Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kun Pameran di Museum Neka, Temanya Candra Sengkala

I Putu Suyatra • Kamis, 26 Oktober 2017 | 22:45 WIB
Kun Pameran di Museum Neka, Temanya Candra Sengkala
Kun Pameran di Museum Neka, Temanya Candra Sengkala

BALI EXPRESS, GIANYAR - Perupa Wayan Kun Adnyana menggelar pameran tunggal bertajuk Candra Sangkala di Museum Neka, Ubud, Gianyar mulai Kamis (26/10) hari ini. Pameran akan dibuka staf khusus Presiden Republik Indonesia Sukardi Rinakit PhD, bersama Rektor ISI Denpasar Prof Gede Arya Sugiartha dan pendiri Museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka. Seperti apa?


 


Pameran yang dikuratori Warih Wisatsana ini mengetengahkan 20 lukisan terbaru Kun yang secara khusus mengeksplorasi kode-kode visual artefak kuno. Pameran ini dalam rangkaian Ubud Writer and Reader Festival (UWRF). Merupakan pengembangan dari karya-karya Kun yang telah dipergelarkan tunggal di Bentara Budaya Jakarta, Agustus lalu.


Pengembangan yang dimaksud terkait dengan ruang jelajah objek visual, yang sebelumnya hanya tentang relief Yeh Pulu, yang terbaru juga menghadirkan Gua Gajah, serta lukisan-lukisan rajah. Sukardi Rinakit dalam catatan yang dimuat pada katalog pameran, antara lain menuliskan “Kun yang tumbuh dalam rahim dunia artistik; dunia yang berlimpah keunikan dan kegenialan. Saya selalu menghormati siapapun yang hidup dan bersentuhan dengan dunia itu.


Khusus untuk Kun, saya mengapresiasi lukisan-lukisannya, terutama karya-karya seri terbarunya, yang mana proses penciptaan lukisan dibarengi proses studi dan riset lapangan terhadap berbagai artefak budaya. Seperti relief candi, patung-patung kuno, dan juga lukisan mistik Bali. Tentu ini model penciptaan khas dunia kampus. Kun yang seorang dosen, terlebih gelar doktoralnya di bidang pengkajian seni rupa, tentu memiliki keahlian tentang itu. Artinya, ini semakin menegaskan bahwa proses berkarya seni, sesungguhnya juga merupakan serangkaian proses akademik”.   


Kun yang meraih doktor bidang kajian seni rupa dari ISI Yogyakarta itu, menambahkan, pameran bertema Candra Sangkala ini, mengungkap tiga hal tentang kerangka tafsir atas artefak budaya masa lalu.Yakni menyangkut tema, konten dan makna. “Pertama, tema sentral yang diungkap yakni tentang narasi praktik hidup sehari-hari orang-orang biasa. Kemudian saya namai tema kepahlawanan dunia sehari-hari. Kedua, konten menyangkut penjelasan dari tema, yakni narasi yang berupa deretan (untaian) adegan-adegan aktivitas keseharian, seperti lelaki menjinjing tempayan, perempuan tua membuka pintu rumah, tiga lelaki pemburu macan, dua lelaki memikul babi, lelaki mengendarai kuda, dan lain-lain”.


“Tema dan konten tentu memiliki hubungan korelatif. Kemudian dua hal tersebut menunjuk makna; artikulasi dan abtraksi hasil pembacaan dan pemeriksaan kode-kode visual. Secara  ringkas dapat disebutkan: setiap adegan yang kemudian membentuk narasi kepahlawanan orang-orang biasa di ruang praktik sehari-hari, sesungguhnya menyatakan bahwa ruang sejarah yang dituturkan merupakan negara berdaya, jaya dan egaliter yang senantiasa diminta selalu eling (sadar) dan waspada, “terang Kun.


Menurut Warih Wisatsana, di kanvas Kun kini, mengemuka bukanlah sekedar ragam wujud lampau yang serba eksotik, melainkan suatu komposisi unik puitik sekaligus menegaskan capaian stilistik dan tematiknya yang mempribadi. “Dengan kata lain, Kun menyikapi masa silam bukan semata sebagai ilham yang serta merta tercurah secara intuitif, melainkan melalui penjelajahan kreatif yang tinggi. Didasari riset mendalam melalui serangkaian kajian menyeluruh terhadap artefak seni rupa kuno”. 

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar #seni #pameran lukisan