Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rumah Pejuang Kapten Dipta Kini Ditempati Iparnya Berusia 90 Tahun

I Putu Suyatra • Senin, 16 Desember 2019 | 21:50 WIB
Rumah Pejuang Kapten Dipta Kini Ditempati Iparnya Berusia 90 Tahun
Rumah Pejuang Kapten Dipta Kini Ditempati Iparnya Berusia 90 Tahun

GIANYAR, BALI EXPRESS - Dua hari menelusuri jejak rumah Kapten I Wayan Dipta, akhirnya salah satu keluarganya bisa ditemui. Berawal pada Sabtu pagi (7/12), koran ini menyambangi salah satu warga di Banjar Teges, Kelurahan Gianyar, Bali, dan mengarahkan ke rumah Kapten Dipta.


Senang bercampur sedih pun terasa saat salah satu warga yang enggan dikorankan namanya itu mengatakan bahwa di rumah Kapten Dipta saat ini dalam keadaan sepi dan tidak ada yang menempati setelah ipar Kapten Dipta sakit patah tulang yang sebelumnya memang tinggal di sana.


“Kalau sekarang pas Hari Saraswati kemungkinan sepi di sana gus. Kalau hari tertentu saja keluarganya pulang. Tidak ada upacara tertentu, ya tidak pulang, karena semua keluarganya punya rumah di luar,” ungkapnya.


BACA JUGA 


Kapten Dipta, Dulu Dikencingi lalu Dibunuh, Kini Namanya Mendunia


Kapten Dipta Ditembak di Jaba Pura, Kini Monumennya Minim Perhatian


Kapten Dipta Sempat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional tapi Mandek


Ia pun menawarkan mengantarkan sampai depan rumah pahlawan yang meninggal dalam usia 20 tahun itu. Sambil berjalan kaki sekitar 100 meter, pria yang mengaku asli Banjar Teges itu pun sedikit tentang keberadaan keluarga Kapten Dipta. Lokasi rumahnya ternyata tidak jauh dari Pasar Umum Gianyar, tepat di timur pasar, rumah nomor dua dari selatan di Jalan Berata Gianyar dengan pintu gerbang tertutup di dalamnya tedapat angkul-angkul (pintu rumah) berwarna putih.


 


“Ini sudah rumahnya, tapi melihat pintunya yang terkunci dari luar dipastikan sudah kosong rumahnya. Keluarganya ada yang tinggal di Jalan Kebo Iwa Gianyar, tapi hari tertentu saja mereka pulang untuk sembahyang atau kegiatan upacara lainnya,” bebernya sambil pamit.


 


Tepat di depan rumah Kapten Dipta, salah satu warga lainnya yang mengaku bernama I Wayan Suena menyampaikan pintu rumah memang selalu tertutup. Bahkan keseharian di sekitar rumah hampir tidak ada kegiatan, terkecuali di depan rumah yang sudah diisi warung dan ada yang mengontraknya. “Kalau hari biasa ya tidak ada orang, kecuali ada kegiatan adat baru ada,” jelasnya.


 


Mendapatkan informasi seperti itu, membuat koran ini semakin penasaran dan mencari solusi lainnya. Sehingga memutuskan kembali lagi esok harinya, yaitu tepat pada hari suci Banyu Pinaruh. Lantaran secara logika, saat Banyu Pinaruh pasti ada keluargnya yang pulang untuk menghaturkan banten di pemerajannya.


 


Pada Minggu pagi (8/12) tepat pada pukul 07.30 koran ini kembali ke depan rumah Kapten Dipta. Setelah menunggu sekitar satu jam lamanya, akhirnya salah seorang warga menyampaikan bahwa ada keluarga Kapten Dipta datang dan membuka gerbang pintunya yang selalu tertutup tersebut. Saat ditanya memang benar mereka adalah keluarga pahlawan tersebut, yang terdiri atas empat orang  dan memeprsilahkan masuk ke dalam rumahnya.


 


Salah satu keluarga Kapten I Wayan Dipta, yaitu Ni Wayan Suwatri  menjelaskan di rumahnya itu sekarang memang sepi. Suwatri sendiri merupakan menantu dari adik Kapten Dipta. Ia menjelaskan Kapten Dipta merupakan empat bersaudara. Terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan. “Kapten I Wayan Dipta bersaudara dua laki- laki dan dua perempuan. Pertama Kapten I Wayan Dipta sendiri, kedua Made Japa,  selajutnya yang perempuan ada Ni Made Sruti, dan Ni Nyoman Srutu,” ungkapnya.


Disinggung mengapa rumahnya tidak ada yang menempati, Suwatri pun menyampaikan rata-rata keturunan dari Kapten Dipta tinggal di luar Gianyar. Hanya saja ia bersama keluargnya tinggal di daerah Jalan Kebo Iwa Gianyar, supaya bisa pulang pergi ke rumah tuanya tersebut. Selain itu juga masih aktif di banjar ketika ada kegiatan adat maupun kegiatan sosial lainnya.


 


“Biasanya ibu mertua saya di sini, yaitu Ni Luh Made Sekar Harwati. Beliau istri Bapak Made Japa dan ipar dari Kapten I Wayan Dipta. Tapi beberapa waktu lalu jatuh di rumah sini dan tulang pahanya patah, kebetulan ibu dulu tinggal sama pembantu di rumah, saya pulang-pergi jenguk juga. Jadinya sekarang diajak sama  anaknya yang nomor empat itu di Denpasar. Sehingga sampai sekarang rumah kosong,” jelasnya.


 


Iparnya pun dikatakan sudah berusia 90 tahun, karena dari rumah sakit hanya memberikan obat penghilang rasa nyeri membuat ipar Kapten Dipta itu hanya dirawat di rumah anaknya nomor empat, Ni Ketut Sri Handayani.  Diungkapkan juga, luas areal rumahnya mecapai 12 are, mulai dari depan hingga belakang tepat di pemerajan.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar