GIANYAR, BALI EXPRESS - Merinding. Itulah yang koran ini rasakan ketika mengunjungi monumen tempat ditembaknya pahlawan putra asli Gianyar, Bali, Kapten I Wayan Dipta. Pasalnya lokasinya berada di Jaba Pura Dalem Gede Desa Adat Sukawati, Gianyar, Bali, yang diapit oleh kuburan desa setempat. Selain itu tempatnya pun tepat di bawah pohon beringin dan di pinggir sebuah palinggih.
Bedesa Adat Sukawati, I Nyoman Suantha saat ditemui Senin (9/12) menyampaikan sejarah singkat keberadaan dua monumen yang ada di jaba pura dalem tersebut. Tepat pada utara pemedal Pura Dalem merupakan monumen tempat ditembaknya Kapten I Wayan Dipta. Sedangkan di selatan pura merupakan monumen disemayamkannya sebanyak satu regu abu kerangka jenazah pahlawan pejuang kemerdekaan yang tergabung pada Pasukan Ciung Wanara.
Kapten Dipta, Dulu Dikencingi lalu Dibunuh, Kini Namanya Mendunia
Rumah Pejuang Kapten Dipta Kini Ditempati Iparnya Berusia 90 Tahun
Kapten Dipta Sempat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional tapi Mandek
“Monumen ini tempat ditembaknya Kapten I Wayan Dipta, tepat di bawah pohon beringin ini. Tetapi dulunya pohon beringin yang ada sangat rindang sekali. Sedangkan yang di selatan merupakan monumen tempat disemayamkan para pahlawan yang berjuang di Sukawati dan yang tergabung dalam pasukan Ciung Wanara, salah satunya Kapten Dipta juga,” bebernya.
Disinggung dengan ditembaknya Kapten Dipta disana, Suantha menyampaikan sesuai dengan isi prasati di monument penembakan tersebut tertanggal 12 April 1946. Sehingga sampai saat ini monumen itu pun dijaga dan dirawat oleh desa setempat. Karena merupakan salah satu tempat yang bersejarah di Gianyar, khususnya di Desa Adat Sukawati.
Disampaikan setiap memperingati hari kemerdekaan maupun hari pahlawan, berbagai perayaan upacara pun kerap dilakukan di sana. Hanya saja untuk proses pemeliharaan monumen tersebut dikatakan masih kurang dari pemerintah. Hal itu ia sampaikan karena sempat mengajukan proposal perbaikan tembok monumen, namun tidak kunjung dapat bantuan lantaran kurangnya memo dari pejabat terkait.
“Setiap hari kemerdekaan dan hari pahlawan pasti dilakukan prosesi upacara di sini. Kalau dari desa belum melakukan, hanya saja yang aktif itu dari perkumpukan anak-anak veteran. Sedangkan untuk perawatannya, kami di desa hanya baru bisa sampai bersih-bersih saja yang dilakukan oleh juru sapuh kami di pura,” ungkapnya.
Sedangkan ditanya dengan membangun penyengker monumen yang tampak masih baru, Suantha mengatakan dibuat oleh desa setempat. Namun terlebih dulu berkoordinasi dengan yang menaungi monumen tersebut, salah satunya adalah perkumpulan anak veteran. “Kami di desa adat yang membuat penyengkernya dengan berkoordinasi terlebih dahulu. Sempat mengajukan proposal tapi kendala pada yang mengawalnya, sehingga tidak terealisasi,” jelas bendesa yang menaungi 14 banjar tersebut.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan pada monumen penembakan Kapten Dipta. Sesuai pada prasati yang ada tertulis, catatan sejarah disini gugur ditembak NICA Ketua Markas Besar PRI Daerah Gianyar Kapten I Wayan Dipta. Dan penghubung istimewa PRI daerah Sukawati Sersan Mayor I Ketut Lanus pada tanggal 12 April 1946.
Ketika piodalan di Pura Dalem Gede Sukawati berlangsung, pihaknya pun menghaturkan upakara di monument tersebut. Upakaranya hanya terdiri atas banten ayaban suci dan satu pejati. Tujuannya pun tidak jauh dari memohon kesematan warganya yang kerap melakukan aktivitas di sana. Terdiri atas siswa yang menggunakan latihan baris berbaris hingga anak-anak yang bermain di wantilan Pura Dalem tersebut.
“Harapan saya agar pihak terkait bisa membantu dalam biaya perawatan monumen ini. Mungkin biayannya tidak terlalu besar, namun keikutsertaan dalam menjaga tempat bersejarah ini kedepannya. Mengingat lokasinya di bawah pohon beringin tidak menutup kemungkinan ada saja dahan pohon yang jatuh dan menimpa monumen maupun temboknya,” tandas Suantha.
Sedangkan pada Kamis lalau (5/12) seluruh pemain dan manajemen Bali United melakukan ziarah ke Makam Pahlawan Kapten I Wayan Dipta, di Jaba Pura Dalem Gede Sukawati itu. Kegiatan itu berlangsung tidak kurang dari satu jam, rombongan datang sekitar pukul 13.00 dengan tujuan untuk mengenang dan mengucapkan terima kasih atas apa yang diraih oleh club tersebut tahun ini. Saat para pemain kesebelasan itu turun dari bis, beberapa warga dan anak-anak di sana rebutan untuk foto bersama.
“Beberapa hari lalu juga ada rombongan dari Bali United berziarah ke sini, mereka datang untuk mengenang jasa pahlawan yang dipakai nama lapangannya bertanding dan latihan. Saat itu juga saya sampaikan agar ikut menjaga monumen ini, supaya tidak hanya datang berziarah dan pergi begitu saja. Tetapi ikut menjaga bagian dari sejarah ini dan yang membawa mereka sampai sebesar sekarang,” bebernya.
Sedangkan pelatih Bali United, Stefano Cugarra Teco menjelaskan kedatangannya ke Makam Pahlawan Kapten I Wayan Dipta itu sebagai ucapan terimakasih. Karena segala yang diraih oleh clubnya saat ini juga berkat dari keberadaan pahlawan yang dipergunakan namanya di stadion untuk bertanding dan berlatih selama ini. “Kedatangan kami sebagai ungkapan terimakakasih dengan melakukan ziarah ke tempat ini,” jelasnya.
Setelah melakukan ziarah, mereka pun melakukan foto bersama di monumen disemayamkan abu jenazah pahlawan Kapten I Wayan Dipta dan 19 anggota lainnya. Sedangkan pemain yang Hindu,melanjutkan dengan melakukan persembahyangan di Pura Dalem Gede Sukawati. Lokasinya pun dekat dengan makam pahlawan tersebut, mereka bersembahyang dengan menghaturkan pejati dan beberapa sarana upacara.
Suantha menambahkan ia sebagai Bendesa mengapresiasi atas perhatian club dan manajemen, karena tidak lupa dengan sejarah serta jasa pahlawan. “Seperti nama stadion yang dipergunakan oleh Bali United namanya Kapten I Wayan Dipta. Mudah-mudahan bisa bersama untuk memperhatikan keberadaan monumen yang ada saat ini. Mengingat jasa para pahlawan memang harus kita hormati dan kita kenang. Bangsa yang besar itu bangsa yang mengingat jasa pahlawannya,,” imbuh Suantha.
Editor : I Putu Suyatra