Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rintis Usaha Sejak SMP, Kerajinan Limbah Kayu Laut Ari Deco Mendunia

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 September 2017 | 16:10 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, ABIANSEMAL - Limbah kayu mungkin tak terlalu menarik bagi sebagian besar orang. Namun beda halnya bagi salah satu pemuda asal Banjar Gunung, Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma. Di tangan pemuda berusia 22 tahun tersebut, limbah kayu bisa mendatangkan rezeki yang melimpah. Seperti apa?


Tangan Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma tampak cekatan memilih dan memilah limbah kayu yang ada di depannya. Dengan ketelitian dan kesabaran, ia menyusun satu demi satu potongan ranting dan dahan yang memiliki bentuk unik karena terhempas laut. Dibantu sang ayah, I Gusti Widya, ibu Ni Made Dewi Astuti, adik, serta sejumlah pekerja, ia mengerjakan berbagai pesanan berbahan limbah kayu yang dipungut dari pantai.


Dituturkannya, usaha tersebut dimulai tahun 2007 silam. Saat itu ia masih duduk di bangku SMP. “Idenya saya dapat dari sebuah tumpukan kayu unik di Pantai Seseh, Badung yang berbentuk seperti dudukan lampu,” ujarnya.


Ide untuk membuat kerajinan dari kayu bekas terbut kemudian disampaikan kepada sang ayah. Sang ayah pun tertarik dan mulai membuat kerajinan berupa dudukan lampu. “Awalnya hanya tempat lampu. Kemudian berkembang sesuai permintaan pemesan. Bahkan biasanya desainnya dari pemesan juga,” paparnya.


Bisnis yang kini telah berkembang lintas negara tersebut, dikatakan, awalnya dirintis di daerah Tegallalang saat keluarganya memilih untuk membuat art shop. Seiring waktu, usahanya berkembang hingga dilirik pengusaha dari berbagai negara, seperti Belanda dan Perancis. Tak ketinggalan, pemerintah pun ikut melirik, khususnya Pemkab Badung.


“Pemkab Badung mengaku tertarik karena kami memnfaatkan limbah dan kami diajak pameran di International Jakarta Expo di Kemayoran, setiap11 Maret semenjak tiga tahun lalu,” jelasnya.


Mengenai pembuatan, tamatan D1 pariwisata tersebut mengatakan intinya ada di bahan baku. Ia harus mencari bahan baku hingga ke pantai bagian barat Pulau Bali, tepatnya kawasan Mendoyo, Jembrana. Limbah kayu setempat dipilih karena pantainya berbatu, sehingga banyak kayu yang tersangkut dan bentuknya unik karena terhempas di bebatuan. “Satu karung biasanya dibeli dari warga Rp 15 ribu, kemudian oleh pengepul dijual sekitar Rp 15.500 ke kami,” ungkapnya.


Selanjutnya, bahan baku tersebut disortir. Dirinya harus teliti memilih bahan yang bagus dan kuat. Kayu bekas pantai dipilih, karena bentuknya unik dan mengalami pengawetan alami, sehingga anti rayap. “Kalau musim hujan, bahan baku semakin banyak, tapi kualitasnya tidak bagus, karena tidak mengalami proses yang alami di pantai,” ujarnya.


Satu kali pengerjaan, dikatakannya tergantung bahan baku, ukuran dan kerumitan bentuk yang dibuat. Rata-rata dikerjakan empat jam hingga setengah hari. Misalnya satu meja, sudah finishing, di bawahnya ada triplek, di atasnya ada kaca.


Selain kayu limbah, digunakan pula kayu kopi dan kayu pantai yang agak besar sebagai kerangkanya. Bahan kemudian dipaku dan dirangkai pada rangka secara perlahan sehingga kuat. Sejauh ini, pihaknya sudah menghasilkan berbagai produk, seperti meja, lampu, cermin, binatang, bingkai, wall dekor atau hiasan dinding, lampu taman, dan sebagainya. Selain itu, ada pula kerajinan yang dibuat dari drum bekas, seperti kursi.


Selanjutnya, salah satu pendamping Masyarakat Ekonomi ASEAN di Bali tersebut mengatakan, jumlah pengiriman hasil produksi per bulan tidak menentu, karena tergantung pesanan. Demikian pula soal omset yang didapat. Namun secara umum, kata dia, satu meja ukuran sedang biasanya seharga Rp 550 ribu dan lampu Rp 250 sampai Rp 450. “Itu harga untuk luar negeri. Kalau lokal berbeda lagi. Yang termahal sampai Rp 3 juta berbentuk binatang,” ujarnya.


Kini usahanya yang bernama Ari Deco tersebut telah mempekerjakan setidaknya 11 orang, termasuk dirinya. Di samping dari keluarga, biasanya pekerja juga berasal dari anak sekolah dan ibu rumah tangga di sekitarnya.


“Tapi tergantung order juga. Kalau banyak, pekerjanya ditambah, karena mengejar waktu,” jelasnya.


Berkat kerja kerasnya, sejumlah penghargaan berhasil diraihnya, seperti penghargaan di bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di Kabupaten Badung dan Provinsi Bali 2017. Pun sejumlah pihak ikut memberikan perhatian, seperti Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Badung, Politeknik Negeri Bali, Unud, ISI, serta Triatma Jaya Mulya dari Jakarta yang khusus membantu bagian pemasaran, seperti lewat facebook, instagram, hingga kartu nama.


Sementara itu, sang ayah, I Gusti Widya mengatakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Namun khusus ke pemerintah, ia mengatakan keluhannya, terutama soal permodalan yang sangat sulit. Pernah suatu ketika, pihaknya mendapat order seharga Rp 600 juta, sementara hanya dikirimkan DP Rp 100 juta. “Lagi Rp 500 juta saya mencari ke sana-sini. Bahkan sampai menggadaikan sertifikat. Jadi saya mohon pemerintah memberikan solusi. ini sudah sering saya sampaikan,” pintanya. 

Editor : I Putu Suyatra
#badung