Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Geographic Tongue, Penyakit Susah Sembuh, Usia 20 Tahun Mulai Riskan

I Putu Suyatra • Jumat, 9 Maret 2018 | 17:48 WIB
Geographic Tongue, Penyakit Susah Sembuh, Usia 20 Tahun Mulai Riskan
Geographic Tongue, Penyakit Susah Sembuh, Usia 20 Tahun Mulai Riskan

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pernahkah Anda mengalami kondisi munculnya bercak yang terlihat seperti kumpulan pulau di peta pada lidah? Jika iya, bisa jadi lidah Anda mengalami peradangan lidah yang dinamakan geographic tongue. Penyebab lidah geografik belum diketahui, dan tidak ada cara untuk mencegah kondisi tersebut.


Lidah geografik (Geographic tongue) adalah suatu kondisi kelainan yang terdapat pada permukaan lidah. Lidah biasanya ditutupi oleh papila tipis dan berwarna merah muda keputih-putihan yang menyerupai gambaran pulau-pulau.Gambaran pulau-pulau yang muncul pada permukaan lidah dapat hilang dan muncul sebagai papila halus, merah, dan sering dengan batas sedikit terangkat. Gambaran pulau-pulau tersebut seringkali juga berpindah-pindah dan berubah-ubah.


Lebih dari 2 juta kasus per tahun di Indonesia. Penyakit ini dapat bertahan bertahun-tahun atau seumur hidup. Selain itu bercak pulau tersebut sering hilang namun timbul di area yang lain.


Menurut Drg I Nyoman Redun, ahli kesehatan gigi dan mulut, akan ada gambar pulau dan ada pinggiran. Itu diakibatkan karena adanya bakteri di lidah. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa muncul di daerah mulut lainnya. Kondisi ini juga bisa muncul di semua rentang usia dan jenis kelamin.


“Dapat dikatakan seperti itu karena penyakinya selalu bermigrasi, makanya dikategorikan susah sembuhnya. Butuh proses yang lama. Kalau sudah kronis akan bertahan seumur hidup,” ujar dokter lulusan tahun 2000 tersebut, Kamis (8/3).


Penyebab lidah geografik belum diketahui, dan tidak ada cara untuk mencegah kondisi tersebut. Kondisi lidah geografik pada permukaan lidah kemungkinan merupakan hasil dari aktivitas jenis tertentu dari sel darah putih yang biasanya menginduksi peradangan pada area penyakit atau cedera.


“Banyak sebenarnya, tapi hal yang paling simpel yang harus diperhatikan karena kita kurang bisa menjaga kebersihan dari mulut atau tidak membersihkan lidah pada saat menyikat gigi,” ujar Redun.


Menurut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Maha Saraswati tersebut, akan ada rasa perih tetapi tidak signifikan. Gejala yang muncul permukaan lidah dan samping lidah halus kemerahan dengan pola yang tidak teratur, sering terjadi perubahan lokasi, ukuran dan bentuk dari pola tersebut, dan ketidaknyamanan, rasa sakit atau sensasi terbakar dalam beberapa kasus, paling sering berhubungan dengan makanan panas, makanan pedas, asin atau asam.


Minim kemungkinan untuk umur 3 -5 tahun untuk mengidap penyakit tersebut. Namun untuk usia 6 – 18 tahun, sekitar 55 persen kemungkinan terkena penyakit tersebut dikarenakan anak dan remaja sangat gemar ngemil atau mengkonsumsi dan mencoba segala jenis makanan.


“Untuk usia 20 hingga 60 ke atas, sangat penting untuk diperhatikan kesehatan mulutnya. Karena usia ini sangat riskan. Banyak faktor, kebanyakan dari mereka mengonsumsi makanan yang mengandung zat-zat yang barmacam-macam (contoh: kafeine). Namun mereka hanya menggosok gigi, tanpa memperhatikan dan menggosok lidah mereka,” ujarnya.


Untuk mengobati penyakit tersebut hanya berkumur dengan menggunakan klorheksidin dengan kadungan 0,5 persen – 1 persen. Ini merupakan obat antiseptik golongan antimikroba yang diciptakan dalam dua cara pemakaian, yaitu cairan untuk kumur dan cairan yang dioleskan di kulit (topikal). Untuk penyakit ini dapat menggunakan klorheksidin yang kumur.



“Kalau cara lain atau yang lebih alami itu menggunakan air hangat dan sedikit campuran garam. Kalau cara alami lebih baik digunakan setiap mau tidur. chlorhexidine kumur digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri,” ungkapnya. (diah saraswati)

Editor : I Putu Suyatra
#kesehatan