Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sembahyang Galungan di Pura Besakih Kali Ini Tak Seperti Biasanya

I Putu Suyatra • Kamis, 2 November 2017 | 15:00 WIB
Sembahyang Galungan di Pura Besakih Kali Ini Tak Seperti Biasanya
Sembahyang Galungan di Pura Besakih Kali Ini Tak Seperti Biasanya

BALI EXPRESS, BESAKIH - Hari Raya Galungan, Rabu (1/11)  kali ini tampak tak biasa di Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Sebab suasananya tak seperti Galungan-galungan sebelumnya. Maklum saat ini, Gunung Agung menyandang status Siaga. Para pamedek pun baru mulai berdatangan sekitar pukul 06.00. Padahal, biasanya sejak pukul 04.00 sudah ramai.


 


Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) saat perayaan Hari Suci Galungan (1/11) kemarin suasana di Pura Besakih tampak lengang. Walaupun hingga kini Pura Besakih yang merupakan pura terbesar di Bali ini telah dinyatakan aman untuk dikunjungi oleh Kalak BPBD Provinsi Bali, beberapa waktu lalu. Namun, masyarakat tidak sepderti biasanya melaksanakan bersembahyang di Pura Agung Besakih ini.


Tentu saja, hal ini telihat dari kedatangan masyarakat yang masih minim sejak pagi hari. Bahkan tak jarang yang hadir adalah masyarakat sekitar pura yang sedang mengungsi. Hal ini dilihat dari pola komunikasi antara masyarakat yang datang dan pedagang yang telah saling mengenal.


Salah seoarang pemangku pura, Jro Mangku Sweca mengatakan bahwa kehadiran umat Hindu di Bali dalam persembahyangan Galungan tahun ini memang menurun. Hal ini tentu dikarenakan Gunung Agung saat ini sedang berstatus Siaga. “Ya karena Gunung Agung berstatus siaga, masyarakat memilih untuk bersembahyang Galungan di pura lain, tapi intinya kan tujuannya, sama saja,” terangnya ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di sela pelaksanaan Hari Suci Galungan di Pura Besakih, Rabu (1/11) kemarin.


Lebih lanjut dikatakan, untuk perayaan Galungan di Pura Besakih sendiri biasanya umat Hindu telah ramai datang sejak pukul 04.00 wita. Kedatangan pemedek tersebut pun biasanya tidak hanya yang berasal dari Karangasem saja, melainkan seluruh bali. Sedangkan untuk tahun ini, pihaknya mengatakan umat Hindu baru tampak datang untuk bersembahyang sejak pukul 06.00 wita. “Masyarakat baru hadir jam 06.00 wita, kalau tidak ada aktivitas gunung ini sejak jam 04.00 wita sudah ramai,” jelasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Mangku Sweca berharap status Gunung Agung dapat kembali normal. Hal ini lantaran berbagai pelaksanaan upakara dan ritual yang berkaitan dengan Pura Besakih telah menunggu. Khususnya masyarakat yang harus menunda pelaksanaan upacara mepinton atau meajar-ajar akibat aktivitas Gunung Agung ini.


“Kami berharap Gunung Agung tidak meletus dan kembali normal, karena berbagai upacara akan segera dilaksanakan berkaitan dengan Pura Besakih,” tandasnya.


Sementara, salah seoarang warga Desa Besakih Kanginan, I Gusti Agung Juniantara yang dijumpai usai bersembahyang di Pura Besakih mengatakan pihaknya memang harus pulang. Hal ini lantaran di kampung halamanya terdapat pura tersebesar di Bali, yakni Pura Besakih. “Jadi gak enak rasanya kalau tidak pulang, walaupun sebentar dan sederhana intinya bisa melaksanakan perayaan Galungan di rumah,” ungkapnya.


Pihaknya mengaku, walaupun saat ini tengah berada di pengungisan, kondisi yang demikian tidak menyurutkan semangatnya melaksanakan hari suci Galungan. “Ya walaupun di pengungsian dan hanya bisa sederhana melaksanakan, namun makna dari perayaannya tetap terlaksana denganb baik,” katanya.


“Tentu kami berharap agar Gunung Agung kembali normal dan baik-baik saja,” harapnya.


Di lain pihak, kondisi di Posko Pengungsian GOR Swecapura, Klungkung terlihat sepi. Motor pun terlihat minim dan hanya tanmpak mobil milik BPBD Kabupaten Klungkung yang terparkir rapi. Terlihat pula para tetua yang tengah beristirahat di dalam tenda, namun sebagain besar tenda masih kosong karena ditinggal penghuninya untuk melaksanakan Upacara Hari Galungan di rumah dan merajan masing-masing.


Salah satunya adalah Ketut Samprig asal Desa Besakih. Dirinya memilih untuk tidak pulang lantaran kondisi yang sudah tua. “Ya biarkan yang muda saja yang pulang, saya ngayat dari sini (pengungsian) saja,” katanya.


Namun, pihaknya mengaku bahwa seluruh sanak saudaranya nanti akan kembali ketika pelaksanaan upacara sudah selesai. “Nanti kalau sudah selesai akan kembali ke pengungsian, pulang hanya untuk sembahyang saja,” tutupnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#karangasem