berkembang, akhirnya beberapa tetangga Sri datang ke rumahnya untuk belajar membuat kripik ayam ini, dan Sri pun dengan senang hati mengajari para tetangganya ini.

Tanpa disadari, usaha yang dijalankan Sri perlahan menjadi inspirasi bagi ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya untuk membuat kripik dan menjalani usaha tersebut.

Baca Juga: Ketua DWP BNNK Gianyar, Widya Ismar, Tekankan Ketahanan Keluarga sebagai Benteng Anti Narkoba

Perjalanan usaha Sri mulai memasuki babak baru pada 2019, dimana salah satu mantri BRI memberikan saran agar usaha yang dijalankannya dibentuk menjadi klaster usaha.

"Saya ini kan memang nasabah KUR BRI. Lalu salah satu mantri BRI yang saya kenal memberikan saran untuk membuat klaster usaha. Saya didampingi untuk membuat klaster dengan anggota ibu-ibu di sekitar sini juga, tetangga satu kompleks. Akhirnya terbentuk Klaster Kripik Ayam Biru ini," terang Sri.

Dari sinilah Klaster Keripik Ayam Biru mulai berkembang. Kini, terdapat sekitar 28 anggota aktif yang ikut memproduksi camilan keripik ayam di bawah nama usaha tersebut.

Sri mengaku, pendampingan yang diberikan BRI melalui program Klasterku Hidupku membawa banyak perubahan, seperti kualitas produk dan cara menjalankan bisnis.

"Banyak pendampingan dari BRI, terutama soal kemasan, dulu kemasan yang saya gunakan polos, sekarang sudah lebih menarik berkat bantuan dari BRI," lanjutnya.

Selain itu, Sri juga  mendapatkan bantuan berupa sarana dan prasarana produksi seperti kompor, alat penggorengan, hingga freezer untuk menyimpan bahan-bahan.

"Anggota kami juga mendapatkan fasilitas KUR BRI untuk membantu permodalan usaha dan kebutuhan rumah tangga lainnya," tambah Sri.

Sementara itu, Janarka Dwi Atmaja, Pemimpin Kantor Cabang BRI Gajah Mada Denpasar menjelaskan program Klasterku Hidupku dirancang sebagai pendekatan pemberdayaan yang mendorong UMKM untuk naik kelas.

Baca Juga: KaKanwil Kemenag Bali Kuatkan ASN Kemenag Gianyar dengan Pemahaman Agama untuk Cegah Narkoba

Khususnya bagi pelaku usaha di sektor produksi yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya menghubungkan pelaku usaha dengan akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang memungkinkan terjadinya kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal.

“Hingga saat ini, di BRI Kantor Cabang Gajah Mada Denpasar terdapat 21 klaster usaha yang bergabung dalam program Klasterku Hidupku. Kisah Klaster Kripik jadi kisah inspiratif di wilayah Denpasar dapat direplika oleh pelaku UMKM lainnya,” tegasnya. (gek)

Editor : I Putu Mardika
#Kripik Beton #kripik ayam biru #KUR BRI #kuliner #BRI