Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kapten Dipta, Dulu Dikencingi lalu Dibunuh, Kini Namanya Mendunia

I Putu Suyatra • Senin, 16 Desember 2019 | 19:41 WIB
Kapten Dipta, Dulu Dikencingi lalu Dibunuh, Kini Namanya Mendunia
Kapten Dipta, Dulu Dikencingi lalu Dibunuh, Kini Namanya Mendunia

GIANYAR, BALI EXPRESS - Sebagai nama stadion, Kapten I Wayan Dipta saat ini makin populer. Bahkan mendunia. Apalagi setelah Bali United berhasil menjadi juara Liga 1 2019. Tapi siapa sangka Kapten I Wayan Dipta dulu mati muda. Bahkan, sebelum meninggal, dia mengalami penyiksaan yang luar biasa. Mulai dari dikencingi hingga akhirnya dibunuh dengan peluru.


Penulis buku Kapten I Wayan Dipta, yaitu Prof Dr. I Wayan Windia menjelaskan kronologi dibunuhnya pemuda yang memiliki jiwa kesatria tersebut. Hal itu ia jelaskan saat koran ini menemuinya di Gedung Merdeka, Denpasar, Kamis (12/12).


Lelaki yang berasal dari Banjar Gelulung, Sukawati itu menjelaskan Kapten I Wayan Dipta lahir pada 11 April 1926. Berasal dari keluarga yang mempuyai status sosial terkemuka waktu itu sampai-sampai ia bisa bersekolah keluar Bali di Jogjakarta. Ayahnya I Made Bek dikatakan waktu zaman itu sudah bekerja di kantor pemerintahan menjadi juru tulis. 


Meski berada di keluarga yang berada, Kapten Dipta menolak diberlakukan secara berlebihan. “Kapten Dipta sosok yang pemurah dan rendah hati,” jelasnya.


BACA JUGA: 


Kapten Dipta Ditembak di Jaba Pura, Kini Monumennya Minim Perhatian


Rumah Pejuang Kapten Dipta Kini Ditempati Iparnya Berusia 90 Tahun


Kapten Dipta Sempat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional tapi Mandek



Disampaikan, saat bersekolah Kapten Dipta termasuk anak yang pandai. Setelah lulus di Vervolg School di Gianyar ia melanjutkan pada Sekolah Taman Dewasa di Denpasar. Sebagai syarat setiap anak berasal dari Vervolg School sekolah zaman Belanda waktu itu yang melanjutkan di Taman Dewasa harus menempuh dua tahun pada Taman Antara sebagai masa persiapan.


“Karena Kapten Dipta sangat pintar, sehingga hanya satu tahun lewat sedikit ia telah diperbolehkan masuk ke Taman Dewasa. Karena kecakapannya yang meaykinkan para gurunya. Setelah tamat di sana langsung ia melanjutkan pelajaran ke Jogjakarta di Sekolah Menengah Tinggi (SMT) setingkat dengan SMA saat ini,” jelas pria yang selaku Dosen di Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) tersebut.


Pada saat pecahnya revolusi 17 Agustus 1945, pelajar di Jogja meninggalkan bangku sekolah dan terjun memanggul senjata. Mereka mempertahankan kemerdekaan tanah air. Wayan Dipta memilih Bali sebagai tempat pengabdiannya, setelah itu ia menggabungkan diri dengan Badan Perjuangan di Denpasar. Selanjutnya ia ditugaskan menggerakkan perjuangan di daerah Gianyar.


Dalam kesempatan itu dijelaskan Wayan Dipta saat menjabat sebagai Ketua Umum Pemuda Republik Indonesa (PRI) Cabang Gianyar. Yang sebelumnya dipegang oleh Tjokorda Putu (dari Puri Payangan), ketika itu adalah penggawa Kota Gianyar. Sejak itu organisasi PRI meluas di daerah Gianyar.


Diceritakan, tiba-tiba suasana berubah. Suhu politik menaik dengan terbentuknya Pemuda Pembela Negara (PPN) yang dibentuk oleh Puri Gianyar.  Yang nampaknya sebagai organisasi tandingan dari PRI sendiri, sehingga waktu itu suasana menjadi panas dingin tidak menentu. Akhirnya atas penyelidikan badan-badan penyelidik perjuangan keadaan telah mengarah pada ketegangan yang berbahaya.


“Untuk mengindari hal –hal yang tidak diinginkan Wayan Dipta didesak oleh teman-temannya untuk pindah ke Denpasar. Ia diantar oleh Tjokorda Agung dari Puri Singapadu. Secara kolektif pada perkembangan selanjutnya, setelah dibentuk staf komando gabungan PRI yang kemudian berkedudukan di Blabatuh, Wayan Dipta kembali dari Denpasar untuk memimpin perjuangan di daerah Gianyar,” bebernya.


Situasi Kota Gianyar waktu itu semakin panas dan gawat, musuh semakin mendesak basis pertahanan perjuangan. Wayan Dipta terpisah dengan anggota stafnya, setelah rekannya Wayan Taweng berkucing-kucingan dengan musuh melalui desa-desa. Mulai dari Blahbatuh, Pejeng, Singapadu, dan Pagutan Batubulan. Maka bertemulah mereka di Denpasar, Wayan Dipta dan teman-temannya dan berupaya kembali menguasai keadaan di Gianyar.


Namun takdir telah menentukan jalan yang lain, dengan tidak terduga mereka terjebak dalam perangkap musuh. Peristiwa itu terjadi pada 15 Maret 1946, setelah Wayan Taweng dan temannya dikirim ke Gianyar. Maka pada 19 Maret 1946 Wayan Dipta diantar oleh iring-iringan kendaraan tentara Nica atau Belanda ke Gianyar dan diserahkan kepada penguasa. “Peristiwa itu ditonton oleh masyarakat Kota Gianyar dan sekitarnya,” jelas Windia.


Mulailah orang-orang antiperjuangan itu atau PPN tersebut melampiaskan kekecewaannya, Wayan Dipta yang masih muda remaja itu dipermalukan sangat kasar dan sadis di luar perikemanusiaan. “Kapten Dipta dijemur, dicincang, digantung, badannya diisi daun lateng (daun pembuat gatal), disiram air cabe, dikencingi, diolesi tahi dan banyak lagi siksaan-siksaan yang bersifat kebinatangan. Namun Wayan Dipta tidak berucap kesakitan,” bebernya.


Selain itu, pemuda yang anti PRI atau yang dikenal dengan PPN itu pun melontarkan kata-kata keji kepada Kapten Dipta. Kata –kata itu pun terdiri atas “pemberontak!” “orang wangle berani kepada raja!” “anjing!” “endas leak!” dan kata-kata kasar lainnya. Ada pula ucapan-ucapan manis tetapi sinis yang mengatakan “Raja Muda”.


Julukan Raja Muda itu karena ia selaku Ketua PRI Cabang Gianyar pakaiannya kaos tangan dan pedang panjang. Jenis pakaian demikian biasa dijadikan busana raja muda Stambul  zaman Hindia Belanda dulu. Meski demikian, Wayan Dipta tetap tidak mau membuka rahasia perjuangan. Sampai –sampai suatu hari ayah kandungnya, I Made Bek ditangkap dan disiksa di depannya. Itu dilakukan oleh PPN agar Wayan Dipta lemah hatinya.


“Namun Wayan Dipta hanya membungkam, pernah pula Wayan Dipta dan ayahnya diikat dijadikan satu punggung beradu punggung. Itu pun tidak mempan memeras pengakuannya,” jelas Prof Windia.


Dilanjutkan agaknya orang-orang PPN itu putus asa. Sehingga pada 12 April 1946 setelah Wayan Dipta diarak keliling Kota Gianyar selanjutnya ia diangkut ke Setra Gede Sukawati bersama Ketut Lanus dari Banjar Tebuana, Sukawati. Dengan pengawalan ketat mereka diturunkan di depan Pura Dalem Gede Sukawati.


Mereka diperintahkan berdiri berjejer di bawah pohon beringin menghadap ke selatan. Sepintas diungkapkan bagai seorang komandan dengan seorang ajudannya. Sesaat sebelum penembak meletuskan senapannya, Wayan Dipta akan ditutup matanya. “Ia menolak dan mengatakan salam merdeka!, peluru pertama tidak berhasil menghabisi nyawanya. Dengan tenang Wayan Dipta minta agar tembakan diulang lagi. Baru setelah ditembak ulang, ia roboh merangkul bumi pertiwi bersama Ketut Lanus teman senasibnya,. Sedangkan ayahnya tidak dibunuh,” paparnya.


Setelah itu jenazah Wayan Dipta dikebumikan di sebelah utara Pura Dalem tersebut oleh Wayan Nasa dari Banjar Palak Sukawati. Wayan Dipta yang berasal darj Banjar Teges Kaja, Kelurahan Gianyar itu gugur dalam usianya yang sangat muda, yaitu 20 tahun. Perjuangannya pun dilanjutkan oleh adik kandungnya Made Japa yang lanjut bergerak ke garis depan dengan Induk Pasukan Resimen Ngurah Rai.


“Kapten Dipta lahir 11 April 1926 dan gugur 12 April 1946. Jadi lebih sehari dari ulang tahun kelahirannya yang ke 20. Paska ditembak kerangka jenazahnya diaben pada 21 Juni 1962 di Kuburan Beng Gianyar menurut adat Agama Hindu Dharma,” imbuh Prof Windia.


Disinggung mengapa Wayan Dipta sampai dibunuh oleh PPN pasukan yang dibuat oleh Puri Gianyar kala itu? Ia pun menyampaikan  karena PRI merupakan hanya segelintir pemuda yang mau merebut kekuasaan negara ini dari tangan penjajah. Sedangkan PPN  buatan Puri Gianyar memihak dengan penjajah. “Waktu itu kan kerajaan hampir semua pro dengan Belanda. Sedangkan PRI melakukan perlawanan, jelas dihabisi. Maka PRI sampai-sampai membuat semboyan PPN bukan Pemuda Pembela Negara, melainkan Penjilat Pantat Nica. Karena mereka yang tergabung merupakan penghianat negara yang sejatinya,” ungkapnya.


Dalam kesempatan itu, Prof Windia menambahkan sudah menjadi rahasia umum, bahkan sudah ditulis dimana-mana. Dan sudah ada surat dari Ketua Markas Veteran Bali dulu, bahwa Agung Gde Agung pengkhianat, dan sudah ada tulisan bahwa persatuan anak veteran tidak mau menjadikan Agung Gde Agung sebagai pahlawan nasional. “Waktu Agung Gde Agung akan dijadikan pahlawan kita menentang, justru dia pengkhianat karena membentuk PPN yang menghancurkan anak muda yang ingin merebut kemerdekaan,” tegasnya.


Pertumpahan darah itu pun dikatakan setelah Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan Indonesia ini merdeka. Waktu itu dikatakan juga Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT) Anak Agung Gde Agung. Yaitu dari tahun 1946 sampai  1949, sedangkan  gerakan PRI itu pun telah terjadi di Bali mulai tahun 1945. Ketika itu tanggal 23 Agustus 1945 baru sampainya di Bali berita Indonesia sudah merdeka.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar