Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gong Luang; Ditemukan di Pinggir Sungai, Saat Malam Bunyi Sendiri

I Putu Suyatra • Senin, 17 Juli 2017 | 15:05 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, TABANAN - Jika Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan memiliki Gong Dewa yang berbeda dari pada Gong pada umumnya, Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan, ternyata juga memiliki Gong yang hanya dimainkan untuk mengiringi Upacara Dewa Yadnya. Gamelan ini dikenal dengan Gong Luang.


Pada umumnya gamelan yang dimiliki di Desa Pekraman di Bali bisa digunakan untuk mengiringi Upacara Panca Yadnya, mulai dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya. Namun berbeda dengan seperangkat gamelan di Banjar Kesiut Kawan, Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan. Karena hanya digunakan saat Upacara Dewa Yadnya saja.


Gong yang diberinama Gong Luang tersebut diperkirakan merupakan salah satu peninggalan zaman purbakala dan sangat langka. Di Tabanan sendiri hanya ada diprediksi hanya ada dua, yakni di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, dan di Banjar Kesiut Kawan sendiri.


Tidak ada yang tahu pasti kapan dan siapa yang pertama kali menemukan Gong Luang ini. Sejauh ini masyarakat Desa Kesiut hanya mendengarkan ceritanya secara turun temurun, lantaran tidak ada babad atau pun peninggalan secara tertulis yang memaparkan perihal keberadaan Gong tersebut.


Menurut Mekel (Kelian) Gong Luang, I Made Mudiasa, berdasarkan cerita leluhur terdahulu, Gong Luang tersebut ditemukan oleh Kiyang Gendrik. Dimana saat itu Kiyang Gendrik tidak kunjung mendapatkan ikan saat sedang memancing. Kiyang Gendrik kemudian menyusuri tepi sungai di dekat Desa Kesiut, dan tanpa diduga ia menemukan alat-alat gamelan seperti terompong, riyong, gong, kempur dan gangsa jongkok.


Alat gamelan tersebut kemudian ia bawa pulang ke rumahnya. Hal unik pun terjadi, yakni gamelan tersebut berbunyi sendiri ketika tengah malam tanpa ada orang yang memainkan. Bahkan sejak saat itu keluarga Kiyang Gendrik terus mengalami kesialan dan kesakitan sehingga akhirnya Kiyang Gendrik menggelar musyawarah bersama warga Desa Kesiut dan memutuskan agar gamelan tersebut ditempatkan di Pura Pemaksan Kesiut.


“Sejak saat itu keluarga Kiyang Gendrik pun tidak lagi ditimpa kesialan dan kesakit,” ujarnya.


Seiring berjalannya waktu, tersiar kabar bahwa seperangkat gamelan tersebut adalah milik Pura Batukaru yang hilang, terlebih ada warga Batukaru yang menanyakan perihal keberadaan seperangkat gamelan. Atas hal tersebut, Kiyang Gendrik bersama warga sepakat untuk mengembalikan gamelan tersebut, namun setelah disimpan di Pura Batukaru, gamelan tersebut malah kembali menghilang dan ditemukan di Sungai Campuan di dekat Desa Kesiut.


“Bahkan peristiwa itu berlangsung sampai tiga kali, sehingga warga Batukaru akhirnya memutuskan untuk mengembalikan gamelan tersebut ke Desa Kesiut dengan catatan ketika Pujawali di Pura Batukaru, Sekaa Gong Luang harus ngaturang ayah ke Pura Batukaru. Dan itu berlangsung hingga saat ini. Bahkan jika Gong Luang belum Lunga ke Pura Batukaru, pujawali belum bisa dimulai,” paparnya.


Selain itu Gong Luang selama ini hanya dimainkan untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya saja, bahkan saat Piodalan di Pura Desa, Gong ini harus dimainkan di Utama Mandala, berbeda dengan gong pada umumnya yang tempatkan di Jaba Pura atau Madya Mandala.


“Gending-gending yang dimainkan sesuai dengan jalannya upacara, misalnya upacara Prayascita gendingnya Pengundang Taksu, upacara Petirtaan gendingnya Salulung, total ada sekitar 11 gending yang bisa dimainkan,” imbuh Mudiasa.


Gong Luang terdiri atas sejumlah instrument, mulai dari dua buah kendang dua cedugan lanang-wadon, terompong, riyong, gong, kempur, bebende, kempli, tawa-tawa, gangsa jongkok besar dan kecil serta 6 cakep cengceng.


Sebelum dimainkan, Gong Luang terlebih dahulu diawali dengan upacara yang bertujuan untuk menyucikan peralatan gamelan yang berlaras selendro tujuh nada dan dua nada pemero tersebut. Meskipun milik Adat, Desa Adat memberikan kewenangan kepada Sekaa untuk mengelola Gong Luang.


Kesakralan Gong Luang sendiri pernah dibuktikan oleh masyarakat Desa Kesiut, dimana satu satu instrument gamelan yakni bende yang hilang. Dan seiring berjalannya waktu warga yang dicurigai mencuri instrument tersebut juga ikut mengilang tanpa jejak.


“Padahal bende itu waktu dulu menjadi pertanda, dimana akan berbunyi sendiri ketika ada musibah atau bencana yang akan datang,” tandasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #tradisi bali #tabanan