Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ekonomi Indonesia 2026 Tetap Tumbuh Positif, Pemerintah Pastikan Jauh dari Ancaman Krisis 1998

I Putu Suyatra • Selasa, 2 Juni 2026 | 11:04 WIB
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (IST)
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (IST) 

BALIEXPRESS.ID – Pemerintah menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada 2026 tetap stabil dan jauh dari ancaman krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1998. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, gejolak geopolitik, serta fluktuasi nilai tukar rupiah dan pasar keuangan dunia, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan berbagai indikator ekonomi menunjukkan perekonomian Indonesia berada dalam kondisi yang sehat. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen, sementara inflasi pada April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen. Angka tersebut menunjukkan stabilitas harga yang terjaga serta daya beli masyarakat yang tetap kuat.

“Kalau melihat angka-angka tadi, kita itu jauh dari situasi krisis,” ujar Juda Agung dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Jakarta.

Menurut Juda, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan krisis ekonomi 1997–1998. Pada masa krisis tersebut, Indonesia menghadapi tekanan berat akibat lemahnya neraca pembayaran, tingginya utang luar negeri sektor swasta, serta anjloknya nilai tukar rupiah. Saat ini, neraca pembayaran Indonesia dinilai jauh lebih sehat dan terkendali.

Selain itu, kondisi fiskal Indonesia juga tetap kuat. Pemerintah berhasil menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3 persen, sementara tingkat kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia masih tinggi. Hal tersebut tercermin dari stabilnya imbal hasil (yield) surat utang negara yang berada pada kisaran 6,5 hingga 6,7 persen.

“Kalau investor tidak percaya pada fiskal kita maka yield-nya akan melonjak. Sekarang ini di sekitar 6,5 sampai 6,7 persen dan peningkatannya tidak signifikan,” kata Juda.

Pemerintah juga memastikan tidak terdapat indikasi gelembung ekonomi (economic bubble) yang berpotensi memicu krisis keuangan. Stabilitas sektor keuangan, perbankan, dan pasar modal dinilai masih terjaga dengan baik di tengah tantangan ekonomi global.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meskipun menghadapi tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Terlepas dari tantangan global dan volatilitas nilai tukar, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat,” ujar Luhut.

Pernyataan tersebut memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia 2026. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terkendali, kondisi fiskal yang sehat, serta konsumsi domestik yang kuat, Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang baik dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Kombinasi berbagai faktor tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan kepercayaan investor, dan memastikan perekonomian tetap aman dari risiko krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada 1998.

Editor : I Putu Suyatra
#krisis