BALIEXPRESS.ID- Desa Pajahan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan menjadi sejak dahulu sudah menjadi sentra penghasil kopi robusta di Kabupaten Tabanan.
Potensi tersebut belum digarap maksimal sehingga berdampak pada harga kopi.
Oleh karena itu, I Nyoman Mika Adiputra, wiraswasta asal Banjar Dinas Tanah Sari, Desa Pajahan berusaha mengembangkan inovasi dalam memanen kopi.
Baca Juga: Tergiur Untung Besar, Pemilik Warung di Gilimanuk Jual Rokok Ilegal Senilai Rp20 Juta
Harga jual kopi robusta Tabanan pun bisa tetap stabil dan menembus pasar yang lebih luas.
“Adapun inovasinya adalah pengembangan Kopi Robusta Petik Merah Proses Honey dan Ekowisata Pertanian kopi di Desa Pajahan. Dengan inovasi ini, kami tidak saja mampu mempertahankan harga kopi tapi mampu mengembangkan perekonomian desa,” jelasnya.
Inovasi ini menurut Mika, bukan sekadar teknik olah kopi, melainkan sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai elemen desa.
Baca Juga: Hadir Serentak di 131 Lokasi dengan Penawaran Menarik, BRI KKB National Expo Torehkan Rekor MURI
Melalui kemitraan dengan Koperasi yang ada di Desa Pajahan, hasil panen petani yang memenuhi SOP dipastikan terserap dengan harga jual yang jauh lebih tinggi dan stabil.
Gerakan Panen Petih Merah ini dijelaskan Mika menekankan pada metode panen kopi yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan, di mana para petani diajak untuk memanen kopi jika kopi sudah benar-benar matang (red cherry).
Baca Juga: Aksi OPM Ancam Keselamatan Warga, Aparat Didorong Pulihkan Keamanan di Jila
Untuk memaksimalkan hasil kopi yang diinginkan, proses pengolahan kopi dilanjutkan dengan metode honey process, yakni pengolahan pascapanen yang menggunakan teknik fermentasi kopi dengan memanfaatkan lapisan mucilage atau lendir manis buah kopi saat penjemuran.
“Dengan metode ini, maka kopi yang dihasilkan memiliki citarasa yang unik, sehingga kopi robusta dari Desa Pajahan menjadi salah satu specialty coffee dengan harga yang lebih tinggi,” paparnya.
Selain metode pengolahan kopi, potensi lain yang dikembangkan di Desa Pajahan adalah, pengembangan Ekowisata Pertanian Kopi Robusta yang membuka peluang wisata edukasi dan rekreasi di desa Pajahan.
Dengan pengembangan ekowisata ini, Mika menyebutkan selain bisa menghasilkan kopi yang berkualitas, lahan pertanian kopi di Desa Pajahan juga bisa menyerap tenaga kerja untuk meningkatkan perekonomian Desa.
"Kami ingin generasi muda bangga menjadi bagian dari pertanian. Desa Pajahan bukan hanya tempat menanam kopi, tapi tempat di mana ilmu, inovasi, dan pariwisata berbasis pertanian menyatu," ungkap Mika. (*)
Editor : I Made Mertawan